Sineas film NAZA, Yusra Abraham & Rachel Szor (Foto: X @AntSpeaks)
Sineas film NAZA, Yusra Abraham & Rachel Szor (Foto: X @AntSpeaks)

Menang di Venesia, Film NAZA Bikin Menteri Israel Murka hingga Ancam Cabut Kewarganegaraan

Basuki Rachmat • 14 September 2026 17:04
Ringkasnya gini..
  • Film dokumenter NAZA meraih Special Jury Prize serta standing ovation 25 menit di Venesia.
  • Film ini membongkar sistem pengawasan AI dan operasi militer Israel di Gaza lewat 24 narasumber anonim.
  • Pemerintah Israel mengecam keras karya tersebut dan mengancam mencabut kewarganegaraan kedua sineas.
Jakarta: Film dokumenter NAZA karya pasangan sineas asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, mendapat sorotan besar setelah meraih penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Venesia 2026. Namun, pencapaian tersebut justru diikuti kecaman hingga ancaman dari sejumlah pejabat pemerintah Israel terhadap kedua pembuat film.

NAZA merupakan hasil kolaborasi Yuval Abraham dan Rachel Szor bersama produser eksekutif peraih Oscar, Jonathan Glazer, serta media Inggris The Guardian dan produser James Wilson.

Judul NAZA merujuk pada istilah internal intelijen militer yang digunakan untuk menghitung estimasi jumlah korban sipil atau collateral damage sebelum sebuah serangan udara dilakukan. Film ini menghadirkan wawancara eksklusif dengan 24 perwira intelijen dan prajurit militer Israel yang berbicara secara anonim mengenai mekanisme di balik operasi militer serta sistem pengawasan massal berbasis kecerdasan buatan (AI) di Gaza.
   

Dikecam Menteri Kebudayaan Israel

Alih-alih mendapat sambutan positif atas prestasinya di salah satu festival film bergengsi dunia, NAZA justru memicu kontroversi di negara asal kedua sineas tersebut. Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, secara terbuka mengecam film dan para pembuatnya melalui unggahan di akun X pribadinya pada Senin, 14 September 2026.

Dalam unggahannya, Zohar bahkan menyebut kemenangan NAZA sebagai sesuatu yang memalukan serta menuding para sineas telah menyerang negara mereka sendiri demi mendapatkan pengakuan internasional.

“Kemenangan film tercela NAZA di Festival Film Venesia benar-benar mengejutkan. Kebencian terhadap negara sendiri yang begitu besar dari para pembuat film ini sungguh sulit dipercaya. Mereka bahkan rela menyerang tanah airnya sendiri demi mendapat tepuk tangan dari kalangan antisemit di seluruh dunia. Bagi saya, ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara," tulis akun X @zoharm7.

Zohar kemudian mengaitkan kontroversi tersebut dengan kebijakan pemerintah Israel di bidang perfilman. Ia mengatakan reformasi diperlukan agar dana publik tidak digunakan untuk mendukung karya yang menurutnya menyerang militer Israel dan negara.

"Inilah alasan saya mendorong reformasi penting di bidang perfilman, agar warga Israel tidak lagi harus mengeluarkan uang dari kantong mereka sendiri untuk membiayai karya-karya yang menyerang tentara IDF dan Negara Israel," lanjutnya.»

Tak berhenti pada kecaman, Zohar juga mengancam akan mengambil langkah terhadap status kewarganegaraan kedua sineas tersebut. Ia menilai pembuatan film NAZA sebagai tindakan yang dianggap merugikan negaranya.

MENTERI ISRAEL

"Sebagai Menteri Kebudayaan, saya akan segera mengambil langkah untuk mencabut kewarganegaraan Israel para pembuat film tersebut karena telah mengkhianati negara," ungkapnya serius.

Kecaman serupa juga datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Politikus dari faksi sayap kanan tersebut turut melontarkan pernyataan keras terhadap keberhasilan NAZA di Festival Film Venesia.

Ben-Gvir bahkan meminta para sineas tersebut meninggalkan Israel dan menyebut keberadaan mereka sebagai sesuatu yang memalukan bagi masyarakat Israel.

"Kalian adalah aib dan penyesalan bagi seluruh rakyat Israel. Pergi sana!" seru Ben-Gvir di media sosial.

Ia kemudian melontarkan sindiran dengan mengaitkan kedua sineas tersebut dengan kelompok Hamas yang berada di Gaza.

"Saya yakin teman-teman kalian, maksud saya musuh kita, Hamas di Gaza, akan menyambut kalian dengan tangan terbuka," tuturnya.
 

Sineas NAZA Tegaskan Keberanian Berkarya


Di tengah gelombang kecaman tersebut, Yuval Abraham tetap mempertahankan sikapnya dalam membuat NAZA. Ia mengakui bahwa proses produksi film tersebut memang membawa risiko, terutama karena mengangkat isu sensitif mengenai operasi militer Israel di Gaza.

Abraham mengatakan risiko tersebut diambil karena ia dan Rachel merasa perlu membicarakan kondisi yang terjadi di tengah sistem yang menurutnya memberikan keistimewaan tertentu kepada kelompok Yahudi-Israel.

"Kami mengambil risiko dalam sistem yang memberikan hak istimewa kepada kami, di mana supremasi Yahudi-Israel menjadi karakteristik utamanya," ungkap Abraham.

Ia juga menggambarkan kondisi yang dialami masyarakat Palestina dengan menyoroti dampak operasi militer terhadap kehidupan warga sipil.

"Bagi begitu banyak warga Palestina, yang mendatangi rumah mereka bukanlah massa sayap kanan, melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS."

Sementara itu, pihak militer Israel atau IDF telah menolak tuduhan yang disampaikan dalam film tersebut. IDF juga mempertanyakan keabsahan keterangan para narasumber anonim yang ditampilkan dalam dokumenter.

Meski demikian, Abraham tetap menilai NAZA penting untuk disaksikan, termasuk oleh masyarakat Israel sendiri. Menurutnya, film tersebut dapat membuka ruang diskusi mengenai isu yang selama ini sulit dibicarakan secara terbuka.
 

NAZA Raih 25 Menit Standing Ovation di Festival Film Venesia 



Sebelum menuai kontroversi di Israel, NAZA lebih dahulu mencuri perhatian di Festival Film Venesia 2026. Film dokumenter tersebut menjalani pemutaran perdana dalam kompetisi utama 83rd Venice International Film Festival di Venezia, Italia, pada Rabu, 10 September 2026.

Pemutaran tersebut mendapat respons luar biasa dari penonton yang hadir. Setelah film berakhir, penonton memberikan standing ovation selama sekitar 24,5 menit tanpa henti.

Durasi apresiasi tersebut membuat NAZA disebut memecahkan rekor standing ovation terlama dalam sejarah pemutaran film di festival tersebut. Rekor sebelumnya dipegang film dokumenter The Voice of Hind Rajab.

Suasana di dalam gedung bioskop juga berlangsung emosional. Sejumlah penonton bahkan terlihat mengibarkan bendera Palestina di tengah tepuk tangan dan sorakan apresiasi untuk film karya Yuval Abraham dan Rachel Szor tersebut.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA