Angka tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai semakin besarnya aktivitas industri film di luar layar. JAFF Market sendiri merupakan bagian industri dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang mempertemukan pelaku film, produser, investor, distributor, platform, serta berbagai pihak lain dalam ekosistem perfilman.
Pertumbuhan tersebut berlangsung di tengah menguatnya pasar film Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip JAFF Market dari Cinepoint H1 2026 Report, film Indonesia mencatat sekitar 83 juta admissions sepanjang 2025.
Pada semester pertama 2026, total kunjungan bioskop nasional mencapai 53,77 juta admissions. Film Indonesia mengambil porsi 71,2 persen dari angka tersebut, setara dengan sekitar 38,3 juta admissions.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan industri film Indonesia tidak hanya berada pada sisi produksi dan kreativitas, tetapi juga pada basis penonton domestik yang besar. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih luas dan membuka akses bagi karya Indonesia ke pasar internasional.
Baca Juga :
Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Beri Penghargaan untuk Film Pendek hingga Buatan AI
Dari Penonton ke Ekosistem Industri
JAFF Market mencoba mengambil posisi di antara dua kebutuhan tersebut. Selain menjadi ruang pertemuan bisnis, platform ini dirancang untuk mempertemukan proyek dan kekayaan intelektual dengan produser, investor, distributor, buyer, studio, hingga institusi perfilman.
Pada penyelenggaraan perdananya pada 2024, JAFF Market mencatat 6.723 peserta dari 18 negara, dengan 151 booth dari berbagai sektor industri.
Edisi 2025 kemudian berkembang dengan lebih dari 114 exhibitor dan lebih dari 1.500 peserta terakreditasi, serta delegasi internasional dari Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara. Programnya mencakup pitching, pertemuan bisnis, pengembangan talenta, serta forum industri.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan fungsi festival film. Jika festival pada dasarnya berorientasi pada pemutaran dan apresiasi karya, keberadaan market menambahkan dimensi bisnis, pembiayaan, distribusi, serta pengembangan proyek.
Market Director JAFF Market, Linda Gozali, mengatakan perluasan akses tersebut memang menjadi salah satu tujuan utama JAFF Market.
“Sejak awal, JAFF Market dibangun untuk menjadi jembatan antara potensi industri film Indonesia dan peluang di tingkat internasional. Kami ingin semakin banyak proyek dan pelaku industri Indonesia memperoleh akses terhadap jejaring, mitra, dan peluang kolaborasi yang dapat mendukung perjalanan karya mereka ke pasar yang lebih luas.”
Dari Yogyakarta ke Toronto
Upaya memperluas jejaring tersebut kini bergerak keluar Indonesia. Pada 10 hingga 16 September 2026, JAFF Market melakukan kunjungan strategis ke Toronto, Kanada, untuk membangun hubungan dengan lembaga perfilman, perusahaan produksi, sales agent, distributor, serta profesional industri internasional.
Kunjungan tersebut berlangsung bertepatan dengan kehadiran Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini dalam program Centrepiece Toronto International Film Festival (TIFF) 2026.
Film yang ditulis dan disutradarai Kamila Andini serta diproduseri Ifa Isfansyah melalui Forka Films tersebut menjadi satu-satunya film panjang Indonesia yang terpilih di TIFF tahun ini. Empat Musim Pertiwi dijadwalkan menggelar world premiere pada 13 September 2026 di Scotiabank Theatre Toronto.
Menariknya, perjalanan film tersebut menuju Toronto memiliki keterkaitan dengan JAFF Market. Sebelum terpilih di TIFF, Empat Musim Pertiwi lebih dahulu diperkenalkan kepada pelaku industri melalui peluncuran dan penayangan cuplikan eksklusif di JAFF Market 2025.
Keterhubungan itu memberikan contoh bagaimana sebuah market film dapat berfungsi bukan hanya sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang awal untuk memperkenalkan proyek kepada jaringan industri yang lebih luas.
Business Director JAFF Market, Sekarini Seruni, mengatakan kunjungan ke Toronto diarahkan untuk membangun hubungan yang dapat berkembang menjadi kerja sama konkret.
“Potensi industri film Indonesia perlu dibawa ke dalam percakapan internasional yang tepat. Kehadiran kami di Toronto bukan hanya untuk memperkenalkan JAFF Market, tetapi juga membangun hubungan yang dapat berkembang menjadi kerja sama konkret bagi para pelaku industri dari Indonesia maupun negara lain.”
Rp166 Miliar dan Tantangan Berikutnya
Estimasi dampak ekonomi Rp166 miliar dari dua edisi JAFF Market menunjukkan bahwa kegiatan industri film memiliki efek yang melampaui produksi dan pemutaran film. Aktivitas market membawa peserta, perusahaan, pertemuan bisnis, kebutuhan akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga aktivitas pendukung lain ke Yogyakarta.
Namun, angka tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pertumbuhan pasar domestik belum otomatis berarti seluruh bagian ekosistem film Indonesia telah berkembang dengan tingkat yang sama. Industri masih membutuhkan akses pembiayaan, distribusi, jaringan internasional, infrastruktur, serta data yang dapat membantu pengambilan keputusan.
Dalam laporan yang dirilis bersama Cinepoint pada JAFF Market 2025, JAFF Market memang menempatkan data sebagai salah satu fondasi untuk memahami perkembangan industri film Indonesia, termasuk admissions, dampak ekonomi, produksi, keterjangkauan, kepadatan layar, dan tren investasi.
Dengan pasar domestik yang semakin besar dan aktivitas industri yang mulai menghasilkan dampak ekonomi di tingkat lokal, pertanyaan berikutnya adalah apakah pertumbuhan tersebut dapat diterjemahkan menjadi posisi yang lebih kuat bagi film Indonesia di pasar global.
JAFF Market akan melanjutkan upaya tersebut melalui penyelenggaraan edisi ketiganya pada 28 hingga 30 November 2026 di Jogja Expo Center, Yogyakarta. Programnya mencakup JAFF Future Project, JAFF IP Connection, Producers Exchange, Film Lab, Market Screening, Film Industry Exhibition, serta Film & Market Conference.
Jika perjalanan Empat Musim Pertiwi dari JAFF Market menuju TIFF dapat menjadi salah satu contohnya, maka nilai sebuah market film pada akhirnya bukan hanya dapat dilihat dari jumlah peserta atau transaksi yang terjadi selama acara berlangsung. Ukurannya juga terletak pada sejauh mana pertemuan yang terjadi di dalamnya mampu membawa karya, talenta, modal, dan gagasan Indonesia bergerak lebih jauh setelah festival berakhir.