FITNESS & HEALTH
Jangan Tertipu Matahari Pagi, Penelitian Ungkap Risiko Kerusakan Kulit
A. Firdaus
Kamis 02 Juli 2026 / 10:11
- Penelitian terbaru dari Australia menunjukkan anggapan itu belum tentu benar.
- Paparan sinar ultraviolet (UV), meski terjadi saat intensitas matahari relatif rendah, tetap dapat memicu kerusakan kulit
- Peneliti juga mengamati peningkatan protein p53, yaitu penanda biologis yang berkaitan dengan kerusakan DNA.
Jakarta: Banyak orang memilih beraktivitas di luar ruangan pada pagi atau sore hari karena menganggap sinar matahari pada waktu tersebut lebih aman bagi kulit. Namun, penelitian terbaru dari Australia menunjukkan anggapan itu belum tentu benar.
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari QIMR Berghofer Medical Research Institute menemukan bahwa paparan sinar ultraviolet (UV), meski terjadi saat intensitas matahari relatif rendah, tetap dapat memicu kerusakan kulit apabila dosis paparan yang diterima cukup besar.
Profesor Rachel Neale, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa yang menentukan risiko bukan hanya seberapa terik matahari, melainkan total dosis radiasi UV yang diterima kulit.
"Kamu bisa mendapatkan dosis radiasi UV yang sama dalam waktu singkat pada tengah hari atau dalam waktu yang lebih lama pada awal atau akhir hari. Yang paling penting adalah total dosis paparan UV yang diterima kulit," jelas Neale melansir Antara.
Menurutnya, banyak orang merasa lebih aman berada di luar ruangan saat matahari tidak terlalu terik. Akibatnya, mereka justru menghabiskan waktu lebih lama tanpa perlindungan seperti tabir surya, topi, atau pakaian pelindung.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Photochemistry and Photobiology, para peneliti melakukan biopsi kulit untuk melihat dampak paparan UV. Hasilnya menunjukkan adanya kerusakan DNA serta respons stres pada sel kulit, baik ketika paparan terjadi dalam waktu singkat dengan intensitas tinggi maupun dalam waktu lebih lama dengan intensitas yang lebih rendah.
Peneliti juga mengamati peningkatan protein p53, yaitu penanda biologis yang berkaitan dengan kerusakan DNA. Menariknya, perubahan tersebut sudah terlihat bahkan sebelum kulit mengalami kemerahan atau sunburn.
Profesor David Whiteman mengatakan paparan UV dosis rendah yang terjadi berulang kali dapat memberikan efek kumulatif pada kulit.
"Paparan berulang dalam kadar rendah dapat menyebabkan mutasi pada sel yang pada akhirnya meningkatkan risiko kanker kulit," ujarnya.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa sinar matahari tetap dibutuhkan tubuh, terutama untuk membantu pembentukan vitamin D yang penting bagi kesehatan tulang dan sistem imun.
Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan kebiasaan melindungi kulit saat beraktivitas di luar ruangan, baik pada pagi, siang, maupun sore hari.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menggunakan sunscreen dengan SPF yang sesuai, mengenakan topi bertepi lebar, memakai pakaian yang menutupi kulit, serta membatasi durasi paparan sinar matahari jika dilakukan dalam waktu lama.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa risiko paparan sinar UV tidak hanya bergantung pada seberapa terik matahari, tetapi juga pada akumulasi paparan yang diterima kulit sepanjang hari.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari QIMR Berghofer Medical Research Institute menemukan bahwa paparan sinar ultraviolet (UV), meski terjadi saat intensitas matahari relatif rendah, tetap dapat memicu kerusakan kulit apabila dosis paparan yang diterima cukup besar.
Profesor Rachel Neale, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa yang menentukan risiko bukan hanya seberapa terik matahari, melainkan total dosis radiasi UV yang diterima kulit.
"Kamu bisa mendapatkan dosis radiasi UV yang sama dalam waktu singkat pada tengah hari atau dalam waktu yang lebih lama pada awal atau akhir hari. Yang paling penting adalah total dosis paparan UV yang diterima kulit," jelas Neale melansir Antara.
Menurutnya, banyak orang merasa lebih aman berada di luar ruangan saat matahari tidak terlalu terik. Akibatnya, mereka justru menghabiskan waktu lebih lama tanpa perlindungan seperti tabir surya, topi, atau pakaian pelindung.
Kerusakan kulit bisa terjadi sebelum kulit memerah
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Photochemistry and Photobiology, para peneliti melakukan biopsi kulit untuk melihat dampak paparan UV. Hasilnya menunjukkan adanya kerusakan DNA serta respons stres pada sel kulit, baik ketika paparan terjadi dalam waktu singkat dengan intensitas tinggi maupun dalam waktu lebih lama dengan intensitas yang lebih rendah.
Peneliti juga mengamati peningkatan protein p53, yaitu penanda biologis yang berkaitan dengan kerusakan DNA. Menariknya, perubahan tersebut sudah terlihat bahkan sebelum kulit mengalami kemerahan atau sunburn.
Profesor David Whiteman mengatakan paparan UV dosis rendah yang terjadi berulang kali dapat memberikan efek kumulatif pada kulit.
"Paparan berulang dalam kadar rendah dapat menyebabkan mutasi pada sel yang pada akhirnya meningkatkan risiko kanker kulit," ujarnya.
Tetap butuh sinar matahari, tetapi jangan abaikan perlindungan
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa sinar matahari tetap dibutuhkan tubuh, terutama untuk membantu pembentukan vitamin D yang penting bagi kesehatan tulang dan sistem imun.
Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan kebiasaan melindungi kulit saat beraktivitas di luar ruangan, baik pada pagi, siang, maupun sore hari.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menggunakan sunscreen dengan SPF yang sesuai, mengenakan topi bertepi lebar, memakai pakaian yang menutupi kulit, serta membatasi durasi paparan sinar matahari jika dilakukan dalam waktu lama.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa risiko paparan sinar UV tidak hanya bergantung pada seberapa terik matahari, tetapi juga pada akumulasi paparan yang diterima kulit sepanjang hari.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)