FITNESS & HEALTH

Ternyata Depresi Bisa Berhubungan dengan Sistem Imun? Ini Penjelasan Ilmiahnya

A. Firdaus
Sabtu 04 Juli 2026 / 07:07
Ringkasnya gini..
  • Sejumlah ilmuwan kini mulai meneliti hubungan, antara sistem kekebalan tubuh dan munculnya depresi.
  • Sekitar 332 juta orang di seluruh dunia, kondisi yang menyerupai "perilaku sakit" tersebut tidak kunjung menghilang.
  • Pada tahun 1950-an, dokter menemukan bahwa pasien yang mengonsumsi obat tekanan darah tinggi, bernama reserpine sering mengalami gejala depresi.
Jakarta: Depresi selama ini sering dikaitkan dengan kondisi psikologis, atau ketidakseimbangan zat kimia di otak. Namun, perkembangan penelitian menunjukkan bahwa penyebab depresi, mungkin jauh lebih kompleks. 

Sejumlah ilmuwan kini mulai meneliti hubungan, antara sistem kekebalan tubuh dan munculnya depresi. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa pada sebagian orang, depresi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor mental atau hormon, tetapi juga oleh respons sistem imun yang terus aktif, meski tubuh sebenarnya sudah tidak lagi membutuhkan perlindungan tersebut.

Hampir setiap orang pernah mengalami masa ketika tubuh terasa lemah karena sakit. Saat itu, biasanya muncul keinginan untuk beristirahat, menghindari keramaian, kehilangan semangat beraktivitas, hingga memilih menghabiskan waktu sendirian di tempat tidur. 

Menurut Bill Sullivan, Ph.D., adalah penulis buku "Pleased to Meet Me: Genes, Germs, and the Curious Forces That Make Us Who We Are" dan seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Indiana, kondisi ini dikenal para ilmuwan sebagai "perilaku sakit" (sickness behavior). 

Respons tersebut dianggap sebagai bagian, dari mekanisme alami tubuh untuk mempercepat proses pemulihan. Dengan mengurangi aktivitas dan membatasi kontak dengan orang lain, tubuh dapat menghemat energi untuk melawan infeksi, sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit.

Namun, dilansir dari Psychology Today, sekitar 332 juta orang di seluruh dunia, kondisi yang menyerupai "perilaku sakit" tersebut tidak kunjung menghilang.

Perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, kelelahan, hingga menarik diri dari lingkungan tetap bertahan, meski tubuh sudah tidak mengalami infeksi atau cedera. 

Dari sinilah muncul dugaan bahwa pada sebagian kasus, depresi bisa terjadi karena sistem kekebalan tubuh, terus memberikan respons seolah-olah tubuh masih sedang sakit.
 

Dari zat kimia otak hingga sistem kekebalan tubuh


Jauh sebelum muncul teori tentang sistem imun, para ilmuwan lebih dulu mengaitkan depresi dengan zat kimia di dalam otak. Pada 1950-an, dokter menemukan bahwa pasien yang mengonsumsi obat tekanan darah tinggi, bernama reserpine sering mengalami gejala depresi.

Sebaliknya, pasien tuberkulosis yang menjalani pengobatan menggunakan iproniazid, justru melaporkan suasana hati yang jauh lebih baik dan bahkan merasakan euforia.

Pengamatan tersebut kemudian melahirkan "hipotesis monoamin" sekitar satu dekade kemudian. Para peneliti menemukan bahwa reserpine dan iproniazid, sama-sama memengaruhi kadar monoamin di otak, yaitu serotonin, norepinefrin, dan dopamin. 

Ketiga zat kimia ini diketahui berperan penting dalam mengatur suasana hati, sehingga penemuan tersebut menjadi dasar pengembangan obat antidepresan, jenis Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), seperti fluoxetine (Prozac).
 

Masih menyisakan banyak pertanyaan


Meski obat antidepresan yang bekerja pada sistem monoamin telah membantu banyak penderita depresi, para peneliti masih menemukan sejumlah hal yang belum sepenuhnya terjawab. 

Kadar monoamin di otak tidak selalu sejalan, dengan tingkat keparahan depresi yang dialami seseorang. Selain itu, obat SSRI umumnya membutuhkan waktu beberapa minggu, sebelum mulai menunjukkan efek, padahal perubahan kadar monoamin terjadi jauh lebih cepat.

Yang juga menjadi perhatian adalah sekitar sepertiga penderita depresi, tidak memberikan respons terhadap pengobatan tersebut. 

Kondisi inilah yang mendorong para ilmuwan untuk terus mencari penjelasan lain mengenai penyebab depresi, termasuk kemungkinan adanya keterlibatan sistem kekebalan tubuh. 

Penelitian di bidang ini masih terus berkembang dan diharapkan dapat membuka jalan, bagi terapi baru yang lebih efektif bagi mereka, yang belum mendapatkan manfaat dari pengobatan yang tersedia saat ini.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH