YOUR FASHION
Kolaborasi Prancis dan Indonesia, Bentuk Fashion Kian Pesona
Aulia Putriningtias
Senin 27 Juli 2026 / 20:43
- Panggung mode bukan hanya soal busana semata.
- Namun, ada usaha dan cerita di baliknya.
- Inilah yang dilakukan kolaborasi antara desainer Prancis dan Indonesia lewat Re-See French Designers x Residency.
Jakarta: Panggung mode bukan hanya soal busana semata. Namun, ada usaha dan cerita di baliknya. Inilah yang dilakukan kolaborasi antara desainer Prancis dan Indonesia.
Melalui Re-See French Designers x Residency lewat JF3 Fashion Festival 2026 di Jakarta, kita diajak untuk melihat kembali secara dekat koleksi-koleksi yang begitu memesona.
Salah satunya adalah desainer Louise Marcaud, dengan koleksi Louiseguard. Ia membawakan koleksi bernuansa kenangan sehabis mengunjungi sebuah kota, yakni Indonesia.
"Louiseguard diambil dari nama saya, Louise, dan guard artinya lifeguard (penjaga pantai). Dulu saya adalah seorang guard," jelasnya saat diwawancarai langsung oleh tim Medcom.id.
Koleksi ini membayangkan sebuah kisah musim panas fiktif antara seorang wisatawan yang memperpanjang liburannya di Jakarta dan seorang penjaga kolam muda yang ditemuinya di tepi kolam.
Louise berkata bahwa koleksi ini rencana akan dijual secara publik, jadi orang-orang Indonesia dapat mengenakannya. Ditambah, hasil koleksi ini berasal dari kolaborasi dengan para pengrajin di Indonesia juga.
Berlanjut ke AU Large, para desainer mengungkap bahasa maritim bersama yang telah terbentuk melalui gerak-gerik, keahlian kerajinan, dan ikatan yang mendalam dengan laut.

Gabriel Marcella, salah satu PINTU Residency, menjelaskan terkait wastra yang digunakannya. Ia mengungkapkan dalam satu bagian batik, terdapat empat arti di dalamnya, yang menunjukkan bahasa maritim.
Gabriel menjelaskan mereka berkolaborasi dengan pengrajin di Pekalongan dan Mojokerto. Mereka bekerja sama dengan para artisan batik profesional yang pernah berada di industri mode.
"Untuk teknik di Mojokerto, kami menggunakan stamp, handwritten, dan crack motif. Dan ini dibuat oleh tiga artisan berbeda. Mereka ssmua terbaik dalam teknik khas mereka," jelas Gabriel.
"Untuk teknik di Pekalongan, kami menggunakan screenprint wax. Jadi ini screenprint, tapi ini wax. Jadi, masih disebut sebagai batik," lanjut Gabriel.
Melalui kolaborasi dengan Prancis dan Indonesia ini, hadirnya harapan wastra-wastra Indonesia dapat dikenalkan secara luas dan internasional di kemudian hari.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Melalui Re-See French Designers x Residency lewat JF3 Fashion Festival 2026 di Jakarta, kita diajak untuk melihat kembali secara dekat koleksi-koleksi yang begitu memesona.
Salah satunya adalah desainer Louise Marcaud, dengan koleksi Louiseguard. Ia membawakan koleksi bernuansa kenangan sehabis mengunjungi sebuah kota, yakni Indonesia.
"Louiseguard diambil dari nama saya, Louise, dan guard artinya lifeguard (penjaga pantai). Dulu saya adalah seorang guard," jelasnya saat diwawancarai langsung oleh tim Medcom.id.
Koleksi ini membayangkan sebuah kisah musim panas fiktif antara seorang wisatawan yang memperpanjang liburannya di Jakarta dan seorang penjaga kolam muda yang ditemuinya di tepi kolam.
Louise berkata bahwa koleksi ini rencana akan dijual secara publik, jadi orang-orang Indonesia dapat mengenakannya. Ditambah, hasil koleksi ini berasal dari kolaborasi dengan para pengrajin di Indonesia juga.
Berlanjut ke AU Large, para desainer mengungkap bahasa maritim bersama yang telah terbentuk melalui gerak-gerik, keahlian kerajinan, dan ikatan yang mendalam dengan laut.

Gabriel Marcella, salah satu PINTU Residency, menjelaskan terkait wastra yang digunakannya. Ia mengungkapkan dalam satu bagian batik, terdapat empat arti di dalamnya, yang menunjukkan bahasa maritim.
Gabriel menjelaskan mereka berkolaborasi dengan pengrajin di Pekalongan dan Mojokerto. Mereka bekerja sama dengan para artisan batik profesional yang pernah berada di industri mode.
"Untuk teknik di Mojokerto, kami menggunakan stamp, handwritten, dan crack motif. Dan ini dibuat oleh tiga artisan berbeda. Mereka ssmua terbaik dalam teknik khas mereka," jelas Gabriel.
"Untuk teknik di Pekalongan, kami menggunakan screenprint wax. Jadi ini screenprint, tapi ini wax. Jadi, masih disebut sebagai batik," lanjut Gabriel.
Melalui kolaborasi dengan Prancis dan Indonesia ini, hadirnya harapan wastra-wastra Indonesia dapat dikenalkan secara luas dan internasional di kemudian hari.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)