FITNESS & HEALTH

Hampir Setengah Kasus Demensia Bisa Dicegah, Ini Kebiasaan yang Perlu Diubah

A. Firdaus
Selasa 07 Juli 2026 / 12:11
Ringkasnya gini..
  • Hingga 45 persen kasus demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang masih dapat diubah.
  • Masih banyak masyarakat yang menganggap demensia sebagai konsekuensi alami dari bertambahnya usia.
  • Pencegahan demensia tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan.
Jakarta: Demensia kerap dianggap sebagai bagian yang tidak terhindarkan dari proses penuaan. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hampir separuh kasus demensia sebenarnya dapat dicegah dengan mengurangi berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup.

Studi yang dipimpin tim peneliti dari Curtin University, Australia, menemukan hingga 45 persen kasus demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang masih dapat diubah, seperti kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, tingkat pendidikan yang rendah, hingga isolasi sosial.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengikuti hampir 500 ribu orang dewasa selama lebih dari satu dekade untuk melihat hubungan antara kondisi fisik dan risiko demensia.
 

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengalami obesitas sarkopenik, yakni kondisi ketika kelebihan lemak tubuh disertai penurunan massa dan kekuatan otot, memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia.

Sebaliknya, obesitas saja tidak ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko demensia selama kekuatan otot tetap terjaga. Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan otot sama pentingnya dengan mengontrol berat badan.

"Hingga 45 persen kasus demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat kita ubah, seperti gaya hidup, status kesehatan, dan lingkungan," ujar Profesor Mario Siervo dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Curtin University melansir Antara.
 

Kesehatan otot juga penting


Peneliti sekaligus Profesor di Curtin University, Blossom Stephan, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap demensia sebagai konsekuensi alami dari bertambahnya usia. Padahal, anggapan tersebut dapat menghambat upaya pencegahan sejak dini.

Ia menilai berbagai kendala, mulai dari keterbatasan waktu, biaya, hingga rendahnya motivasi, sering membuat masyarakat sulit menjalani gaya hidup yang lebih sehat.
 

Edukasi perlu lebih personal


Dalam tinjauan terhadap berbagai program pencegahan demensia di delapan negara, termasuk Australia, China, dan Amerika Serikat, para peneliti menemukan bahwa kampanye kesehatan berskala besar memang mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi dampaknya terhadap perubahan perilaku masih terbatas.

Sebaliknya, pendekatan yang lebih personal dinilai lebih efektif mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup sehat.

Beberapa strategi yang terbukti memberikan hasil lebih baik antara lain penilaian risiko secara individual, edukasi kesehatan berbasis daring, serta program komunitas yang melibatkan tokoh lokal sebagai pendamping.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Healthy Longevity ini menegaskan bahwa pencegahan demensia tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten sejak usia produktif.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH