FITNESS & HEALTH
Nggak Cuma soal Tujuan Hidup, Kecemasan Juga Bisa Bikin Hidup Terasa Mandek
A. Firdaus
Rabu 08 Juli 2026 / 12:26
- Orang-orang yang sebelumnya pernah memiliki pikiran bunuh diri, justru mengaku keinginan tersebut berkurang.
- Ketika rasa takut terhadap kematian menghilang, mereka juga menjadi lebih berani menjalani hidup.
- Pentingnya belajar tetap menjalani hidup, meski kecemasan belum sepenuhnya hilang.
Jakarta: Merasa hidup kehilangan arah tidak selalu muncul, karena tidak memiliki tujuan. Dalam banyak kasus, rasa cemas yang terus menghantui justru membuat seseorang sulit melangkah, mencoba hal baru, bahkan menikmati kehidupan sehari-hari.
Ketika pikiran dipenuhi rasa takut dan kekhawatiran, dunia terasa semakin sempit hingga seseorang lebih memilih bertahan di zona aman. Para ahli pun menilai bahwa memahami akar kecemasan, menjadi langkah penting untuk kembali menemukan makna dan semangat hidup.
Dilansir dari Psychology Today menurut psikiater Bruce Greyson, MD, penulis buku After, pernah meneliti pengalaman mendekati kematian atau near-death experience.
Banyak orang yang mengalami pengalaman tersebut mengaku merasakan kasih sayang, yang begitu besar sehingga mereka tidak lagi takut menghadapi kematian.
Awalnya, Greyson khawatir temuan itu justru bisa memengaruhi orang, yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Namun, hasil wawancaranya menunjukkan hal yang berbeda.
Orang-orang yang sebelumnya pernah memiliki pikiran bunuh diri, justru mengaku keinginan tersebut berkurang, setelah mengalami pengalaman mendekati kematian.
Menurut Greyson, ketika rasa takut terhadap kematian menghilang, mereka juga menjadi lebih berani menjalani hidup. Mereka lebih berani mengambil kesempatan, mencoba hal-hal baru, dan menghadapi tantangan yang sebelumnya selalu dihindari. Keberanian itulah, yang akhirnya membantu mengurangi pikiran untuk mengakhiri hidup.
Pelajaran yang bisa dipetik dari temuan tersebut adalah pentingnya belajar tetap menjalani hidup, meski kecemasan belum sepenuhnya hilang. Kecemasan sering membuat seseorang merasa dunia tidak lagi aman.
Akibatnya, setiap keputusan dipenuhi rasa waswas, semangat berkurang, kreativitas terhambat, dan keinginan untuk mengejar impian perlahan memudar.
Dalam jangka panjang, kecemasan juga membuat seseorang terlalu berhati-hati hingga kehilangan banyak kesempatan. Padahal, keberanian untuk melangkah, sering kali menjadi awal munculnya kembali rasa percaya diri dan tujuan hidup.
Selain kecemasan, pola pikir yang dipenuhi kata "harus" juga bisa menjadi penghambat. Sebagian orang menjalani hidup dengan berbagai aturan kaku, tentang apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana seharusnya bersikap, atau seperti apa kehidupan yang dianggap benar.
Cara berpikir hitam-putih seperti ini, sering kali dipicu oleh kecemasan yang tersembunyi. Akibatnya, ruang untuk berkembang menjadi semakin sempit, karena setiap keputusan selalu diukur berdasarkan rasa takut melakukan kesalahan. Perlahan, tujuan hidup pun terasa terkekang dan sulit berkembang karena terlalu banyak batasan yang diciptakan oleh diri sendiri.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Ketika pikiran dipenuhi rasa takut dan kekhawatiran, dunia terasa semakin sempit hingga seseorang lebih memilih bertahan di zona aman. Para ahli pun menilai bahwa memahami akar kecemasan, menjadi langkah penting untuk kembali menemukan makna dan semangat hidup.
Saat takut berkurang, keberanian untuk hidup justru muncul
Dilansir dari Psychology Today menurut psikiater Bruce Greyson, MD, penulis buku After, pernah meneliti pengalaman mendekati kematian atau near-death experience.
Banyak orang yang mengalami pengalaman tersebut mengaku merasakan kasih sayang, yang begitu besar sehingga mereka tidak lagi takut menghadapi kematian.
Awalnya, Greyson khawatir temuan itu justru bisa memengaruhi orang, yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Namun, hasil wawancaranya menunjukkan hal yang berbeda.
Orang-orang yang sebelumnya pernah memiliki pikiran bunuh diri, justru mengaku keinginan tersebut berkurang, setelah mengalami pengalaman mendekati kematian.
Menurut Greyson, ketika rasa takut terhadap kematian menghilang, mereka juga menjadi lebih berani menjalani hidup. Mereka lebih berani mengambil kesempatan, mencoba hal-hal baru, dan menghadapi tantangan yang sebelumnya selalu dihindari. Keberanian itulah, yang akhirnya membantu mengurangi pikiran untuk mengakhiri hidup.
Kecemasan membuat hidup terasa semakin sempit
Pelajaran yang bisa dipetik dari temuan tersebut adalah pentingnya belajar tetap menjalani hidup, meski kecemasan belum sepenuhnya hilang. Kecemasan sering membuat seseorang merasa dunia tidak lagi aman.
Akibatnya, setiap keputusan dipenuhi rasa waswas, semangat berkurang, kreativitas terhambat, dan keinginan untuk mengejar impian perlahan memudar.
Dalam jangka panjang, kecemasan juga membuat seseorang terlalu berhati-hati hingga kehilangan banyak kesempatan. Padahal, keberanian untuk melangkah, sering kali menjadi awal munculnya kembali rasa percaya diri dan tujuan hidup.
Terjebak dalam aturan 'harus'
Selain kecemasan, pola pikir yang dipenuhi kata "harus" juga bisa menjadi penghambat. Sebagian orang menjalani hidup dengan berbagai aturan kaku, tentang apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana seharusnya bersikap, atau seperti apa kehidupan yang dianggap benar.
Cara berpikir hitam-putih seperti ini, sering kali dipicu oleh kecemasan yang tersembunyi. Akibatnya, ruang untuk berkembang menjadi semakin sempit, karena setiap keputusan selalu diukur berdasarkan rasa takut melakukan kesalahan. Perlahan, tujuan hidup pun terasa terkekang dan sulit berkembang karena terlalu banyak batasan yang diciptakan oleh diri sendiri.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)