Penelitian UKHSA mengatakan, perlindungan yang diberikan suntikan vaksin terhadap gejala infeksi Omicron tampaknya berkurang setelah sekitar 10 minggu. Meskipun, perlindungan terhadap rawat inap dan penyakit parah kemungkinan akan bertahan lebih lama.
“Analisis menunjukkan sinyal awal yang menggembirakan bahwa orang yang mengontrak varian Omicron mungkin memiliki risiko rawat inap yang relatif lebih rendah daripada mereka yang mengontrak varian lain,” ujar Kepala Eksekutif UKHSA, Jenny Harries.
“Kasus saat ini sangat tinggi di Inggris, dan bahkan proporsi yang relatif rendah yang memerlukan rawat inap dapat mengakibatkan sejumlah besar orang menjadi sakit parah,” imbuhnya.
Menteri Kesehatan Inggris, Sajid Javid mengatakan, informasi yang muncul tentang Omicron adalah “berita yang menggembirakan". Namun, Javid mengatakan, itu “belum jelas seberapa besar risiko itu berkurang jika dibandingkan dengan varian Delta”.
Analisis mengikuti dua penelitian, dari Imperial College London dan peneliti Skotlandia, yang menemukan pasien dengan Omicron antara 20 persen dan 68 persen lebih kecil kemungkinannya untuk memerlukan perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan delta.
Data dari Afrika Selatan yang merupakan tempat varian pertama kali terdeteksi, juga menunjukkan Omicron mungkin lebih ringan di sana.
Bahkan, jika studi awal terbukti, varian baru diketahui masih dapat membanjiri sistem kesehatan karena banyaknya infeksi. UKHSA mengatakan, Omicron tampaknya dapat menginfeksi ulang orang lebih mudah daripada varian sebelumnya. Sebanyak 9,5 persen kasus Omicron ditemukan pada orang yang sudah memiliki
covid-19.