Inggris merawat 132 pasien covid-19 varian Omicron. Foto: AFP
Inggris merawat 132 pasien covid-19 varian Omicron. Foto: AFP

132 Pasien Omicron Dirawat di Rumah Sakit Inggris, 14 Meninggal

Medcom • 24 Desember 2021 10:55
London: Pemerintah Inggris melaporkan, terdapat 132 pasien dengan infeksi varian Omicron telah dirawat di rumah sakit pada Senin, 20 Desember 2021. Sejumlah 14 pasien diantaranya meninggal dunia.
 
Dilansir dari Newsweek, Jumat, 24 Desember 2021, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengatakan pada Kamis, data awal menunjukkan bahwa varian Omicron tidak terlalu parah.
 
UKHSA menjelaskan bahwa penderita 50 hingga 70 persen lebih kecil kemungkinannya memerlukan rawat inap dibandingkan dengan varian Delta. Mereka menerangkan, orang yang terinfeksi varian Omicron diperkirakan 31 persen hingga 45 persen lebih kecil kemungkinannya untuk pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit, daripada mereka yang memiliki varian Delta.

Namun, UKHSA memperingatkan, temuan itu “awal dan sangat tidak pasti” karena sejumlah kecil pasien Omicron di rumah sakit. Selain itu, terdapat fakta bahwa mayoritas dari mereka lebih muda. 14 pasien yang meninggal berusia antara 52 dan 96 tahun.
 
Para ilmuwan juga mengatakan, setiap penurunan keparahan infeksi perlu dipertimbangkan terhadap kecepatan infeksi varian Omicron versus varian Delta. Sebuah fakta bahwa Omicron dapat menghindari vaksin dengan lebih baik.
 
Saat ini, Omicron menjadi varian dominan di Inggris. Kasus meningkat lebih dari 50 persen dalam seminggu. Pihak berwenang Inggris melaporkan 119.789 kasus covid-19 per Kamis. Angkanya merupakan yang tertinggi dalam pandemi, dan hari kedua jumlahnya telah melampaui 100 ribu.
 

 
Penelitian UKHSA mengatakan, perlindungan yang diberikan suntikan vaksin terhadap gejala infeksi Omicron tampaknya berkurang setelah sekitar 10 minggu. Meskipun, perlindungan terhadap rawat inap dan penyakit parah kemungkinan akan bertahan lebih lama.
 
“Analisis menunjukkan sinyal awal yang menggembirakan bahwa orang yang mengontrak varian Omicron mungkin memiliki risiko rawat inap yang relatif lebih rendah daripada mereka yang mengontrak varian lain,” ujar Kepala Eksekutif UKHSA, Jenny Harries.
 
“Kasus saat ini sangat tinggi di Inggris, dan bahkan proporsi yang relatif rendah yang memerlukan rawat inap dapat mengakibatkan sejumlah besar orang menjadi sakit parah,” imbuhnya.
 
Menteri Kesehatan Inggris, Sajid Javid mengatakan, informasi yang muncul tentang Omicron adalah “berita yang menggembirakan". Namun, Javid mengatakan, itu “belum jelas seberapa besar risiko itu berkurang jika dibandingkan dengan varian Delta”.
 
Analisis mengikuti dua penelitian, dari Imperial College London dan peneliti Skotlandia, yang menemukan pasien dengan Omicron antara 20 persen dan 68 persen lebih kecil kemungkinannya untuk memerlukan perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan delta.
 
Data dari Afrika Selatan yang merupakan tempat varian pertama kali terdeteksi, juga menunjukkan Omicron mungkin lebih ringan di sana.
 
Bahkan, jika studi awal terbukti, varian baru diketahui masih dapat membanjiri sistem kesehatan karena banyaknya infeksi. UKHSA mengatakan, Omicron tampaknya dapat menginfeksi ulang orang lebih mudah daripada varian sebelumnya. Sebanyak 9,5 persen kasus Omicron ditemukan pada orang yang sudah memiliki covid-19.
 

 
Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) memperkirakan bahwa sekitar 1 dari 45 orang di rumah tangga pribadi di Inggris atau 1,2 juta orang memiliki covid-19 dalam seminggu hingga 16 Desember. Angkanya disebut menjadi level tertinggi yang terlihat dalam pandemi.
 
November lalu, Pemerintah Konservatif Inggris memberlakukan kembali aturan yang mewajibkan masker wajah di toko-toko. Mereka juga memerintahkan orang untuk menunjukkan bukti vaksinasi atau tes virus korona negatif, sebelum memasuki klub malam dan tempat-tempat ramai lainnya dalam upaya untuk memperlambat penyebaran Omicron.
 
Pemerintah Inggris mengatakan pada Kamis, pihaknya tidak akan memberlakukan pembatasan baru sebelum Natal, namun mungkin akan melakukannya segera setelahnya.
 
Pejabat setempat diketahui juga mendesak orang untuk dites secara teratur dan mengurangi bersosialisasi. Mayoritas orang di Inggris telah mengindahkan saran itu, membuat bisnis hiburan dan perhotelan terguncang pada waktu yang seharusnya menjadi waktu tersibuk mereka sepanjang tahun.
 
Pemerintah pun telah menawarkan hibah dan pinjaman untuk mendukung restoran, bar, teater, dan tempat-tempat lain. Namun, banyak yang mengatakan itu tidak cukup untuk menghentikan mereka bangkrut.
 
Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Inggris berlaku di negara maju tersebut. Bagian lain dari Inggris, seperti Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara telah menetapkan batasan yang sedikit lebih ketat, termasuk penutupan klub malam.
 
Pemerintah berharap booster vaksin akan memberikan benteng melawan Omicron, seperti yang ditunjukkan oleh data, dan telah menetapkan tujuan untuk menawarkan semua orang berusia 18 tahun ke atas suntikan ketiga pada akhir Desember mendatang. (Nadia Ayu Soraya)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FJR)
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan