YOUR FASHION

Memahami Nilai Budaya, Filosofi, dan Proses dari Balik Selembar Kain Batik di Puspa Nuswantara 2026

A. Firdaus
Kamis 09 Juli 2026 / 09:15
Ringkasnya gini..
  • Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan Puspa Nuswantara 2026.
  • Industri batik saat ini menghadapi tantangan besar akibat banyaknya produk tekstil bermotif batik yang dipasarkan sebagai batik.
  • Pemerintah terus mendorong sertifikasi Indikasi Geografis (IG) bagi batik daerah.
Jakarta: Batik telah lama menjadi bagian dari identitas Indonesia. Namun, di tengah maraknya kain bermotif batik hasil produksi tekstil, masyarakat diingatkan untuk semakin mengenali perbedaan antara batik asli dan kain bermotif batik.

Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan Puspa Nuswantara 2026, pameran batik yang digelar Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada 8–12 Juli 2026.

Mengusung tema "Asli Batiknya, Asli Perajinnya, Asli Harganya", pameran ini tak hanya menjadi ajang memamerkan karya para perajin dari berbagai daerah, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih memahami nilai budaya, filosofi, dan proses di balik selembar kain batik.

Ketua Umum APPBI, Komarudin Kudiya, mengatakan industri batik saat ini menghadapi tantangan besar akibat banyaknya produk tekstil bermotif batik yang dipasarkan sebagai batik.

"Produk-produk tersebut sering kali dipasarkan sebagai batik sehingga menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat," ujarnya.
Menurut Komarudin, kondisi ini berdampak langsung pada para perajin batik tulis maupun batik cap, yang masih mempertahankan proses pembuatan secara tradisional dengan keterampilan tinggi dan waktu produksi yang tidak singkat.

Ia menegaskan bahwa batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan warisan budaya dunia sekaligus sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Karena itu, perlindungan terhadap batik asli memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.
 

Hadirkan ruang edukasi hingga regenerasi perajin


Selama lima hari penyelenggaraan, Puspa Nuswantara 2026 menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pameran batik, Pasar Batik Rakyat, workshop membatik, pameran budaya, hingga komunitas pecinta batik.

APPBI juga memperkenalkan dua program baru, yaitu Adikarya Nusantara dan Galeri Batik Nusantara, sebagai wadah promosi sekaligus edukasi untuk memperkenalkan karya batik asli dari berbagai daerah.

Tak hanya menjadi tempat transaksi, pameran ini juga diharapkan menjadi ruang regenerasi bagi para perajin dengan melibatkan generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai batik Indonesia.
 

Pemerintah dorong perlindungan batik asli


Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan batik memiliki potensi besar sebagai bagian dari industri kreatif berbasis budaya.

Meski penggunaannya semakin luas dalam kehidupan sehari-hari, ia mengakui masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara batik asli dan kain bermotif batik.

"Kain bermotif batik silakan berkembang sebagai bagian dari industri tekstil, namun jangan sampai mengaburkan makna batik yang sesungguhnya," tegasnya.


Puspa Nuswantara 2026 mengusung tema: Asli Batiknya, Asli Perajinnya, Asli Harganya. Dok. SMN

Sebagai bentuk perlindungan, pemerintah terus mendorong sertifikasi Indikasi Geografis (IG) bagi batik daerah. Hingga kini, terdapat 14 batik yang telah memperoleh sertifikat tersebut dan jumlahnya diharapkan terus bertambah.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan berbagai program untuk meningkatkan daya saing industri batik, mulai dari pendampingan teknis, modernisasi peralatan produksi, peningkatan kapasitas perajin, hingga perluasan akses pasar.
 

Motif baru dari Pakualaman


Pembukaan Puspa Nuswantara 2026 juga menjadi momen peluncuran Batik Puspawicitra Pakualaman, motif terbaru dari Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.

Menurut GKBRAA Paku Alam, inovasi menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian budaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Motif Puspawicitra mengangkat nilai keberanian, keteguhan, kelembutan, dan keharmonisan yang diwujudkan melalui perpaduan unsur budaya, filosofi, dan estetika khas Pakualaman.

Peluncuran motif tersebut turut dimeriahkan dengan pertunjukan tari yang memadukan unsur tradisional dan sentuhan modern sebagai simbol bahwa budaya terus hidup dan berkembang.
 

Batik adalah identitas bangsa


Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menilai pelestarian batik merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

Menurutnya, kegiatan seperti Puspa Nuswantara memiliki peran strategis dalam memperkuat kolaborasi antarpelaku industri, memperluas jejaring usaha, sekaligus memperkenalkan kekayaan batik Indonesia kepada masyarakat dunia.

Ia berharap pameran ini terus berkembang sebagai agenda budaya nasional yang mampu memperkuat industri batik sekaligus meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap salah satu warisan budaya Indonesia.

Dengan menggabungkan edukasi, apresiasi budaya, promosi karya perajin, hingga inovasi, Puspa Nuswantara 2026 menunjukkan bahwa batik bukan sekadar tren fesyen, tetapi identitas bangsa yang perlu dijaga bersama agar tetap lestari dan mampu bersaing di tingkat global.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH