YOUR FASHION

Mengapa Batik Mahal? Ini Proses Panjang di Balik Pembuatannya

Fatha Annisa
Rabu 04 November 2026 / 18:01
Ringkasnya gini..
  • Harga batik yang relatif mahal sebanding dengan proses panjang di balik pembuatannya.
  • Proses tersebut mencakup riset motif, penentuan teknik produksi, hingga pengujian kualitas kain.
  • Kreator batik mengajak masyarakat lebih menghargai proses serta tenaga perajin dalam menghasilkan selembar batik.
Jakarta: Batik kerap dianggap sebagai produk fesyen dengan harga yang relatif mahal. Namun, harga tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses panjang di balik pembuatannya. Mulai dari riset untuk menemukan inspirasi, merancang motif, menentukan teknik produksi, hingga memastikan kualitas kain sebelum dipasarkan.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Nuraini Farida, seorang kreator batik sekaligus pemenang Design Batik Competition 2026 ‘Corak Cerita Nusantara’ yang diinisiasi ShopeePay dan SpayLater.
 
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami proses dan tenaga yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar kain batik. Ia pun berharap lebih banyak masyarakat yang menghargai proses di balik pembuatan batik.
   
“Di negeri batik ini, saya paling berharap adalah tidak ada yang ‘buta’ batik. Buta dalam proses, karena sebagian besar masyarakat kita masih bilang batik itu mahal, padahal lebih mahal lagi adalah prosesnya,” ujar Farida, Rabu, 4 November 2026.
 
Ia kemudian memberikan gambaran mengenai waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk membuat batik. Proses pengerjaan yang panjang seharusnya menjadi salah satu pertimbangan ketika masyarakat menilai harga sebuah produk batik.
 
“Kalau kita mau ngikutin bikin batik sampai dua minggu, duduk. Terus harganya Rp50 ribu, kan tidak mau. Terus begitu jadi selembar kain kemudian (mengeluh) ah mahal,” lanjutnya.
 
WhatsApp Image 2026-11-04 at 15_48_18(1)

Batik Kalantara karya Nuraini Farida. Foto: Medcom.id/fatha

 

 

Proses Membuat Batik Tidak Sederhana

Panjang dan kompleksnya proses pembuatan batik juga dijelaskan Ana Khairani, Founder Batik Organik. Ia mengatakan, proses tersebut bahkan sudah dimulai sebelum kain masuk ke tahap produksi.
 
“Point of view selama di industri batik, bagaimana mendesain sebuah batik itu ternyata memang perjalanannya sangat panjang dan kompleks. Mulai dari pertama kita eksplorasi sebenarnya apa sih yang mau kita angkat,” kata Ana.
 
Menurut Ana, desainer perlu melakukan riset untuk menemukan inspirasi yang sesuai dengan tema. Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi ikon atau motif yang memiliki cerita dan filosofi.
 
 
Tahap berikutnya adalah menyusun elemen-elemen visual agar saling terhubung. Ana menjelaskan, setiap ikon dalam motif harus memiliki makna dan tidak boleh berdiri sendiri. Penempatannya juga perlu diperhitungkan agar menghasilkan komposisi yang seimbang.
 
“Kalau cerita itu ada juga alur, nah di sini adalah perannya bagaimana kita memvisualkan ikon-ikon ini, kemudian kita buat agar layoutnya nyambung dan bermakna. Itu menjadi PR yang cukup berat untuk desainer, karena bagaimana caranya satu ikon dan ikon lainnya itu saling terhubung tidak berdiri sendiri,” jelas Ana.
 
“Masing-masing memiliki makna dan masing-masing itu harus disambungkan dengan teknik balancing,” tambahnya.
 
 


Teknik dan Warna Turut Tentukan Kualitas

Setelah desain selesai, proses berlanjut pada penentuan teknik produksi. Ana menyebutkan, desainer dan perajin perlu mempertimbangkan apakah motif tersebut memungkinkan untuk dibuat menggunakan teknik batik cap atau batik tulis.
 
Pertimbangan tersebut penting karena setiap teknik memiliki proses pengerjaan dan kebutuhan waktu yang berbeda. Produksi juga harus disesuaikan dengan jumlah pesanan serta tenggat waktu yang tersedia.
 
“Jadi batik tulis itu kan pastinya akan membutuhkan waktu lebih lama,” ungkap Ana.
 
Ia mencontohkan, apabila sebuah desain harus diproduksi hingga seribu potong dalam waktu tiga bulan, pelaku industri perlu memastikan teknik yang dipilih memungkinkan untuk memenuhi target tersebut.

WhatsApp Image 2026-11-04 at 16_00_02(1)Batik produksi Batik Organik milik Ana Khairani. Foto: Medcom.id/fatha

   
Kombinasi warna juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Berbeda dengan tekstil yang memiliki acuan warna tertentu, formulasi warna pada batik membutuhkan pengujian sebelum diterapkan dalam produksi massal.
 
“Warna batik berbeda dengan tekstil yang punya RGB sekian-sekian, lalu sangat akurat dengan warnanya yang diinginkan. Di batik itu berbeda formulasi warnanya sehingga sebelum kita produksi massal, kita buat dulu nih proses sampelnya dulu atau MVPnya kita buat skala kecilnya dulu,” kata Ana.
 
Pembuatan sampel dilakukan untuk melihat hasil akhir motif dan warna. Jika hasilnya belum sesuai, misalnya terlalu tebal atau terlihat kaku, desain perlu dievaluasi kembali sebelum masuk ke tahap produksi berikutnya.
 


Menjaga Kualitas hingga Kain Siap Dipasarkan

Selanjutnya, proses pembuatan batik mencakup sejumlah aspek teknis untuk memastikan kualitas produk. Ana menjelaskan, pelaku industri perlu memperhatikan kondisi air yang digunakan hingga proses pengeringan kain.
 
“Sangat banyak perjalanan sampai batik itu diproses, kita mulai dari memikirkan ataupun melihat bagaimana pH air yang dipertahankan 7-8, lalu bagaimana kita mempertahankan ruang untuk pengeringan ataupun dibawah sinar matahari suhunya sekian, supaya nanti benar-benar produk batik yang dihasilkan itu bisa melewati lolos uji,” jelasnya.
 
Berbagai tahapan tersebut memperlihatkan bahwa proses menghasilkan batik tidak berhenti pada pembuatan motif dan pewarnaan kain. Ada riset, keterampilan, pertimbangan teknis, serta pengujian yang perlu dilakukan agar produk memiliki kualitas yang baik, yang kemudian membuat harga kain batik relatif mahal.

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)

MOST SEARCH