Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 (Foto: instagram)
Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 (Foto: instagram)

Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Beri Penghargaan untuk Film Pendek hingga Buatan AI

Elang Riki Yanuar • 13 September 2026 08:00
Ringkasnya gini..
  • Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 menghadirkan penghargaan untuk film pendek, proyek sosial, dan karya yang memanfaatkan teknologi AI.
  • Rancage karya IPB University meraih Best Project Award, sementara Ruang ANTARA dan memBEKAS memenangkan Best Micro Film Award.
  • Kategori Best AI Film menjadi inovasi baru tahun ini dengan Pulang karya Dika Karan sebagai pemenang dan Nyanyian di Angkringan meraih Honourable Mention.
Jakarta: Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia memberikan ruang bagi pembuat film dan komunitas untuk menyuarakan berbagai persoalan sosial melalui karya audiovisual. Tahun ini, festival tersebut menghadirkan penghargaan untuk film pendek hingga karya yang memanfaatkan teknologi artificial intelligence atau AI.

Rangkaian Regional Screening & Awarding Day #InspiringIndonesia digelar di Ice Palace, Lotte Mall, Jakarta. Sebanyak 11 karya terbaik dari komunitas di berbagai daerah Indonesia ditampilkan dalam acara tersebut.

Mengusung tema Community Empowerment: Belonging, Resilience, Thriving, festival ini mengangkat cerita tentang komunitas yang berusaha menghadapi tantangan sekaligus menciptakan perubahan di lingkungannya.

Beragam isu sosial hadir melalui karya yang dipilih, mulai dari pemberdayaan masyarakat, pendidikan, inklusi, hingga keberlanjutan dan lingkungan. Film menjadi medium untuk memperkenalkan berbagai inisiatif komunitas kepada masyarakat yang lebih luas.

"#InspiringIndonesia 2026 bukan hanya tentang karya, tetapi juga tentang keterlibatan komunitas dan kekuatan storytelling dalam menciptakan perubahan. Karena pada akhirnya, setiap cerita yang dibagikan adalah bentuk empowerment. Kami berharap semakin banyak orang terus bercerita, menginspirasi, membangun koneksi, dan menciptakan perubahan positif,” ujar Candy Goh, Director, Li Foundation.
Inspiring Asia merupakan inisiatif regional yang digagas Li Foundation dengan memanfaatkan storytelling untuk mempertemukan cerita, komunitas, serta gagasan dari berbagai negara di Asia. Di Indonesia, program tersebut hadir melalui #InspiringIndonesia.

Dalam penyelenggaraannya, Li Foundation kembali menggandeng Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good sebagai mitra strategis. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan cerita sekaligus memperkuat dampak dari karya yang dihasilkan.

Tahun ini, #InspiringIndonesia menghadirkan tiga kategori penghargaan. Best Project Award diberikan kepada inisiatif sosial yang telah berjalan dan diangkat dalam bentuk film pendek dengan melihat dampak nyata serta kontribusi komunitas atau social enterprise.

Empat karya yang bersaing dalam kategori tersebut adalah HEAR HER STORY, LILIN-LILIN DARI PELOSOK, Bergandengan Tangan, dan Rancage. Dari kategori ini, Rancage karya IPB University akhirnya meraih Best Project Award dengan hadiah Rp100 juta.
“Kemenangan ini membuka peluang untuk membawa Rancage menjangkau lebih banyak pihak dan menghadirkan kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi komunitas. Masih banyak potensi yang bisa dikembangkan bersama, dan kami berharap ke depannya akan semakin banyak kolaborasi yang dapat mendukung teman-teman di Rancage untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak," kata Wina Ekawati, IPB University, pemenang Best Project Award.

Sementara itu, kategori Best Micro Film Award menyoroti kekuatan cerita, kualitas artistik, visual kreatif, dan sinematografi. Empat karya yang masuk dalam kategori ini adalah memBEKAS, Ruang Antara, SAMTAMA, dan Kisah Igo.

Best Micro Film Award akhirnya diberikan kepada Ruang ANTARA karya Feugee dan memBEKAS karya KATALIS. Keduanya berbagi hadiah dengan total nilai Rp75 juta.

“Film pendek yang baik adalah yang mampu menggambarkan sebuah cerita dengan kuat, dan juga menyampaikan gagasan pembuatnya dengan cara yang dapat dirasakan secara emosional oleh penonton. Dua karya yang terpilih sebagai pemenang Best Micro Film berhasil melakukan hal tersebut. Keduanya mampu mengemas cerita dan gagasan dengan kuat, sehingga saya yakin dapat menginspirasi penonton untuk turut berdampak pada masyarakat," jelas Muhammad Zaidy, Produser, Palari Film.

Yang menarik, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 juga memperkenalkan kategori baru, yakni Best AI Film Award. Kategori tersebut menjadi ruang bagi pembuat film untuk menggunakan teknologi AI dalam menyampaikan cerita mengenai isu sosial.

Tiga karya yang masuk dalam kategori Best AI Film adalah Pulang, Jahitan Harapan di Atas Puing, dan 2 Are Better Than 1. Pulang karya Dika Karan kemudian terpilih sebagai pemenang dan berhak mendapatkan hadiah Rp30 juta.

Sementara itu, Nyanyian di Angkringan karya Tim Samudra memperoleh penghargaan Honourable Mention dalam kategori Best AI Film.

Kehadiran kategori AI tidak semata-mata menjadikan teknologi sebagai fokus utama penilaian. AI ditempatkan sebagai alat yang dapat membantu lebih banyak orang berkarya, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan biaya, peralatan, maupun kemampuan teknis.

Penilaian tetap diarahkan pada kekuatan storytelling, orisinalitas, eksekusi, serta dampak sosial yang dibawa oleh masing-masing karya. Dengan demikian, teknologi AI menjadi bagian dari proses kreatif tanpa menggeser peran gagasan dan cerita yang ingin disampaikan pembuat film.

Proses penjurian juga melibatkan sejumlah profesional dari berbagai bidang. Dewan juri terdiri dari Muhammad Zaidy, Felicia Hanitio, Deviani Wulandari, Nurdini Prihastiti, Roro Ajeng Sekar Arum, dan Ahmad Aziz.

Selain penjurian, #InspiringIndonesia memiliki mekanisme community vetting yang memungkinkan publik ikut menentukan karya yang layak melaju ke tahap berikutnya. Proses tersebut dilakukan melalui aplikasi Campaign for Good dan menjadi salah satu pembeda penyelenggaraan festival di Indonesia dengan negara regional lainnya.

Tahun ini, kompetisi menerima 127 entri yang berasal dari 26 provinsi di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, jumlah tersebut mengerucut menjadi 21 semifinalis.

Community vetting kemudian melibatkan 7.411 anggota komunitas dan menjangkau 38 provinsi. Partisipasi publik juga menunjukkan ketertarikan terhadap isu yang dibawa dalam film, dengan 57,3 persen anggota komunitas menyatakan ingin mempelajari lebih lanjut isu yang diangkat setelah menonton.

Selain itu, sebanyak 65,2 persen anggota komunitas menyatakan berniat membagikan film yang telah mereka tonton kepada orang lain. Data tersebut menunjukkan bahwa film dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pembahasan mengenai persoalan sosial dan pemberdayaan komunitas.

Nurdini Prihastiti, Founder Dama Kara, mengatakan penilaian dalam kompetisi tidak hanya melihat aspek teknis film. Inisiatif yang diangkat serta kemampuan komunitas dalam memberikan dampak kepada masyarakat juga menjadi pertimbangan.

“Kami harap karya-karya ini bisa menyentuh masyarakat lebih luas lagi untuk terinspirasi dan akhirnya membuat inisiatif baru untuk lingkungan sekitarnya.”

Setelah mendapatkan penghargaan di tingkat Indonesia, para finalis masih memiliki kesempatan melanjutkan perjalanan ke tingkat regional. Mereka akan memperebutkan kesempatan tampil di Grand Final Inspiring Asia di Manila, Filipina.

Selain kesempatan tampil di tingkat regional, tersedia modal regional dengan nilai hingga USD100.000 untuk kategori Best Project, USD50.000 untuk Best Micro Film, dan USD10.000 untuk Best AI Film.









 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA