FITNESS & HEALTH

Harapan Baru? Studi Ungkap Obat Antiinflamasi Berpotensi Redakan Gejala Depresi

A. Firdaus
Selasa 07 Juli 2026 / 18:10
Ringkasnya gini..
  • Peneliti dari Universitas Bristol memberikan obat tocilizumab kepada 14 pasien, sementara 16 pasien lainnya menerima plasebo.
  • Tocilizumab merupakan obat biologis yang selama ini digunakan untuk mengobati artritis reumatoid, yaitu penyakit autoimun.
  • Walaupun masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan ini dinilai cukup menjanjikan untuk dikembangkan, dalam skala yang lebih besar.
Jakarta: Penelitian mengenai hubungan, antara sistem kekebalan tubuh dan depresi terus berkembang. Kini, para ilmuwan menemukan petunjuk baru, yang menunjukkan bahwa obat antiinflamasi, mungkin dapat membantu meredakan gejala depresi, terutama pada pasien yang tidak membaik setelah menjalani pengobatan antidepresan biasa. 

Meski hasilnya masih bersifat awal, temuan ini membuka peluang lahirnya pendekatan terapi baru, yang tidak hanya berfokus pada zat kimia di otak, tetapi juga pada proses peradangan di dalam tubuh.

Dilansir dari Psychology Today, sebuah uji klinis yang dipublikasikan pada Mei 2026, secara langsung menguji hipotesis tersebut terhadap pasien, yang tidak memberikan respons pada antidepresan standar. 
 

Peneliti dari Universitas Bristol memberikan obat tocilizumab kepada 14 pasien, sementara 16 pasien lainnya menerima plasebo. Seluruh peserta kemudian dipantau selama satu bulan, untuk melihat perkembangan kondisi mereka.

Tocilizumab merupakan obat biologis yang selama ini digunakan untuk mengobati artritis reumatoid, yaitu penyakit autoimun. Obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas interleukin-6 (IL-6), salah satu penanda peradangan yang diduga memiliki kaitan dengan depresi. 

Sebelumnya, analisis genetik yang dilakukan tim peneliti juga menunjukkan bahwa kadar IL-6, yang terlalu tinggi berpotensi menjadi salah satu faktor penyebab munculnya depresi.

Hasil penelitian menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan. Pasien yang menerima tocilizumab, mengalami perbaikan lebih besar pada sejumlah aspek, seperti tingkat keparahan depresi, rasa lelah, kecemasan, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Bahkan, sekitar setengah dari peserta yang mendapatkan obat tersebut berhasil mencapai kondisi remisi depresi. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. 

Uji klinis hanya melibatkan 30 peserta, sehingga belum cukup untuk memastikan keamanan maupun efektivitas tocilizumab, sebagai terapi depresi pada populasi yang lebih luas. 

Selain itu, masa pengamatan hanya berlangsung selama empat minggu, sehingga belum diketahui apakah manfaat yang diperoleh dapat bertahan dalam jangka panjang.

Walaupun masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan ini dinilai cukup menjanjikan untuk dikembangkan, dalam skala yang lebih besar. 

Peneliti berharap uji klinis berikutnya dapat melibatkan lebih banyak pasien, terutama mereka yang tidak merespons obat antidepresan berbasis monoamin, dan memiliki kadar penanda peradangan rendah yang terdeteksi dalam darah. 

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH