Sal Priadi x Bernadya di Forestra 2025 (Foto: Dok. Forestra)
Sal Priadi x Bernadya di Forestra 2025 (Foto: Dok. Forestra)

Forestra 2025 Hadirkan Kolaborasi Epik Sheila Dara dan Jajaran Musisi Lintas Genre

Rafi Alvirtyantoro • 02 September 2025 11:48
Jakarta: Forestra 2025 telah sukses memukau lebih dari 6.000 penonton di tengah hutan pinus Orchid Forest Cikole, Lembang, Bandung, pada 30 Agustus lalu. 
 
Dengan seluruh tiket terjual habis, Forestra kembali menegaskan posisinya sebagai pertunjukan orkestra terbesar di Indonesia yang berlatar alam. Acara ini bukan hanya sekadar konser musik, melainkan perpaduan harmonis antara musik, seni, dan kepedulian terhadap lingkungan.
 
Meski diguyur hujan, ribuan penonton tetap setia menyaksikan pertunjukan hingga akhir. Forestra 2025 menghadirkan 50 pemain orkestra yang berkolaborasi dengan jajaran musisi lintas genre, dan menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.


Kolaborasi Seni dan Alam yang Spektakuler
 
CEO ABM, Barry Akbar, mengungkapkan bahwa setiap detail Forestra dipersiapkan dengan matang selama setahun penuh agar para pengunjung bisa mendapatkan suguhan terbaik.
"Mulai dari pemilihan musisi, pengaturan orkestra, hingga rancangan panggung, semuanya dirancang agar terjalin harmonis. Melalui Forestra, kita membuktikan bahwa musik, seni, dan alam bisa berjalan beriringan," ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id pada Selasa, 2 September 2025.
 
Di bawah arahan Erwin Gutawa sebagai Music Director, Forestra 2025 menampilkan kolaborasi unik antara orkestra dengan musisi ternama seperti Reza Artamevia, The SIGIT, Raja Kirik, dan Sheila Dara. Momen spesial lainnya adalah kolaborasi perdana Bernadya × Sal Priadi serta penampilan unik dari Voice of Baceprot bersama Ensemble Tikoro.
 
Erwin Gutawa menyampaikan kebanggaannya menjadi bagian dari acara ini. "Berada di atas panggung megah Forestra memimpin 50 pemain orkestra adalah pengalaman yang luar biasa," katanya. 
 
Ia menambahkan bahwa Forestra memberi ruang di mana musik dan alam saling melengkapi, menciptakan pengalaman yang indah bagi semua yang hadir.
 
Kejutan spesial di Forestra 2025 datang dari Sheila Dara, yang tampil berkolaborasi dengan Choir Unpad (Universitas Padjajaran). Ia mengaku terkesan dengan pengalaman ini. 
 
"Kombinasi antara orkestra, pepohonan pinus, dan kabut tipis menciptakan suasana yang luar biasa berkesan," tutur Sheila.
 
Baca juga: Profil Acil Bimbo yang Wafat di Usia 82 Tahun, Musisi Legendaris dan Pencinta Lingkungan

Komitmen Nyata untuk Keberlanjutan Lingkungan
 
Selain dari sisi musik, Forestra juga memiliki komitmen kuat terhadap isu keberlanjutan. Jay Subyakto selaku Creative Director merancang panggung dengan prinsip zero tree cutting, di mana tidak ada satu pohon pun yang ditebang.
 
Bersama Greenpeace Indonesia, Forestra mewujudkan komitmennya dengan mengalokasikan sebagian hasil penjualan tiket untuk pembangunan panel surya di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Inisiatif ini bertujuan mendukung warga yang berada di garis depan dampak krisis iklim serta memperluas akses energi bersih.
 
Di area venue, penonton juga diajak berpartisipasi dalam berbagai aktivitas ramah lingkungan, seperti mengisi daya ponsel di stasiun energi surya dan menjelajahi gerai produk berkelanjutan. Selain itu, ada pertunjukan eksperimental Bio-plant Sonic dari Bottlesmoker yang mengolah sinyal biologis tanaman menjadi komposisi bunyi.
 
Syahrul Fitra, Forest Campaigner dari Greenpeace Indonesia, mengatakan bahwa kolaborasi ini menunjukkan bagaimana seni dan gerakan lingkungan dapat berjalan beriringan untuk memberi dampak nyata. 
 
"Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa ketika ruang budaya terbuka pada isu lingkungan, maka pesan keberlanjutan bisa menjangkau lebih luas," jelasnya.
 
Baca juga: Animator Pakistan Bakal Tuntut Film Merah Putih: One For All

Hadirkan Ruang Diskusi dan Eksperimen Kreatif
 
Forestra 2025 memperkenalkan aktivasi baru bernama Area Gema, sebuah ruang interaktif yang mengundang penonton untuk terlibat dalam diskusi seputar musik dan lingkungan. Aktivitas ini menghadirkan berbagai program, termasuk Vixtape Off-Air bersama Vincent Rompies dan Soleh Solihun, serta diskusi panggung musik independen bersama Kiki Ucup (Pestapora) dan Iit Boit (Omunium).
 
Festival Director Pestapora, Kiki Ucup, mengatakan bahwa ruang diskusi ini sangat berarti bagi para pelaku musik untuk berbagi pandangan dan pengalaman. 
 
"Di sini kita bisa melihat bahwa musik tidak hanya hidup di panggung, tapi juga dalam percakapan yang membangun pemahaman dan kolaborasi," katanya.
 
Dengan perpaduan pertunjukan musik orkestra yang megah, komitmen terhadap lingkungan, dan ruang diskusi yang inspiratif, Forestra menjadi perayaan yang menyatukan musik, seni, alam, dan manusia dalam harmoni.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan