Kritik Penyaluran Beasiswa
Dalam podcast yang dipandu oleh Kemal Palevi pada 2024, Cinta Laura mengaku sedih melihat beasiswa negara jatuh ke tangan anak dari keluarga sangat mampu. Saat itu, mereka sedang membahas kontroversi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).“Sesuatu yang bikin aku sedih tentang beasiswa ini, terkadang tidak diberikan kepada orang yang tepat, dalam arti tidak diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan,” ujar Cinta Laura.
Ia mengungkapkan salah satu kenalannya dari kelompok masyarakat kaya justru menerima dana bantuan tersebut.
“How do I know this? Aku punya kenalan, I'm not gonna say who, dia itu anak orang kaya banget. Kaya banget, enggak perlu beasiswa, orang tuanya tinggal ‘cring!’ (Bisa) bayar university fees-nya, tapi orang ini dapat beasiswa dari negara,” kata Cinta Laura.
Prioritas untuk yang Membutuhkan
Menurutnya, penerima yang mampu secara finansial seharusnya membiayai kuliahnya sendiri. Ia menekankan banyak anak Indonesia cerdas dan berpotensi lolos ke universitas luar negeri, tetapi terkendala biaya.“Mungkin orang punya pendapat yang berbeda, tapi menurut aku banyak sekali anak Indonesia yang pinter banget, tapi benar-benar enggak punya uang sehingga enggak bisa sekolah di luar negeri, padahal mereka kalau apply pasti diterima,” ucap Cinta Laura.
“Bantu orang-orang kayak gitu lah. Kalau orang-orang yang udah kaya dan emang pinter, let them pay themselves. Give the scholarships to people who really need it, yang benar-benar enggak bisa afford sekolah di luar negeri,” lanjutnya.
Menolak Mengajukan Beasiswa
Atas dasar itu, Cinta Laura memilih tidak mengajukan beasiswa karena menyadari keluarganya sanggup membiayai pendidikannya.“Jujur, aku enggak apply buat beasiswa, karena aku mau slot beasiswa itu dikasih ke orang yang emang butuhin. aku bersyukur, thank God, bahwa aku dan keluarga aku mampu untuk bayar sendiri tuition sekolah,” ujar Cinta.
Cinta Laura sendiri menempuh studi di Columbia University, New York, Amerika Serikat—salah satu kampus Ivy League. Ia mengambil double degree jurusan Psikologi dan Sastra Jerman, lalu lulus berpredikat cum laude hanya dalam waktu tiga tahun pada 2014.