Batik kini tidak hanya identik dengan pakaian formal, tetapi juga semakin mudah ditemukan dalam berbagai gaya fashion yang dekat dengan generasi muda, termasuk Gen Z.
Dilansir dari laman Kementerian Perindustrian pada Jumat, 2 Oktober 2026, Kemenperin terus memperkuat komitmennya dalam melestarikan dan mengembangkan industri batik nasional agar semakin adaptif di tengah pergeseran tren dan selera generasi muda.
Namun, perkembangan batik tidak hanya sekedar mengikuti tren dan visual, tetapi juga harus diikuti dengan sustainability yang menjadi bagian penting dalam perkembangan industri batik.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, Reni Yanita, menyebut tren sustainable fashion mendorong industri untuk tidak hanya memikirkan tampilan produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut dibuat.
“Produk batik ramah lingkungan sebagai produk yang mengedepankan perilaku pelaku industri dengan menerapkan prinsip eco efficiency, yang mencakup good housekeeping, environment oriented cost management, dan chemical management,” jelas Reni.
Konsep ini memperhatikan keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial, hingga penggunaan energi, sehingga dampak negatif dari kegiatan industri dapat ditekan dan manfaat yang dihasilkan bisa lebih besar.
Baca Juga :
Lestari Moerdijat: Hari Batik Nasional Momentum Perkuat Relevansi Batik Bagi Generasi Penerus Bangsa
Sustainable Batik dan Tantangannya
Proses pembuatan batik tidak terlepas dari proses pewarnaan yang dalam praktiknya dapat menghasilkan limbah bahan kimia. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan.
Dilansir dari laman FEB UGM, Guru Besar bidang Inovasi dan Kewirausahaan FEB UGM, Nurul Indarti, menyebut permintaan global yang tinggi terhadap batik Indonesia membuat tantangan industri bukan hanya tentang menghasilkan motif yang menarik dan kualitas yang baik, tetapi juga memastikan proses produksinya semakin ramah lingkungan.
“Jawaban dilema ini ada pada inovasi hijau. Upaya mengurangi dampak negatif lingkungan melalui produk, proses, maupun model bisnis baru,” ujarnya.
Menurut Nurul, inovasi hijau pada industri batik dapat dilakukan melalui sejumlah langkah. Salah satunya dengan menggunakan pewarna alami menggunakan indigo, secang, dan daun jati. Pengelolaan limbah juga dapat dilakukan melalui teknologi seperti biofilter dan fitoremediasi.
Selain itu, prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dengan memanfaatkan kembali kain perca menjadi produk baru, seperti tas, aksesori, hingga dekorasi rumah. (Wisa Irena Br Sitepu)