Patung Bung Karno di Ende (Foto: Medcom/Arthuro)
Patung Bung Karno di Ende (Foto: Medcom/Arthuro)

Kisah Soekarno dan Hobinya Menonton Film

Hiburan montase film 75 Tahun Indonesia Merdeka
Dhaifurrakhman Abas • 17 Agustus 2020 11:12
Kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tidak melulu menyoal perjuangan kemerdekaan. Setidaknya semasa mudanya, Soekarno, diketahui memiliki beberapa kegemaran. Menonton dan menulis naskah sandiwara salah satunya.
 
Mengutip Cindy Adams di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno selalu menyempatkan pergi ke bioskop untuk menyaksikan film dalam tempo sekali seminggu. Kegiatan itu dilakukannya ketika masih indekos di rumah gurunya yang merupakan pemimpin Sarekat Islam, H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya pada awal 1920-an.
 
"Sekali dalam seminggu aku menikmati satu?satunya kesenanganku. Film. Aku sangat menyukainya," kata Soekarno, mengutip Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sang proklamator menyaksikan film di bioskop dari tempat yang paling murah yakni belakang layar. Pada masa itu, ruangan bioskop dibagi menjadi dua bagian, ruangan kelas utama dan ruangan di baliknya. Adapula tempat paling murah di belakang layar menjadi tempat Soekarno menyaksikan film.
 
"Betapapun, caraku menonton sangat berbeda dengan anak?anak Belanda. Aku duduk ditempat yang paling murah. Coba pikir, keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanya dapat menyewa tempat di belakang layar," terang dia.
 
Film yang tersaji di Indonesia kala itu merupakan film bisu karya Belanda. Film era 1920-an belum dilengkapi dengan audio dengan suara menggelegar seperti sekarang. Jadi Soekarno ketika itu menyaksikan film berbahasa Belanda dari belakang layar secara terbalik.
 
"Di waktu itu belum ada film bicara. Aku harus membaca teksnya dan terbalik dan masih dalam bahasa Belanda! lama?kelamaan aku menjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat dengan cepat membaca teks itu dari kanan ke kiri," ucap Soekarno.
 
Soekarno mengaku harus menikmati cara menonton seperti itu karena tidak punya uang banyak. Dia tak menyoal. Namun mengaku kesal kalau yang sedang disaksikannya film tinju. Menonton dari balik layar membuatnya kesulitan menerka pukulan yang dilayangkan.
 
"Aku tidak peduli, karena tak ada cara lain lagi. Bahkan aku bersyukur karena masih bisa menyaksikannya. Saat satu?satunya yang menyebabkan aku kecewa ialah, bila dipertunjukkan film adu tinju. Aku sama sekali tak dapat menaksir, tangan siapa yang melakukan pukulan," terang dia.

 
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif