Ilustrasi Pembatik. Foto: Ilustrasi/Dok. Unsplash.com
Ilustrasi Pembatik. Foto: Ilustrasi/Dok. Unsplash.com

Sejarah Hari Batik Nasional: Dari Keraton hingga Diakui UNESCO

Renatha Swasty • 02 Oktober 2026 13:04
Ringkasnya gini..
  • Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya pada 2009.
  • Puncak peringatan Hari Batik Nasional 2026 digelar di Surabaya mengusung tema 'Batik Berlayar'.
  • Seni membatik yang semula berkembang di lingkungan keraton kini bertransformasi menjadi simbol persatuan bangsa.
Jakarta: Setiap tanggal 2 Oktober, seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional sebagai wujud cinta Tanah Air. Perayaan ini mengingatkan pentingnya menjaga warisan leluhur yang telah diakui oleh dunia internasional.

Kain tradisional yang kaya akan nilai seni ini berakar dari sejarah panjang kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dahulu, corak indahnya hanya boleh dikenakan oleh bangsawan di dalam tembok keraton.

Seiring berjalannya waktu, seni membatik berhasil keluar dari istana dan dikembangkan oleh masyarakat luas. Proses akulturasi budaya turut memperkaya ragam motif yang kini menjadi identitas bangsa.

Kini, batik telah bertransformasi menjadi simbol persatuan yang melintasi batas generasi dan status sosial. Pelestariannya terus hidup melalui inovasi modern agar tetap relevan di era yang serba dinamis.

Lantas, bagaimana sejarah Hari Batik Nasional bermula hingga ditetapkan secara resmi? Yuk simak penjelasannya berikut ini.

Sejarah Hari Batik Nasional

Mengutip laman itjen.kemendikdasmen.go.id, kisahnya bermula ketika batik diperkenalkan ke dunia internasional oleh Presiden Soeharto dalam sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Indonesia kemudian mendaftarkan batik untuk status Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO pada 4 September 2008 di Jakarta.

Pengajuan itu diterima secara resmi pada 9 Januari 2009. Puncaknya, pada 2 Oktober 2009, batik dikukuhkan dalam sidang keempat Komite Antarpemerintah tentang Warisan Budaya Takbenda di Abu Dhabi. Batik masuk Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity bersama wayang, keris, noken, dan tari Saman.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lalu menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional lewat Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 pada 17 November 2009. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menindaklanjutinya dengan surat edaran yang mengimbau pegawai pemerintah di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten memakai batik setiap Hari Batik Nasional.

Dari Keraton ke Masyarakat

Sejarah batik terkait dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Jawa. Seni ini berkembang pada masa Mataram, lalu berlanjut di lingkungan keraton Solo dan Yogyakarta.

Awalnya batik hanya dikenakan raja dan keluarganya di dalam keraton. Seiring waktu, masyarakat umum mulai memproduksinya, dan batik menjadi pakaian yang digemari banyak orang. Batik tradisional memakai pewarna alami dari tumbuhan seperti mengkudu dan soga, serta soda abu dan tanah lumpur.

Tema Hari Batik Nasional 2026

Mengutip laman ikm.kemenperin.go.id, puncak peringatan Hari Batik Nasional 2026 digelar di Surabaya dengan tema ‘Batik Berlayar’. Tema ini menggambarkan batik yang tidak berhenti di satu tempat, melainkan terus bergerak menjangkau pasar yang lebih luas dan generasi yang lebih muda.

Semangat itu diperkuat dengan pemilihan Dermaga Kapal Taman Prestasi Surabaya sebagai lokasi puncak acara pada 2 Oktober 2026. Rangkaian kegiatannya berlangsung sejak 30 September hingga 4 Oktober 2026 dengan pameran, fashion show, dan talkshow.

Tema ini menjadi ruang bagi perajin, desainer, dan pelaku IKM batik untuk menampilkan kreativitas serta keberagaman corak batik Indonesia. Melalui sinergi dengan Industrial Fest 2026, pelestarian batik diharapkan berjalan seiring dengan inovasi, teknologi digital, dan prinsip keberlanjutan.

