Sal Priadi - Dok. Sal Priadi
Sal Priadi - Dok. Sal Priadi

Kultus Paling Serius Sal Priadi

Hiburan
Cecylia Rura • 04 Agustus 2019 13:00
Jakarta: Salmantyo Ashrizky Priadi menambah daftar panjang solois pria baru di Indonesia. Namun, itu bukan ambisinya. Pria asal Malang berusia 27 tahun itu bermusik atas dasar rasa yang dianut.
 
Sejarahnya, Sal, begitu dia dipanggil, mencoba serius di musik bermodalkan pengalaman seperti musisi pada umumnya. Dimulai dari Kultusan tentang kisah sepasang kekasih, hingga Ikat Aku di Tulang Belikatmu yang bercerita tentang keinginannya terus bersama mendiang ayahnya. Namun, sebelum bergulat dengan kisah-kisah lirih Sal Priadi sempat mengikuti arus tren musik metal semasa SMA.
 
Cukup lama Sal Priadi harus memberanikan diri naik pentas setelah bermain-main dengan teknologi. Dua tahun berlalu sejak keputusan itu, Sal Priadi bercerita bagaimana dia membawa kariernya pada tahap serius. Begini ceritanya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagaimana perjalanannya kemudian bermusik dengan Kultusan?
Kultusan itu sebenarnya sudah lama banget, mungkin 2012-2013. Awal ketemunya reff dulu, "mungkin dikultuskan". Tahun 2016 kayaknya ada tawaran manggung terus kekurangan lagu. Akhirnya ambil reff itu lagi untuk dijadikan lagu penuh. Kebetulan teman lagi cerita kalau dia lagi berantem sama pacarnya karena pacarnya selingkuh. Sampai akhirnya dia mau putus. Keesokan harinya ketemu dia lagi cerita masih ngambek sama si pacarnya ini. Besoknya lagi ternyata si dia balikan sama pacarnya. Dari cerita itu aku rangkum. Anjir, berarti ada orang-orang di luar sana yang memaafkan walaupun lo disakitin tapi masih memaafkan dia. Itu yang terjadi di lagu Kultusan akhirnya dikeluarin 2017.
 
Dapat dikatakan debut seorang Sal Priadi lewat Kultusan?
Bisa dibilang, secara official keluar di gerai musik digital karena sebelumnya musik-musiknya selalu dikeluarin di YouTube, Sound Cloud, enggak pernah benar-benar dimasukkan ke streaming platform.
 
Sal Priadi dikategorikan hadir secara organik melalui platform musik digital, apa medium pertama yang digunakan untuk bereksplorasi?
Awalnya sendiri sebenarnya Sound Cloud. Kalau video butuh effort, ada kamera, rekaman mesti agak beres pakai mik. Kalau Sound Cloud meski dari handphone bisa langsung diunggah. Berlanjut, kayaknya lucu bikin video live. Akhirnya sama teman-teman di studio GZZ bikin iseng-iseng live section akhirnya ke YouTube. Setelah itu baru sadar, kayaknya kalau mau serius di musik mesti dirilis secara serius di streaming platform.
 
Kapan benar-benar serius di musik?
(Kultusan) itu menjadi langkah awal untuk terjun ke dunia musik, tapi masih banyak keraguan pas di posisi itu. Beberapa bulan kemudian memberanikan diri lagi merilis Ikat Aku di Tulang Belikatmu. Kemudian dapat respons baik salah satunya masuk Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards. Dari respons itu kayaknya mesti benar-benar terjun dan serius di sini.
 

 
Keputusan bermusik diambil sebagai langkah menggali potensi diri sendiri atau keresahan yang ingin diekspresikan?
Sebenarnya untuk menahan mau dirilis tahun 2017 itu karena aku orangnya kayak banyak diserang sama pikiran sendiri. "Bisa enggak ya? Kayaknya enggak bisa deh". Perdebatan itu prosesnya lama. Bahkan lagunya sudah dari 2012 tapi baru berani dirilis 2017 kan. Itu menunjukkan sebenarnya enggak gampang mau dirilis. Akhirnya dirilis karena merasa ada orang yang percaya, satu. Banyak teman-teman yang bilang ini harus dirilis. Dari banyak orang yang percaya, akhirnya merasa bahwa kayaknya bisa untuk jalan di sini, have faith di dunia musik. Seolah pintunya banyak yang terbuka. Ya sudah, aku jalanin dengan serius.
 
Bagaimana Sal Priadi memilah diksi dalam penulisan lirik lagu?
Suka baca, tapi sebelumnya aku sebenarnya melewati proses menulis lirik dengan bahasa yang sederhana, bahasa slang, sehari-hari. Sempat juga menulis puitis banget sampai orang enggak bisa mengerti, gua doang. Yang ada sekarang adalah yang di tengah-tengah, yang merasa paling nyaman karena setiap penulisan lirik kadang-kadang ada "Anjir, cringe banget ini! Jijik ah nulis kayak begini!". Nge-adjust itu butuh proses karena yang kelaur sekarang itu (feel-nya) yang ketemu di tengah-tengah. Yang masih merasa nyaman, pesannya sampai.
 
Dari aksi panggung Sal Priadi, tampak seperti khidmat beribadah, berkhotbah dengan lagu. Koreografi pun mendukung. Apa pesan dari konsep unik aksi panggung itu?
Benar. Banyak orang yang bilang hal yang sama. Tapi kayaknya setiap di panggung suasananya selalu berbeda. Setiap membawakan lagu, even di rumah membawakan lagu-lagu sendiri. Itu ada perasaan yang harus disampaikan, seolah badan ngikut saja mau gimana. Bukan kayak di-set khusus. Aku melihatnya lagu yang dinyanyikan itu selalu punya nyawanya sendiri. Ketika itu benar-benar serius kita rasakan, apa yang mau kita sampaikan ke orang enggak cuma sekadar manggung, rasanya akan berbeda.
 
Sebenarnya juga beberapa kali kalau manggungnya lumayan sering berurutan, ini cuma manggung doang. Itu ada juga. Itu yang berusaha dibangkitin. Kayak setiap manggung pasti selalu mual. Perasaan-perasaan itu yang dikumpulin jadi satu lalu seolah dilepaskan.
 
Benar-benar mual?
Serius, sampai muntah. Ira (manajer) saksinya. Dulu awal-awal kayak gue kenapa cuy. Setelah lama-lama tahu memang selalu mual. Kayak ada perasaan grogi, nervous jadi satu. Begitu keluar di panggung dan nyanyi bait pertama itu sudah lepas.
 
Kultus Paling Serius Sal Priadi
 
Ketika naik pentas, Sal Priadi menunjukkan sisi alter?
Sal Priadi in real life, punya banyak energi dan ekspresif. Lagu-lagu yang aku tulis itu aku yang lagi di kamar sendirian, berpikir dengan kepala sendiri. Itu yang 'tirainya' sekarang sedang aku buka, aku pertontonkan. Bahwa aku yang di kamar suka menulis lagu, baca, diam, akhirnya menjadi seolah-olah kelihatan dua Sal yang berbeda. Padahal sebenarnya enggak, sebenarnya dalam satu tubuh. Cuma waktu manggung dan lagu-lagu Sal Priadi itu representasi dari sisi aku yang lain. Bukan menciptakan alter baru. Ada sisi aku di situ yang enggak mau orang tahu. Dulu, aku enggak mau ada orang yang tahu aku suka menulis, membaca, menjadi seorang performer.
 
Sempat memainkan musik keras kemudian berubah menjadi lagu pelan bernuansa dark, ada sentuhan nuansa gereja dalam bermusik juga visualisasi (contoh: Amin Paling Serius). Apa yang melatarbelakangi konsep itu?
Yang seru adalah ketika bikin lagu atau nge-direct, aku masih pakai produser, aku cuma bisa jelasin suasana. Aku enggak jago main gitar, biasa saja, biasa banget malah. Cuma cukup untuk bikin lagu, gitaran. Kalau gitar buat perform caur lah. Aku orangnya enggak teknik banget. Semua itu selalu berangkat dari feeling, apa yang dirasa. Biasanya yang keluar adalah kata sifat, kata benda. Ketika bikin-bikin lagu yang sering kebayang adalah warna-warna yang gelap, warna yang sayu. Hal-hal seperti itu.
 
Representasi bangunan tua, ketika divisualisasikan bangunan-bangunan katedral kayak begitu benar-benar kerasa vibrasinya. Energi ketika kita bikin lagu bayangannya pas. Berangkat dari situ akhirnya setiap kali nge-direct jadi ketika ngobrol sama produser, bisa enggak membayangkan warna-warna coklat tua yang rustic, lorong panjang katedral. Alhamdulillah terwujud di beberapa lagu aku seperti Kultusan.
 
Pengalaman apa yang pernah dilalui ketika bisa merasakan vibrasi dan ketenangan dalam memvisualisasikan itu?
Bukan ketenangan dalam gerejanya, entah kenapa energinya, mungkin karena katedral itu cenderung tua, ada kayu-kayunya kelihatan tua. Sebenarnya bangunan apapun enggak cuma katedral, tapi bangunan tua yang seolah setiap komponen punya energinya. Itu yang berusaha aku terjemahkan ke dalam musik. Makanya kelihatan kayak dark dan gothic.
 
Apakah ilham itu datang secara spontan?
Spontan. Nada itu warnanya ini. Kayak ungu, pas merem tapi enggak ungu tua. Aneh juga mau ngejelasin.
 
Secuplik tentang kehidupan awal Sal, bagaimana perjalanan hidup Sal Priadi yang berpindah-pindah?
Dari kecil pindah-pindah. Lahir dan besar di Malang, SD pindah ke Surabaya, SMP pindah ke Jakarta, SMA di Malang lagi, kuliah sempat di Bandung.
 
Untuk berkenalan dengan musik juga dari keluarga?
Kakek aku dulu musisi band Casino cukup besar angkatannya Ucok AKA, kalau pernah tahu Ahmad Albar. Nama kakek aku Priya Sigit. Tante aku sempat bikin majalah sepertinya terbesar di Jawa Timur, namanya Hot Cord, majalah gitar. Anak-anak SMA pada cari majalah gitar.
 
Dari lagu Amin Paling Serius, pesan apa yang disampaikan?
Modelnya Amin Paing Serius itu adalah pengharapan dari satu pasang yang setiap kali ada orang-orang yang merasa gua lahir dari sesuatu yang enggak baik. Sementara pasangannya terlihat baik-baik aja. Maksud aku, setiap pasangan itu harus menerima, mengapresiasi, dan mendengarkan pasangannya. Amin Paling Serius ini satu bentuk doa yang bisa dipanjatkan untuk saling melengkapi.
 

 
Sentuhan semi orkestra menjadi wajib untuk setiap musik Sal Priadi?
Akhirnya jadi ke sana padahal enggak direncanakan. Tapi karena cara menjelaskan aku seperti itu yang keluar suara cello, string, karena direksi yang aku kasih ke produser.
 
Bagaimana Sal Priadi melihat pertumbuhan musik di Malang?
Kayaknya sekarang lagi gila-gilanya di Malang. Banyak keluar yang baru-baru. Yang bikin kaget itu sebenarnya warnanya enggak sama. Kalau dulu kan seragam, lagi booming apa mereka cari satu warna. Sekarang yang seru mereka beda-beda. Christabel keluar dengan warna sendiri, Coldiac dengan warna sendiri. Steffani BPM dengan warnanya. Mudah-mudahan berlanjut.
 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif