FITNESS & HEALTH
Ternyata Peradangan Bisa Jadi Pemicu Depresi? Ini Penjelasan Para Ahli
A. Firdaus
Rabu 08 Juli 2026 / 11:15
- Faktor gaya hidup dan lingkungan, memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.
- Faktor yang dapat memicu peradangan berkepanjangan.
- Penelitian mengenai depresi banyak berfokus pada perubahan yang terjadi di otak.
Jakarta: Penelitian terbaru semakin memperkuat dugaan bahwa depresi tidak selalu berawal dari gangguan pada otak saja. Pada sebagian orang, kondisi ini diduga berkaitan dengan peradangan kronis tingkat ringan, yang berlangsung dalam tubuh.
Temuan tersebut membuat para ilmuwan mulai mencari tahu apa, yang sebenarnya memicu peradangan tersebut, dan apakah risikonya bisa dicegah sebelum berkembang menjadi depresi. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor gaya hidup dan lingkungan, memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.
Jika depresi memang dipengaruhi oleh peradangan, maka pertanyaan berikutnya adalah apa yang menyebabkan peradangan kronis tersebut muncul.
Sebuah editorial ahli yang diterbitkan pada 2013 menyebutkan sejumlah faktor yang dapat memicu peradangan berkepanjangan, di antaranya stres psikososial, pola makan yang kurang sehat, kurang berolahraga, obesitas, kebiasaan merokok, perubahan permeabilitas usus, atopi, masalah kesehatan gigi seperti kerusakan atau gigi berlubang, kurang tidur, hingga kekurangan vitamin D.
Seiring berkembangnya penelitian, para ilmuwan juga menemukan bahwa faktor lingkungan, termasuk polusi udara, diduga ikut berkontribusi terhadap munculnya peradangan dalam tubuh.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Bill Sullivan, Ph.D., adalah penulis buku "Pleased to Meet Me: Genes, Germs, and the Curious Forces That Make Us Who We Are" dan seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Indiana, menjaga pola makan bergizi, rutin beraktivitas fisik, tidur yang cukup, serta mengelola stres dinilai dapat membantu menekan risiko peradangan, sekaligus menjaga kesehatan mental.
Selama lebih dari 50 tahun, penelitian mengenai depresi banyak berfokus pada perubahan yang terjadi di otak. Namun, temuan-temuan terbaru, menunjukkan bahwa cara pandang tersebut perlu diperluas. Para peneliti menilai tubuh dan pikiran saling berkaitan, sehingga kondisi fisik juga dapat memengaruhi kesehatan mental.
Bahkan, sejumlah ahli mulai mengusulkan agar depresi dipandang seperti kanker, yaitu sebagai penyakit yang tidak memiliki satu penyebab tunggal. Depresi kemungkinan muncul akibat kombinasi berbagai faktor, baik yang berasal dari kondisi mental maupun fisik.
Cara pandang ini diharapkan dapat membuka peluang penelitian baru, sekaligus menghadirkan pilihan pengobatan yang lebih beragam bagi para pasien.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Temuan tersebut membuat para ilmuwan mulai mencari tahu apa, yang sebenarnya memicu peradangan tersebut, dan apakah risikonya bisa dicegah sebelum berkembang menjadi depresi. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor gaya hidup dan lingkungan, memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.
Jika depresi memang dipengaruhi oleh peradangan, maka pertanyaan berikutnya adalah apa yang menyebabkan peradangan kronis tersebut muncul.
Sebuah editorial ahli yang diterbitkan pada 2013 menyebutkan sejumlah faktor yang dapat memicu peradangan berkepanjangan, di antaranya stres psikososial, pola makan yang kurang sehat, kurang berolahraga, obesitas, kebiasaan merokok, perubahan permeabilitas usus, atopi, masalah kesehatan gigi seperti kerusakan atau gigi berlubang, kurang tidur, hingga kekurangan vitamin D.
Seiring berkembangnya penelitian, para ilmuwan juga menemukan bahwa faktor lingkungan, termasuk polusi udara, diduga ikut berkontribusi terhadap munculnya peradangan dalam tubuh.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Bill Sullivan, Ph.D., adalah penulis buku "Pleased to Meet Me: Genes, Germs, and the Curious Forces That Make Us Who We Are" dan seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Indiana, menjaga pola makan bergizi, rutin beraktivitas fisik, tidur yang cukup, serta mengelola stres dinilai dapat membantu menekan risiko peradangan, sekaligus menjaga kesehatan mental.
Selama lebih dari 50 tahun, penelitian mengenai depresi banyak berfokus pada perubahan yang terjadi di otak. Namun, temuan-temuan terbaru, menunjukkan bahwa cara pandang tersebut perlu diperluas. Para peneliti menilai tubuh dan pikiran saling berkaitan, sehingga kondisi fisik juga dapat memengaruhi kesehatan mental.
Bahkan, sejumlah ahli mulai mengusulkan agar depresi dipandang seperti kanker, yaitu sebagai penyakit yang tidak memiliki satu penyebab tunggal. Depresi kemungkinan muncul akibat kombinasi berbagai faktor, baik yang berasal dari kondisi mental maupun fisik.
Cara pandang ini diharapkan dapat membuka peluang penelitian baru, sekaligus menghadirkan pilihan pengobatan yang lebih beragam bagi para pasien.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)