Menlu Rusia Sergey Lavrov bertemu Menlu Myanmar Wunna Maung Lwin. Foto: AFP
Menlu Rusia Sergey Lavrov bertemu Menlu Myanmar Wunna Maung Lwin. Foto: AFP

Rusia Dukung Upaya Junta Myanmar Stabilkan Negara

Fajar Nugraha • 04 Agustus 2022 06:43
Yangon: Rusia mendukung upaya junta Myanmar untuk ‘menstabilkan’ negara yang dilanda krisis. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Rabu 3 Agustus 2022.
 
Myanmar berada dalam kekacauan sejak perebutan kekuasaan militer tahun lalu, dengan lebih dari 2.100 orang tewas dalam tindakan keras terhadap perbedaan pendapat, menurut pemantau lokal.
 
"Kami bersolidaritas dengan upaya (oleh junta) yang bertujuan menstabilkan situasi di negara ini," kata Sergei Lavrov selama pembicaraan dengan Menlu Wunna Maung Lwin di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, menurut kantor berita TASS, yang dikutip dari Channel News Asia, Kamis 4 Agustus 2022.
 
Baca: Menlu ASEAN Sepakat Keluarkan Komunike Bersama AMM Terkait Myanmar.

Rusia adalah sekutu utama dan pemasok senjata junta yang terisolasi, dan telah dituduh oleh kelompok hak asasi mempersenjatai militer dengan senjata yang digunakan untuk menyerang warga sipil sejak kudeta tahun lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tahun depan, Anda akan mengadakan pemilihan legislatif dan kami berharap Anda sukses membuat negara Anda lebih kuat dan lebih sejahtera," tambah Lavrov, merujuk pada usulan pemilihan Agustus 2023 yang dikatakan penentang kudeta tidak akan bebas dan tidak adil.
 
Lavrov dijadwalkan melakukan perjalanan ke pertemuan para menteri luar negeri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Kamboja di mana perwakilan junta tidak disertakan karena penolakannya untuk terlibat dalam dialog dengan lawan-lawannya.
 
Kunjungannya dilakukan setelah junta memicu kemarahan internasional baru pekan lalu ketika mengumumkan telah mengeksekusi empat tahanan. Eksekusi dilakukan termasuk kepada seorang mantan anggota parlemen dan seorang aktivis demokrasi, dalam penggunaan hukuman mati pertama di negara itu dalam beberapa dasawarsa.

Kecewa

ASEAN sendiri semakin frustrasi atas kurangnya kemajuan Myanmar dalam lima poin konsensus perdamaian yang disepakati tahun lalu.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif