PINTU: Merajut Dua Perspektif, Membuka Satu Dunia
- Gabriel Marcella pemilik Soedisoi, bertemu Lisa Rayar, desainer Prancis yang membawanya melihat fashion dari sudut pandang berbeda.
- Gabriel membawa eksplorasi wastra Indonesia melalui desain kontemporer, sementara Lisa dengan eksplorasi material berkelanjutan.
- Perbedaan itulah yang justru menjadi ruang belajar. Di PINTU Residency.
Jakarta: Sebuah brand dapat menyeberangi lautan. Namun, apakah identitas di baliknya juga mampu ikut menyeberang?
Bagi Gabriel Marcella Budiono, pemilik Soedisoei, jawabannya justru ditemukan melalui sebuah pertemuan di PINTU Residency. Di sana, ia bertemu Lisa Rayar, desainer Prancis yang membawanya melihat fashion dari sudut pandang berbeda.
Gabriel membawa eksplorasi wastra Indonesia melalui desain kontemporer, sementara Lisa datang dengan perspektif fashion Prancis dan eksplorasi material berkelanjutan. Dua pendekatan yang berbeda itu kemudian bertemu dalam ruang PINTU Residency.
PINTU Residency: Ketika dua perspektif bertemu
Perbedaan itulah yang justru menjadi ruang belajar. Di PINTU Residency, dua perspektif tersebut tidak dipaksa menjadi sama, tetapi dipertemukan untuk saling menguji dan memperkaya gagasan.
“Menurut saya adalah akses dan broader perspective. PINTU memberikan kesempatan untuk bertemu, berdiskusi, bekerja, dan bertukar perspektif dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda,” ungkap Gabriel.
Melalui kolaborasinya dengan Lisa, ia dapat melihat bagaimana sebuah ide diolah dari sudut pandang berbeda, yaitu sesuatu yang menurutnya lebih sulit diperoleh jika bekerja sendiri.
Pandangan tersebut sejalan dengan filosofi PINTU. Bagi Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban.

Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia. (Foto:Dok/JF3)
“Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat,” ujar Thresia.
"PINTU kami bangun sebagai ruang untuk menjalani proses itu; mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa. Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri,” lanjut Thresia.
Bagi Gabriel, proses itu kemudian mengubah cara ia melihat Soedisoei. Brand bukan lagi sekadar kumpulan produk atau koleksi yang unik, melainkan identitas yang harus mampu terhubung dengan target market.
"Melalui PINTU, saya jadi melihat bahwa ternyata langkah menuju ke sana (pasar internasional) bisa dimulai dari koneksi, kolaborasi, dan keberanian untuk memperkenalkan identitas kita ke lingkungan internasional," paparnya.
Ketika identitas belajar berbicara kepada dunia
Pengalaman tersebut turut mengubah cara Gabriel memaknai go global. Baginya, menjadi global bukan sekadar membawa karya ke luar negeri.
“Go global adalah bagaimana kita menerjemahkan identitas Indonesia tersebut sehingga bisa dipahami oleh orang dari budaya yang berbeda, tetapi tetap stay true to our own roots. Bukan sekadar ikut show di luar negeri atau semacamnya,” jelas Gabriel.
Melalui PINTU, ia melihat bahwa langkah menuju pasar internasional dapat dimulai dari koneksi, kolaborasi, dan keberanian memperkenalkan identitas Indonesia ke lingkungan internasional.

PINTU Residency yang diikuti oleh Gabriel Marcella dan Lisa Rayar. (Foto: Dok/PINTU Incubator)
Kolaborasi Gabriel dan Lisa menunjukkan bahwa melampaui batas tidak selalu berarti meninggalkan tempat kita berasal. Terkadang, perjalanan itu dimulai dari kesediaan duduk bersama seseorang yang melihat dunia dengan cara berbeda.
Dari pertemuan lahir perspektif. Dari perspektif lahir kolaborasi. Dan dari kolaborasi, identitas Indonesia menemukan ruang untuk berbicara kepada dunia.
Mungkin, itulah arti sebuah PINTU: bukan sekadar jalan untuk keluar, tetapi ruang tempat Indonesia dan dunia saling menemukan.
(TIN)