 
Museum Batik Indonesia_ DOK Kemenbud
Museum Batik Indonesia. DOK Kemenbud
 

Jenis-Jenis Batik

Dari cara pembuatannya, batik ada tiga jenis. Batik tulis digambar langsung dengan tangan memakai canting. Batik cap dibuat dengan cap tembaga, dan batik printing dicetak dengan mesin. 

Selain itu, setiap daerah punya motif khas dengan makna masing-masing. Berikut sepuluh motif yang populer di Indonesia yang dikutip dari laman lib.ub.ac.id: 

1. Tujuh Rupa (Pekalongan)

Motif ini bergambar hewan dan tumbuhan sehingga terasa dekat dengan alam. Coraknya perpaduan budaya lokal dan Tionghoa, karena dulu Pekalongan menjadi tempat singgah para pedagang dari banyak negara.

2. Sogan (Solo dan Yogyakarta)

Batik klasik ini identik dengan keraton dan diberi nama sesuai pewarna alami dari kayu soga. Sogan Yogya berwarna cokelat tua kehitaman dan putih, sedangkan sogan Solo berwarna cokelat keoranyean.

3. Gentongan (Madura)

Batik Madura ini terkenal dengan warna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan ungu. Namanya berasal dari gentong, yaitu wadah dari tanah liat untuk mencelup kain.

4. Mega Mendung (Cirebon)

Motif ini menggambarkan awan mendung dengan warna yang lembut. Tampilannya sederhana tetapi mewah, dan cocok dipakai oleh orang tua maupun anak muda.

5. Kraton (Yogyakarta)

Batik ini melambangkan kebijaksanaan dan wibawa raja-raja Jawa, dengan motif bunga simetris atau sayap burung yang disebut sawat lar. Dulu hanya warga keraton yang boleh memakainya, tetapi sekarang siapa saja boleh.

6. Simbut (Banten)

Motifnya berbentuk daun yang mirip daun talas dan merupakan yang paling sederhana. Batik ini berasal dari masyarakat Baduy, lalu berkembang di pesisir Banten sehingga juga disebut batik Banten.

7. Pring Sedapur (Magetan)

Motifnya berupa rumpun bambu dari lereng Gunung Lawu, tampil sederhana tetapi elegan. Bambu bermakna ketentraman, keteduhan, dan kerukunan, serta mengajarkan agar kita bermanfaat bagi orang lain.

8. Parang (Jawa)

 Motif ini berbentuk garis miring berombak seperti huruf 'S' dan termasuk salah satu yang tertua di Indonesia. Variannya antara lain Parang Rusak dan Parang Barong di Yogyakarta, Parang Slobog di Jawa Tengah, serta Parang Klisik di Jawa Barat.

9. Geblek Renteng (Kulon Progo)

Motif utamanya adalah geblek, makanan khas Kulon Progo, sehingga batik ini menjadi ikon daerah tersebut. Di sela-selanya ada lambang Binangun berbentuk kuncup bunga dan buah manggis, tanaman khas daerah itu.

10. Kawung (Jawa Tengah)

Motif ini berupa pola geometris yang tersusun rapi dan termasuk salah satu yang tertua di Jawa. Karena unik, motif ini sering dipakai desainer ternama sebagai dasar rancangan busana.

Satu Kain, Seribu Makna

Memakai batik adalah simbol persatuan yang melampaui perbedaan sosial, baik kaya maupun miskin. Batik juga sudah tampil di berbagai pagelaran mode internasional, termasuk di New York dan Milan.

Bagi generasi muda, peringatan HBN adalah ajakan untuk bangga mengenakannya sekaligus berinovasi dengan desain, teknologi digital, dan prinsip keberlanjutan, agar kain berusia berabad-abad ini terus relevan. 

Sobat Medcom, itulah informasi mengenai sejarah Hari Batik Nasional hingga jenis-jenisnya. Selamat memperingati Hari Batik Nasional! (Talitha Islamey)

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan