FITNESS & HEALTH
Spill The Truth! Kenapa Banyak Orang Dewasa yang Gagal Adulting soal Emosi?
A. Firdaus
Selasa 23 Juni 2026 / 08:26
- Banyak kasus yang berkaitan dengan depresi, kecemasan, amarah berlebihan, hingga masalah perkawinan ternyata memiliki akar yang sama.
- Perbedaan usia emosional dapat dilihat dengan jelas pada perilaku anak-anak dan orang dewasa.
- Kematangan emosional bukan hanya soal usia, melainkan tentang kemampuan mengelola emosi.
Jakarta: Tidak semua orang yang telah memasuki usia dewasa, secara otomatis memiliki kematangan emosional yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang ditemukan orang yang terlihat mandiri, sukses, atau bertanggung jawab, tetapi masih kesulitan mengelola emosi, menghadapi konflik, atau membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Kematangan emosional ternyata tidak selalu berkembang seiring bertambahnya usia, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pola asuh, dan kemampuan seseorang dalam memahami serta mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam praktik klinis, banyak kasus yang berkaitan dengan depresi, kecemasan, amarah berlebihan, hingga masalah perkawinan ternyata memiliki akar yang sama, yaitu kurang berkembangnya kemampuan emosional, yang seharusnya dimiliki oleh orang dewasa.
Meski usia terus bertambah, sebagian orang belum sepenuhnya menguasai keterampilan dasar, untuk mengelola emosi dan menjalani hubungan secara sehat.
Menariknya, seseorang sering kali tampak sangat dewasa ketika dilihat secara individu. Namun, gambaran yang berbeda bisa muncul, saat berinteraksi dengan pasangan dalam sesi terapi pasangan.
Dalam situasi tersebut, berbagai pola perilaku yang tidak matang, tidak sehat, atau bahkan menyakitkan bagi pasangan menjadi lebih mudah terlihat. Sebaliknya, sikap yang tenang, penuh hormat, dan mampu mengendalikan diri, juga menunjukkan tingkat kedewasaan emosional yang lebih baik.
Dilansir dari Psychology Today, seorang psikolog dari Afrika yang pernah berbicara dalam sebuah konferensi psikologi internasional, menjelaskan bahwa di negaranya, seseorang sering dinilai berdasarkan dua hal, yaitu usia fisik dan usia emosional.
Usia fisik dihitung dari jumlah tahun kehidupan seseorang, dan biasanya berkaitan dengan perkembangan tubuh maupun kemampuan kognitif. Sementara itu, usia emosional terlihat dari cara seseorang bereaksi terhadap situasi, mengelola perasaan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Orang yang memiliki kematangan emosional, cenderung mampu menenangkan diri saat menghadapi masalah, berpikir sebelum berbicara, serta mempertimbangkan dampak dari tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, individu dengan usia emosional, yang lebih rendah sering kali bertindak impulsif, mudah tersinggung, atau kesulitan mengendalikan amarah.
Perbedaan usia emosional dapat dilihat dengan jelas pada perilaku anak-anak dan orang dewasa. Ketika balita menginginkan mainan yang sedang digunakan anak lain, mereka biasanya langsung mengambilnya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Anak-anak prasekolah juga lebih mudah menangis, marah, atau frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Hal ini terjadi karena mereka masih berada dalam tahap belajar memahami aturan sosial, seperti bergiliran, berbagi, dan menghormati orang lain. Kemampuan untuk mengendalikan emosi serta mempertimbangkan konsekuensi tindakan, belum berkembang secara penuh.
Seiring bertambahnya usia, seseorang diharapkan mulai menginternalisasi nilai-nilai tersebut, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah, perilaku yang dianggap wajar pada anak-anak, akan terlihat tidak pantas jika masih sering ditunjukkan oleh orang dewasa.
Pada akhirnya, kematangan emosional bukan hanya soal usia, melainkan tentang kemampuan mengelola emosi, menghargai orang lain, serta bertindak dengan pertimbangan yang matang.
Seseorang bisa saja berusia dewasa secara fisik, tetapi masih menunjukkan pola perilaku, yang mirip dengan anak-anak ketika menghadapi konflik atau kekecewaan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Kematangan emosional ternyata tidak selalu berkembang seiring bertambahnya usia, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pola asuh, dan kemampuan seseorang dalam memahami serta mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam praktik klinis, banyak kasus yang berkaitan dengan depresi, kecemasan, amarah berlebihan, hingga masalah perkawinan ternyata memiliki akar yang sama, yaitu kurang berkembangnya kemampuan emosional, yang seharusnya dimiliki oleh orang dewasa.
Meski usia terus bertambah, sebagian orang belum sepenuhnya menguasai keterampilan dasar, untuk mengelola emosi dan menjalani hubungan secara sehat.
Menariknya, seseorang sering kali tampak sangat dewasa ketika dilihat secara individu. Namun, gambaran yang berbeda bisa muncul, saat berinteraksi dengan pasangan dalam sesi terapi pasangan.
Dalam situasi tersebut, berbagai pola perilaku yang tidak matang, tidak sehat, atau bahkan menyakitkan bagi pasangan menjadi lebih mudah terlihat. Sebaliknya, sikap yang tenang, penuh hormat, dan mampu mengendalikan diri, juga menunjukkan tingkat kedewasaan emosional yang lebih baik.
Memahami konsep usia emosional
Dilansir dari Psychology Today, seorang psikolog dari Afrika yang pernah berbicara dalam sebuah konferensi psikologi internasional, menjelaskan bahwa di negaranya, seseorang sering dinilai berdasarkan dua hal, yaitu usia fisik dan usia emosional.
Usia fisik dihitung dari jumlah tahun kehidupan seseorang, dan biasanya berkaitan dengan perkembangan tubuh maupun kemampuan kognitif. Sementara itu, usia emosional terlihat dari cara seseorang bereaksi terhadap situasi, mengelola perasaan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Orang yang memiliki kematangan emosional, cenderung mampu menenangkan diri saat menghadapi masalah, berpikir sebelum berbicara, serta mempertimbangkan dampak dari tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, individu dengan usia emosional, yang lebih rendah sering kali bertindak impulsif, mudah tersinggung, atau kesulitan mengendalikan amarah.
Mengapa anak dan orang dewasa bereaksi berbeda?
Perbedaan usia emosional dapat dilihat dengan jelas pada perilaku anak-anak dan orang dewasa. Ketika balita menginginkan mainan yang sedang digunakan anak lain, mereka biasanya langsung mengambilnya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Anak-anak prasekolah juga lebih mudah menangis, marah, atau frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Hal ini terjadi karena mereka masih berada dalam tahap belajar memahami aturan sosial, seperti bergiliran, berbagi, dan menghormati orang lain. Kemampuan untuk mengendalikan emosi serta mempertimbangkan konsekuensi tindakan, belum berkembang secara penuh.
Seiring bertambahnya usia, seseorang diharapkan mulai menginternalisasi nilai-nilai tersebut, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah, perilaku yang dianggap wajar pada anak-anak, akan terlihat tidak pantas jika masih sering ditunjukkan oleh orang dewasa.
Kedewasaan emosional lebih dari sekadar bertambah usia
Pada akhirnya, kematangan emosional bukan hanya soal usia, melainkan tentang kemampuan mengelola emosi, menghargai orang lain, serta bertindak dengan pertimbangan yang matang.
Seseorang bisa saja berusia dewasa secara fisik, tetapi masih menunjukkan pola perilaku, yang mirip dengan anak-anak ketika menghadapi konflik atau kekecewaan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)