Melansir dari episode siniar terbaru yang tayang di kanal YouTube pribadi Mahfud MD, Selasa (13/1), Mahfud menekankan bahwa menyebut seseorang mengantuk bukanlah hinaan. Episode itu bertajuk “Mahfud MD Buka Suara: Kasus Pandji, Yaqut & Korupsi Pajak.”
"Mari kita kembangkan ini. Karena di TV saya lihat tuh, ada anggota DPR yang berdebat bahwa orang bilang ngantuk itu menghina orang. Loh, masa orang bilang ngantuk menghina?" ujar Mahfud.
Kemudian, pakar hukum tata negara itu bertanya kepada host, apakah dia tersinggung jika disebut mengantuk. Lawan bicara itu pun menyatakan bahwa dirinya tidak merasa terhina oleh Mahfud karena mengantuk.
"Ngantuk itu bukan perbuatan jelek, bukan situasi jelek. Sehingga, seumpama Anda tersinggung pun dibilang ngantuk, kan, saya bukan menghina. Wong itu masalah keadaan biasa ngantuk," tegas Mahfud.
Di kesempatan yang sama, Mahfud juga menyinggung pihak yang mengartikan kondisi mata Gibran sebagai penyakit ptosis. Menurutnya, ptosis disebabkan oleh kelelahan, banyak pikiran, hingga ada juga yang berkaitan dengan masalah kejiwaan.
Namun, jika Gibran memang betul mengidap Ptosis, mantan cawapres itu tetap merasa Pandji tidak bisa dibilang menghina putra sulung mantan PresidenJoko Widodo.
"Kalau betul Ptosis seperti itu, berarti Pandji tidak menghina. Karena Pandji hanya bilang ngantuk. Yang menjelaskan arti ptosis itu yang menghina. Kalau itu dikaitkan dengan masalah kejiwaan, masalah penyakit yang tidak boleh diketahui orang, wong Pandji hanya bilang ngantuk," tambahnya.
Menurut Mahfud, pernyataan Pandji baru bisa dikatakan menghina ketika situasi ‘ngantuk’ disamakan dengan kondisi “orang gila”, “pemabuk”, hingga “pecandu narkoba.” Ia kembali menekankan kejelasan substansi dari materi komedi tersebut jika ingin diproses secara pidana.
Kritik Tompi Terhadap Pandji Pragiwaksono
Beberapa waktu lalu, dokter kecantikan sekaligus musisi Tompi menyoroti salah satu materi Pandji yang menyinggung kondisi fisik Wapres RI Gibran, khususnya terkait tampang mata sayu Gibran yang dianggap terlihat mengantuk.Tompi pun menyayangkan candaan tersebut karena dinilai mengarah ke bentuk penghinaan tubuh (body shaming). Pelantun hit "Menghujam Jantungku" itu lantas menjelaskan bahwa kondisi mata yang tampak sayu bukanlah hal yang layak dijadikan bahan lelucon, terlebih jika dikaitkan dengan kondisi medis.
"Apa yang terlihat 'mengantuk' pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," tulis Tompi melalui akun Instagram @dr_tompi, Sabtu lalu (3/1).
"PTOSIS: Meskipun bisa dikoreksi secara operasi, tapi tentu ini menjadi kemerdekaan setiap pasien untuk mau (memilih) atau tidak," lanjutnya.
Dokter berusia 47 tahun itu menegaskan bahwa kritik dan satir dalam humor adalah hal yang sah. Namun, menurutnya, menyerang kondisi fisik seseorang bukanlah bentuk kecerdasan dalam berkomedi.
"Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir," tegas Tompi.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News