YOUR FASHION

Dari Kain Lama hingga Sisik Ikan, BRI JF3 Fashion Festival 2026 Menunjukkan Wajah Baru Sustainable Fashion

Yatin Suleha
Rabu 19 Agustus 2026 / 15:39
Ringkasnya gini..
  • BRI JF3 Fashion Festival 2026 memperlihatkan berbagai pendekatan terhadap keberlanjutan.
  • Dari memperpanjang usia tekstil, mengolah material sisa, hingga menciptakan nilai baru dari sumber daya yang telah tersedia.
  • Bagi sejumlah desainer yang tampil di BRI JF3 Fashion Festival 2026, berakhirnya satu fungsi justru menjadi awal bagi kemungkinan baru.
Jakarta: BRI JF3 Fashion Festival 2026 memperlihatkan berbagai pendekatan terhadap keberlanjutan, dari memperpanjang usia tekstil, mengolah material sisa, hingga menciptakan nilai baru dari sumber daya yang telah tersedia. 

Pakaian lama, tekstil yang tersimpan selama bertahun-tahun, perca kain, kunci vintage, sisik ikan, tulang, cangkang kerang, hingga material yang tidak lagi digunakan memiliki satu kesamaan: semuanya pernah memiliki fungsi sebelumnya. 

Namun bagi sejumlah desainer yang tampil di BRI JF3 Fashion Festival 2026, berakhirnya satu fungsi justru menjadi awal bagi kemungkinan baru.
 
Melalui tema “Recrafted: Shaping the Future,” JF3 memperlihatkan bahwa sustainable fashion tidak memiliki satu formula. 

Keberlanjutan dapat dimulai dari melihat kembali material yang telah tersedia, memperpanjang siklus hidup sebuah produk, merekonstruksi sisa produksi, hingga menemukan nilai baru pada sesuatu yang sebelumnya tidak lagi digunakan. 

Pendekatan yang beragam tersebut hadir di runway JF3 2026 melalui karya desainer Indonesia maupun internasional.
 

Howard Laurent: Ketika material yang tersisa memasuki ranah couture



(Howard Laurent. Foto: Dok. JF3)

Melalui The Key, HOWARD LAURENT menghadirkan 30 looks yang mempertemukan karakter glamor evening wear dengan pendekatan yang lebih sadar terhadap penggunaan material. 

Sejumlah tampilan memanfaatkan hingga 50 persen material dari sumber yang telah tersedia, termasuk kunci vintage, manik-manik yang tidak terpakai, sisa kain, serta embellishment buatan tangan dari plastik daur ulang. 

Material tersebut kemudian masuk ke dalam bahasa desain Howard yang dibangun melalui struktur korset, fringe, detail berkilau, dan embellishment.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penggunaan kembali material tidak harus mengurangi nilai visual sebuah karya. Material yang sebelumnya kehilangan fungsi justru diolah menjadi detail couture dengan karakter baru. 

Melalui The Key, kemewahan tidak hanya ditentukan oleh kebaruan bahan, tetapi juga oleh kemampuan desain dan craftsmanship dalam mengubah apa yang telah tersedia menjadi sesuatu yang kembali bernilai.
 

RAEGITAZORO: Memperpanjang kehidupan material dan memori



(RAEGITAZORO. Foto: Dok. JF3)

Melalui LUMEN: From Her Shadow to My Light, RAEGITAZORO menghadirkan 30 looks yang membawa gagasan keberlanjutan ke wilayah yang lebih personal. 

Koleksi yang terinspirasi oleh mendiang ibu Founder dan Creative Director Raegita Oktora ini berbicara tentang apa yang tetap hidup dari orang-orang yang membentuk perjalanan seseorang—tentang warisan, ketangguhan, dan apa yang dipilih untuk terus dibawa ke masa depan. 

Siluet arsitektural, tailoring yang presisi, dekonstruksi terkontrol, serta permainan volume menjadi bahasa utama koleksi.

Dalam pengembangan LUMEN, pakaian, taplak meja, dan kain peninggalan sang ibu mendapatkan kehidupan baru melalui busana. 

Material tidak berhenti sebagai benda yang disimpan karena nilai sentimentalnya, tetapi menjadi bagian dari karya yang kembali dapat dikenakan. 

Sustainability di sini bergerak melampaui umur fisik material: yang diperpanjang sekaligus adalah cerita, memori, dan relevansinya bagi generasi berikutnya.
 

AMOTSYAMSURIMUDA: Menemukan kembali nilai kain yang terlupakan



(AMOTSYAMSURIMUDA. Foto: Dok. JF3)

AMOTSYAMSURIMUDA memulai Heirloom Fantasy dari sesuatu yang sangat dekat: tumpukan kain lama di rumah orang tuanya. 

Tekstil antik dan kain tradisional yang telah tersimpan kemudian diolah menjadi menswear kontemporer, mempertemukan nostalgia dengan cara berpakaian masa kini.

Alih-alih mempertahankan material tersebut dalam fungsi awalnya, AMOT memberi konteks dan pengguna baru kepadanya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sustainability tidak selalu harus dimulai dengan penciptaan material alternatif. 

Terkadang, langkah pertamanya adalah melihat kembali sumber daya yang telah dimiliki dan menemukan kemungkinan berikutnya di dalamnya.
 

Adrie Basuki: Circular Fashion sebagai Proses Penciptaan Material


Pendekatan circular fashion menjadi fondasi kuat dalam Jantung Nadi karya Adrie Basuki. Salah satu eksplorasi utamanya adalah Kain Marmer, yang dikembangkan dari sisa kain melalui proses pengolahan bertahap hingga menghasilkan komposisi warna dan tekstur baru. 

Material sisa tidak diposisikan sebagai akhir proses produksi, melainkan sebagai titik awal bagi penciptaan berikutnya. 

Kain tersebut kemudian dipertemukan dengan batik cap tradisional dan Sadabhumi Batik bermotif flora serta bahan alami Nusantara seperti jahe, bawang, kayu manis, dan pisang.

Pendekatan Adrie menunjukkan bahwa circularity dapat menjadi bagian dari bahasa desain, bukan hanya strategi mengurangi limbah. 

Material yang telah selesai menjalankan fungsi sebelumnya diberikan bentuk dan nilai baru, sembari dipertemukan dengan craftsmanship Indonesia. 

Bagi Adrie, keberlanjutan berarti melihat kembali apa yang telah tersedia, memperpanjang usia pakainya sekaligus membuka kemungkinan baru bagi tradisi dan material.

Adrie memberikan panggung kepada para penyintas kanker sebagai bentuk penghormatan atas ketangguhan dan perjalanan panjang yang telah mereka lalui terdiri dari penyintas kanker payudara, kanker paru-paru, hingga kanker limfoma.
 

AGATHANDY: Ketika perca menjadi bagian dari identitas desain



(AGATHANDY. Foto: Dok. JF3)

Melalui presentasi Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), AGATHANDY by Agatha Nindya menghadirkan LOKAKINI, yang mempertemukan siluet jas modern dengan beskap tradisional sekaligus merekonstruksi perca lace dan batik menjadi detail dekoratif.

Alih-alih menyembunyikan perca sebagai konsekuensi dari proses produksi, AGATHANDY memasukkannya kembali ke dalam komposisi busana. 

Potongan dengan ukuran dan bentuk yang tidak seragam justru membuka kemungkinan visual baru, memperlihatkan bagaimana keterbatasan material dapat berubah menjadi bagian dari karakter dan identitas sebuah desain.
 

YASA: Menemukan nilai dari material di lingkungan sekitar



(YASA. Foto: Dok. JF3)

Melalui NIHI Voyage, YASA menghadirkan 24 looks yang menerjemahkan kekayaan alam dan budaya Sumba ke dalam menswear kontemporer. 

Karakter flora, fauna, pesisir, dan lanskap Sumba diterjemahkan melalui motif bordir dengan arsiran yang mengambil inspirasi dari garis dan tekstur tenun tradisional. 

Sejumlah hero pieces juga memanfaatkan material non-konvensional seperti limbah tulang rusuk sapi, capit kepiting, dan cangkang kerang sebagai elemen dekoratif yang dipertemukan dengan wastra serta pengerjaan tangan perajin lokal.

Pendekatan tersebut lahir dari konteks yang dekat dengan sumber inspirasinya. YASA melihat material yang tersedia di lingkungan sekitar dan mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya kembali melalui desain. 

Hasilnya tidak hanya membawa identitas visual Sumba, tetapi membangun hubungan antara sumber daya lokal, craftsmanship, dan proses kreatif yang lebih sadar terhadap lingkungan.
 

The Theme: Ketika kreativitas memberi nilai baru pada material


Dalam The Life Journey, The Theme menghadirkan 24 looks yang menerjemahkan perjalanan hidup dan beragam profesi ke dalam rangkaian aksesori penuh karakter. 

Brand yang dipimpin Novi Susanti bersama Co-Designer Ferdinand Natan ini bekerja dengan material seperti kuningan, PVC, dan leather melalui teknik hand sewing, laser cut, serta handcrafted, sekaligus melibatkan pengrajin lokal dan generasi muda dalam proses produksinya.

Pada salah satu eksplorasinya, sisik ikan kakap dari nelayan Bintan diolah menjadi aksesori dan dijahit satu per satu menggunakan teknik payet. 

Transformasi tersebut memperlihatkan bagaimana kreativitas dan keterampilan dapat memberikan fungsi serta nilai baru pada material yang sebelumnya berada di luar konteks fashion. 

Dalam pendekatan ini, sustainability tidak hanya berkaitan dengan pilihan bahan, tetapi juga kemampuan melihat potensi baru melalui desain dan craftsmanship.
 

Louise Marcaud: Memberi kehidupan baru pada material yang ditemukan



(The Theme. Foto: Dok. JF3)

Pendekatan berbeda datang dari Prancis melalui Louise Marcaud dengan koleksi Louiseguard Spring/Summer 2027 yang menghadirkan 20 looks. 

Saat mengikuti PINTU Cultural Visit pada kunjungannya ke Indonesia sebelumnya, Louise menjelajahi pasar tekstil di Jakarta serta workshop batik dan tenun lurik di Yogyakarta. 

Dari perjalanan tersebut ia mengumpulkan batik, lurik, kain sisa produksi, dan berbagai referensi visual yang kemudian dibawa kembali ke Paris. 

Salah satu temuannya adalah potongan kain yang tidak lagi digunakan di sebuah workshop; alih-alih melihatnya sebagai sisa, Louise tertarik pada ketidakteraturan motif serta jejak proses yang tersimpan di permukaannya.

Material tersebut kemudian memasuki kembali proses kreatif melalui bahasa desain Louise yang berakar pada tailoring, struktur, dan permainan proporsi. 

Sebanyak 13 dari 20 looks Louiseguard yang dipresentasikan di JF3 menggunakan batik dan tenun yang diperolehnya selama perjalanan di Indonesia. 

Pendekatan tersebut sejalan dengan praktik label Louise Marcaud yang memproduksi koleksi dalam jumlah terbatas serta mengutamakan material yang telah tersedia dan kain deadstock apabila memungkinkan. 
Material yang ditemukan tidak berhenti sebagai suvenir atau sisa produksi, tetapi memperoleh kehidupan dan konteks baru melalui desain.
 

Sustainable fashion tidak memiliki satu formula


Beragam koleksi tersebut memperlihatkan bahwa sustainability di JF3 2026 bergerak melalui pendekatan yang berbeda. 

Howard Laurent mengolah kembali benda vintage dan material yang tidak terpakai; RAEGITAZORO dan AMOTSYAMSURIMUDA memperpanjang kehidupan tekstil serta warisan personal; Adrie Basuki dan AGATHANDY membangun nilai baru dari sisa material.

YASA dan The Theme menemukan kemungkinan dari material yang tersedia di lingkungan sekitar; sementara Louise Marcaud membawa kain sisa dan deadstock kembali ke dalam proses kreatif.

Kesamaan mereka bukan terletak pada penggunaan satu jenis material atau satu metode tertentu, tetapi pada kemauan untuk mempertanyakan kebutuhan untuk selalu memulai dari sesuatu yang baru.

Seperti disampaikan Chairman JF3 Fashion Festival, Soegianto Nagaria, perubahan tersebut perlu berlangsung tidak hanya pada karya, tetapi juga pada cara industri bekerja. 

“Industri fashion terus berubah. Karena itu, kita juga harus berani berubah, meningkatkan kualitas, memperkuat cara bekerja, membangun kolaborasi yang lebih setara, serta menciptakan ekosistem yang memberi ruang bagi lebih banyak talenta untuk tumbuh secara berkelanjutan."

"Melalui semangat Recrafted: Shaping the Future, JF3 tidak hanya ingin menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi ruang untuk membangun standar, membuka kemungkinan baru, dan mendorong perubahan nyata bagi industri fashion Indonesia.”
 
Melalui Recrafted: Shaping the Future, BRI JF3 Fashion Festival 2026 menunjukkan bahwa masa depan fashion tidak selalu harus dimulai dari material baru. 

Ia juga dapat tumbuh dari kemampuan untuk melihat kembali apa yang telah tersedia, memperpanjang usia sebuah kain, menghidupkan kembali benda yang menyimpan memori, merekonstruksi material sisa, dan menemukan fungsi baru pada sesuatu yang sebelumnya dianggap selesai.

Di situlah sustainable fashion bergerak dari sekadar pembicaraan mengenai material menjadi cara berpikir yang memengaruhi proses desain, penciptaan nilai, dan cara industri bergerak ke depan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH