Salah satu tujuan dari kerja sama tersebut adalah memperkuat kolaborasi ekonomi kreatif bilateral melalui sembilan bidang strategis, termasuk Film, Television, and Media Production. Namun, apakah kerja sama seperti ini yang dibutuhkan oleh industri perfilman Indonesia saat ini?
Kritik Pengamat Perfilman
Pengamat film Hikmat Darmawan secara tegas menilai bahwa kerja sama antara Kemenekraf dan HCC bukanlah hal yang dibutuhkan oleh industri perfilman saat ini.“Enggak,” tegas Hikmat Darmawan saat dihubungi oleh Medcom.id pada Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, hal yang dibutuhkan oleh industri perfilman Indonesia adalah membangun pasar sendiri. Apalagi ia melihat masyarakat saat ini sudah tidak terlalu tertarik dengan film Hollywood.
“Sekarang ini faktanya adalah film Amerika sudah tidak lagi menjadi film yang ditonton mayoritas penduduk Indonesia atau penonton Indonesia, ya kan?” ucap Hikmat.
“Nah, sekarang kita lihat efeknya nanti. Kalau kerja sama ini kalau menguntungkan Indonesia adalah kata kita kan berharapnya, ‘Oh film Indonesia bisa masuk ke pasar Amerika’ Really?” lanjutnya.
Potensi Dominasi Film Asing
Hikmat berpendapat bahwa kerja sama antara Kemenekraf dan HCC diprediksi justru akan menguntungkan pihak asing dengan meminta jatah jadwal penayangan dan jumlah layar yang lebih besar di bioskop.“Tapi sebaliknya yang lebih mungkin, lebih masuk akal terjadi dengan perjanjian ini adalah ya film Amerika harus masuk lagi gitu, harus positioning-nya di atas lagi gitu loh. Ada jatah tayang dan jatah layar yang gede lagi gitu. Kan selalu begitu, tawar-menawarnya dari Hollywood itu kan gitu gitu,” jelas Hikmat.
“Nah, kalau kayak gitu kan berarti kita lebih banyak disedot dalam perjanjian ini. Ya kalau enggak ya alhamdulillah, bagus, emang seharusnya jangan dong, ya kan? Tapi kalau kalau presedennya adalah kita tidak punya posisi tawar gitu, gitu loh. Apalagi soal film gitu, soal apa gitu,” tambahnya.
Urgensi Penguatan Pasar Domestik
Pada kesempatan itu, Hikmat kembali menegaskan bahwa pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembangunan pasar majemuk bagi film Indonesia dibandingkan dengan menjalin kerja sama bersama Hollywood. Hal ini bisa dilakukan dengan memperluas pasar di dalam negeri terlebih dahulu.Hingga saat ini, rincian bentuk kerja sama antara Kemenekraf dan HCC belum diketahui secara pasti. Namun, Hikmat mengutarakan kekhawatirannya atas kerja sama tersebut.
“Karena presedennya. Presedennya enggak setara gitu kalau dealing sama Amerika. Gimana ya, Amerika yang sekarang ya, dengan Indonesia yang sekarang pemerintahannya. Kok kok saya malah was-was?” pungkasnya.