Patung Bung Karno di Ende (Foto: Medcom/Arthuro)
Patung Bung Karno di Ende (Foto: Medcom/Arthuro)

Kisah Soekarno dan Hobinya Menonton Film

Hiburan montase film 75 Tahun Indonesia Merdeka
Dhaifurrakhman Abas • 17 Agustus 2020 11:12

Menjadi Penulis Naskah di Flores


Kegemaran Soekarno sebagai penulis naskah terbentuk di Flores, Ende. Hal ini berawal dari bergabungnya Soekarno di Partai Nasional Indonesia. Di sana, Soekarno dikenal kritis dan memiliki semangat perjuangan tinggi. Namun pandangan-pandangannya yang tajam serta semangat perjuanganya membuat Belanda yang kala itu menjajah nusantara, geram.
 
Alhasil, Soekarno dan tiga rekannya bernama Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja dipenjara di penjara Banceuy pada Desember 1929 selama delapan bulan. Soekarno kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin hingga 31 Desember 1931.
 
Ketika dibebaskan, perangai Soekarno tak berubah. Dia makin membara melawan Belanda. Puncaknya, Soekarno kembali diciduk dan diasingkan ke Flores Ende bersama istrinya kala itu Inggit Ganarsih. Hal ini berdasarkan perintah langsung dari Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak diasingkan ke Flores, hobi Soekarno dengan dunia film tak pupus begitu saja. Di Flores, Soekarno mendirikan grup sandiwara bernama Tonil Kelimutu yang diambil dari nama danau tak jauh dari rumah tahanannya di sana.
 
Soekarno berperan sebagai penulis naskah hingga mengurus dekorasi panggung Tonil Kelimutu. Sementara istrinya, Inggit, bekerja mengurus kostum sandiwara buat 47 orang anggota Tonil Kelimut yang terbentuk saat itu.
 
Selama membentuk kelompok Tonil Kelimutu, Soekarno menghasilkan 13 naskah cerita. Judul naskah yang digarap Soekarno di antaranya Dokter Setan, Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, Kut Kutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Nggera Ende, Amoek, Rahasia Kelimutu II, Sang Hai Rumba, dan 1945.
 
Grup tersebut sering tampil di gedung bioskop setempat. Tak jarang sandiwara mereka disuguhkan dengan tarian adat untuk membangkitkan semangat untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Gemar Nonton ketika Jadi Presiden


Perjuangan Soekarno dan para pejuang meraih kemerdekaan terwujud pada 17 Agustus 1945. Hal ini ditandai dengan pembacaan Proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945. Soekarno lantas menjabat sebagai presiden pertama RI periode 1945-1967.
 
Setelah menjabat presiden pada 1945 kegemaran Soekarno dalam menonton film makin menjadi-jadi. Di waktu luangnya Soekarno biasa menyaksikan sampai tiga film setiap pekannya melalui bioskop kecil yang didirikan di dalam Istana Negara.
 
Beberapa film yang diketahui pernah disaksikan Soekarno di sana berjudul Darah dan Doa, karya Usmar Ismail pada 1950. Dalam asa jabatannya sebagai presiden, Soekarno turut mendorong pembuatan film berjudul Tauhid garapan sutradara Asrul Sani. Film ini berkisah tentang rukun kelima dalam Agama Islam dan dirilis pada 1964.
 

 
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif