Mengenal Markas Lebah Ganteng, Pein Akatsuki, dan Para Penerjemah Subtitle

Purba Wirastama 04 Juli 2018 14:15 WIB
film indonesiamontase film
Mengenal Markas Lebah Ganteng, Pein Akatsuki, dan Para Penerjemah Subtitle
Ilustrasi menonton film/serial online (Foto: istock)
Jakarta: Pein Akatsuki dan Lebah Ganteng bukan nama yang asing bagi penikmat tontonan film dan serial gratisan di internet yang butuh sulih teks atau subtitle berbahasa Indonesia. Dua nama ini tercantum dalam credit sulih teks ratusan film/ serial luar negeri yang dibagikan "cuma-cuma" di sejumlah situs web sejak beberapa tahun terakhir.

Pein dan Lebah memang populer. Namun kontributor subtitle terjemahan di internet bukan hanya mereka. Banyak pegiat sulih teks lain berseliweran. Sebagian bergabung ke forum bernama Indonesian Data & File Library alias IDFL. Forum internet ini punya banyak topik bahasan, tetapi utamanya adalah berbagi tautan berkas film/serial serta sulih teks.

Pein dan Lebah, yang ikut membesarkan forum ini, belakangan sering aktif di sana bersama sejumlah penerjemah sulih teks lain seperti Robandit, Kakek Salto, atau Blackspiders. Pemilik dan salah satu pendiri forum, Erix, tidak menampik bahwa IDFL turut terbantu oleh popularitas Pein dan Lebah.


"Popularitas IDFL sangat terbantu dengan adanya Lebah Ganteng dan Pein Akatsuki," kata Erix dalam wawancara tertulis dengan Medcom.id belum lama ini. Saat kami hubungi, Erix hanya menyanggupi wawancara tertulis.

"Mereka berdua anggota IDFL yang ikut membantu mendirikan IDFL dan mengembangkan forum IDFL. They are precious for IDFL," lanjutnya.

Sebagai forum dengan fokus spesifik, IDFL lumayan populer di jagat internet era Twitter-Instagram-TikTok, kendati anggotanya jauh lebih kecil dari KasKus yang berjaya pada 2010-an awal.



Hingga awal Juli 2018 ini, anggota IDFL mencapai lebih dari 190 ribu pengguna yang tersebar di sejumlah daerah, seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Jumlah pengunjung harian situs webnya pada saat bersamaan mencapai 150-200 ribu pengguna, baik anggota atau bukan.

Namun menurut Erix, hanya sekitar 10% yang aktif berkomentar.

"Sisanya adalah silent readers yang hanya datang ke forum untuk mencari informasi tanpa berkomentar apapun," ujar Erix.

Cerita bahwa Pein, Lebah, atau penerjemah lain di IDFL berbagi subtitle format *.srt secara "cuma-cuma" bukanlah hal baru. Namun belakangan, mereka melakukan monetisasi juga atas subtitle dengan menyediakan spot iklan teks. Ini menjadi bukti pula bahwa penonton film/serial unduhan ilegal adalah pasar yang relatif besar.

"Kami membuka jasa iklan bukan untuk mengambil keuntungan pribadi, tetapi menutupi biaya operasional yang dikeluarkan seorang penerjemah," terang Erix.

Dinamika Forum Bawah Tanah Dunia Maya

IDFL resmi terbentuk pada 20 Februari 2012. Para pendirinya adalah orang-orang yang dulu aktif di forum serupa bernama Indofiles, tetapi memutuskan membuat forum sendiri.  Sebagian dari mereka juga sempat aktif di Indowebster.

Pengelola IDFL tersebar di banyak kota dan bekerja dari kota masing-masing. Kadang kala, mereka juga mengadakan kopdar (kopi darat) atau ajang kumpul tatap muka. Menurut Erix mereka punya kesibukan dan pekerjaan masing-masing di dunia nyata.

"Saya sendiri adalah arsitek. Lainnya, ada yang dosen, dokter gigi, pengusaha batu bara, pegiat IT, dan lain sebagainya," terangnya.

Salah satu fokus IDFL adalah melokalkan bahasa subtitle. Bukti keseriusan mereka adalah program sertifikasi SubsCrew. Betul, sertifikasi. SubsCrew adalah label yang diberikan bagi anggota IDFL, yang menurut penilaian tim IDFL, punya kualitas sulih teks terjemahan bermutu.

Anggota SubsCrew boleh memakai label ini untuk menandai subtitle garapan mereka yang disebar di situs web seperti Subscene. Label ini juga untuk membedakan mana anggota IDFL saja dan mana penerjemah tersertifikasi IDFL. Dengan keanggotaan ini, penerjemah juga mendapat bantuan perlindungan "hak cipta" atas sulih teks garapan masing-masing.

Perekrutan anggota SubsCrew sudah dimulai sejak 2013. Dalam utas forum yang ditulis moderator bernama alias Robandit, calon anggota baru diwajibkan membuat dan mengirim sulih teks berbahasa Indonesia untuk 10 film asing atau satu musim serial komplit. Setelah diterima, mereka harus bersedia untuk membuat sulih teks minimal satu film asing setiap bulan atau satu episode serial setiap pekan.



Menurut Erix, program label khusus ini mereka gunakan untuk melihat kesungguhan para penerjemah dalam membuat sulih teks berbahasa Indonesia.

"Serta benar dalam penulisan secara EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) – karena sangat banyak subtitle maker yang membuat subtitle berdasarkan terjemahan Google Translate. Maka dari itu, kami menyaring yang terbaik dan konsisten," ungkap Erix.

Tidak hanya SubsCrew, IDFL juga menyediakan sejumlah label khusus bagi jenis anggota tertentu. Misalnya tim media, yaitu Magzcrew yang bertugas membuat majalah film daring Moviemagz (sudah tak terbit), Librarians yang membuat artikel di forum, serta DJ Radio yang memilih daftar putar lagu di radio internet IDFL.

Selain itu, ada juga anggota Executive yang punya privilese akses ke sejumlah subforum tertutup dan terbebas dari iklan. Dari kalangan anggota inilah IDFL mendapat sebagian suntikan dana operasional karena anggota Executive membayar biaya bulanan. Menurut Erix, sistem anggota berbayar ini berjalan mulai 2013, setahun setelah IDFL berdiri.

"Sebuah forum butuh dana operasional. Dari sinilah (Executive), IDFL mendapatkan dana operasional," terangnya.

Selain itu, mereka juga menerima donasi.

"Sistem pendanaan IDFL adalah donasi anggota IDFL sendiri. Jika memang ada anggota yang peduli dengan kami, silakan menyumbang untuk kelangsungan hidup IDFL. Kami tak pernah memaksa agar setiap anggota menyumbang," imbuh Erix.

Lalu ada label unik, yaitu Lady of the House. Label ini sekadar menunjukkan jenis kelamin, bahwa anggota bersangkutan aslinya adalah perempuan. Anggota perempuan IRL (In Real Life) memberikan bukti data media sosial untuk verifikasi. Setelah itu, mereka punya akses ke subforum khusus perempuan.

Pemberian label ini juga mengisyaratkan, bahwa tidak sedikit anggota yang aslinya lelaki, tetapi mengaku perempuan di dunia maya. Bahasa slang internet Indonesia menyebutnya sebagai "hode", istilah yang diambil dari nama monster di gim Ragnarok Online. Silakan cari gambarnya dengan kata kunci "hode ragnarok" di situs pencarian dan kalian akan tahu alasan pemilihan slang ini.

"Yang mengaku perempuan padahal laki-laki itu ada. Maka kami verifikasi melalui berbagai tahap untuk memastikan bahwa anggota tersebut adalah perempuan, bukan hode – cewek jadi-jadian," ujar Erix.


Iklan Demi Biaya Operasional

Menerjemahkan sulih teks film asing bagi komunitas bisa saja menjadi kontribusi sukarela. Namun pekerjaan semacam ini bukan tanpa pengeluaran biaya – minimal untuk makan, minum, dan akses internet. Bagi Erix dan tim IDFL, mereka merasa harus mencari sumber pendapatan untuk menebus tanggungan operasional tersebut.

Karena itu, sejak beberapa bulan terakhir, mereka melakukan monetisasi atas subtitle terjemahan dengan menyediakan spot iklan teks. Kliennya beragam, mulai dari penjual makanan, mobil, hingga rumah. Pundi-pundi dari iklan subtitle ini menambah pemasukan yang telah didapat dari iklan banner dan pop-up di situs web IDFL.

Tidak hanya IDFL. Beberapa penerjemah seperti Pein membuka jasa iklan untuk sulih teks mereka sendiri. Dengan begini, para penonton film unduhan ilegal seperti tidak dibiarkan untuk menikmati tayangan gratisan cuma-cuma tanpa iklan.

"Harap Anda tahu, membuat subtitle itu bisa lama, kadang bisa sampai tiga hari," kata Erix menjelaskan alasan perambahan bisnis mereka ke iklan sulih teks.

"Selama tiga hari, kami ngapain saja selain membuat subtitle? Kami harus makan, ngopi, ngerokok, membayar kuota internet, dan biaya operasional lainnya. Jadi pada intinya, kami membuka jasa iklan bukan untuk mengambil keuntungan pribadi, tetapi untuk menutupi biaya operasional yang dikeluarkan oleh seorang penerjemah," lanjutnya.

Belakangan, penyematan iklan dalam sulih teks memang kian populer. Medium yang tidak baru-baru amat ini juga tidak hanya dimasuki iklan komersial, tetapi juga iklan politik. Pada Mei lalu misalnya, sebagian warganet Twitter sempat ribut-ribut mengenai teks iklan politik gerakan ganti presiden yang disusupkan ke subtitle terjemahan.

Menurut penelusuran Medcom.id, subtitle bermuatan iklan politik tersebut dibagikan oleh pengguna Subscene yang baru aktif sejak sebulan sebelumnya. Nyaris seluruh subtitle unggahannya berisi iklan politik.

Iklan Politik Pilpres 2019 Mulai Susupi Subtitle Serial TV Bajakan

Erix menyatakan dirinya dan tim IDFL tidak pernah dan tidak mau ikut campur persoalan semacam itu.

"Perlu kami verifikasi, penerjemah yang menyisipkan iklan politik di dalam subtitle-nya bukanlah anggota IDFL. Dia hanya lone wolf, artinya berdiri sendiri, atau bahkan bayaran partai politik? Kami tidak tahu. Namun yang pasti, pihak IDFL tidak akan pernah untuk ikut campur dalam dunia politik. It's sucks for us," jelasnya.

Barangkali, satu pertanyaan paling penting adalah soal hak cipta dan pembajakan. Sulih teks terjemahan berangkat dari film atau serial unduhan hasil rip (mengubah format) atau rekaman bioskop. Dari satu sisi, penyebaran materi komersial ini adalah pelanggaran hak cipta. Sebagian orang lebih suka menyebutnya sebagai "budaya berbagi".

Erix beralasan bahwa film/serial unduhan merupakan imbas dari ketiadaan materi tersebut di toko konvensional Indonesia. Ini bukan pendapat baru. Mungkin kita juga sering dengar itu dari para penikmat film/serial unduhan. Kalaupun ada tokonya, tidak setiap judul film/serial incaran tersedia.

"Budaya berbagi seperti ini ada positif dan negatifnya. Seringkali apa yang kita inginkan dan butuhkan tidak bisa dibeli secara resmi karena memang tidak tersedia di Indonesia (toko konvensional), tetapi kita bisa mendapatkannya melalui internet," kata Erix.

Salah satu toko konvensional adalah bioskop, yang mana memang belum tersebar merata di Indonesia.

"Dengan adanya budaya berbagi di internet, artinya kita tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak dan terutama waktu luang – yang mungkin tidak semua orang punya karena bekerja, untuk menuju bioskop," tukasnya.

Namun apakah ketersediaan bioskop di banyak daerah bisa benar-benar menekan angka persebaran konten film dan serial bajakan? Kita belum bisa tahu.


 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id