PINTU: Ketika Kriya Indonesia Tak Lagi Menunggu Pengakuan Dunia
- Mungkin banyak orang bertanya, apa standar produk untuk disebut mewah.
- Tidak sederhana, bagi Toja House, jawabannya mulai berubah setelah mengikuti PINTU Incubator.
- Bagi Thresia Mareta, produk hanyalah medium untuk melangkah ke pasar global.
Jakarta: Mungkin banyak orang bertanya, apa standar produk untuk disebut mewah; apakah materialnya, harga, atau pengakuan dari dunia?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Toja House, jawabannya mulai berubah setelah mengikuti PINTU Incubator.
Salah satu titiknya datang dari sebuah kritik yang cukup singkat.
"Design-ku terlalu ramai."
Salah satu masukan tersebut datang dari desainer Susan Budiharjo. Dian mengaku sempat terkejut ketika Susan memberikan penilaian secara langsung terhadap desain Toja. Namun, masukan itu justru menjadi salah satu titik yang mengubah cara Toja House memandang desainnya setelah mengikuti PINTU Incubator.

Toja House tampil di JF3 Fashion Festival 2026. (Foto: Dok/JF3).
Dari proses tersebut, pandangan Toja mengenai luxury pun ikut berkembang. Jika sebelumnya kemewahan identik dengan material seperti kulit, kini mereka melihat fiber art yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan brand juga memiliki nilai luxurious craftsmanship.
“Ternyata fiber art yang selama ini kugeluti itu juga masuk dalam kategori luxurious craftsmanship, tanpa harus jadi brand ‘kerajinan’ atau bernada UMKM banget,” kata Dian kepada tim Medcom.id.
Bagi Toja yang tumbuh secara mandiri sejak 2016, perubahan tersebut bukan hanya soal desain. Ada cara pandang baru dalam melihat posisi craft yang mereka bawa di industri fashion.
Ketika craft mendapatkan ruang lebih luas
Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship yang lahir dari keterampilan tangan dan pengetahuan yang diwariskan. Namun, kekayaan tersebut tetap membutuhkan cara pengolahan dan pendekatan yang tepat agar dapat diterima oleh pasar yang lebih luas.
Thresia Mareta selaku Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, mengatakan bahwa produk yang baik merupakan dasar untuk membawa sebuah brand ke pasar global. Namun, kreativitas saja tidak cukup.
“Produk yang baik adalah dasar, tetapi kreativitas saja tidak cukup,” ujar Thresia.
Menurutnya, brand juga perlu memiliki identitas yang jelas, memahami pasar yang dituju, serta memiliki kesiapan produksi dan bisnis untuk memenuhi standar internasional.
Hal tersebut menjadi salah satu bagian yang didapatkan Toja selama mengikuti PINTU. Program tersebut tidak hanya memberi ruang untuk mengembangkan karya, tetapi juga mempertemukan para peserta dengan berbagai perspektif dan pengalaman di industri fashion.
Bagi Toja, proses tersebut kemudian berlanjut ketika mereka mendapat kesempatan tampil di JF3. Sebagai brand yang dibangun secara self-funded sejak 2016, tampil dalam sebuah panggung fashion menjadi pencapaian besar bagi mereka.
Namun, bagi Toja, pengalaman tersebut tidak berhenti di runway.
Go global bukan hanya soal tampil di luar negeri
Pengalaman di PINTU dan JF3 turut mengubah cara Toja melihat istilah go global. Jika sebelumnya pasar internasional mungkin identik dengan mencari buyer untuk membuat produk white label, kini ada kemungkinan untuk membawa nama Toja sendiri ke pasar global.
Thresia melihat hal yang sama dari sisi kesiapan brand.

Thresia Mareta selaku Co-Initiator sekaligus Founder LAKON Indonesia. (Foto: Dok/JF3)
Menurutnya, salah satu miskonsepsi yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa go international berarti tampil di luar negeri. Padahal, kesempatan tampil harus diikuti dengan kesiapan untuk masuk dan menjalankan bisnis di pasar tersebut.
“Itu sebabnya PINTU Incubator membuka akses brand untuk Paris Trade Show, berbeda dengan Paris Fashion Week. Akses kami untuk brand yang siap bertemu buyer, menerima order, menjaga kualitas, harga, dan produksinya secara konsisten,” jelas Thresia.
Bagi Thresia, kesiapan tersebut menjadi bagian penting dari proses membawa brand Indonesia ke pasar internasional. Sebab, yang dibutuhkan bukan hanya exposure, tetapi kemampuan untuk mempertahankan kualitas dan memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten.
Membawa Indonesia tanpa kehilangan akar
Lantas, ketika sebuah brand Indonesia masuk ke pasar global, apa yang sebenarnya ikut dibawa?
Bagi Thresia, produk hanyalah medium. Di dalamnya, ada budaya, keterampilan, serta cara berpikir yang membentuk identitas sebuah brand.
“Kita punya kekayaan budaya, craftsmanship, dan keterampilan tangan yang sangat kuat. Itu sebenarnya sesuatu yang tidak semua negara punya,” tuturnya.
Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan hari ini tanpa kehilangan akar budayanya.
Hal serupa menjadi perhatian Toja. Bagi mereka, kriya Indonesia tidak semestinya baru dianggap mewah setelah ditempatkan di sebuah toko atau fashion show di Paris. Nilai sebuah karya tidak ditentukan semata-mata oleh tempat ia dipamerkan.
Ada keterampilan, proses, dan pengetahuan yang membuat sebuah karya memiliki nilai. Termasuk tangan-tangan yang selama ini menjaga keterampilan tersebut tetap hidup.
Thresia pun menilai bahwa menjaga budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk akhirnya. Proses pembuatannya, keterampilan, serta pengetahuan di balik karya juga perlu dirawat.
“Melalui fashion, orang bisa mengenal budaya, keterampilan, cara berpikir, dan kreativitas kita. Jadi menurut saya, ketika sebuah brand Indonesia masuk ke dunia, Indonesia juga ikut masuk dalam percakapan itu,” jelas Thresia.
Pada akhirnya, membawa brand Indonesia ke dunia bukan hanya tentang mendapatkan pengakuan dari pasar internasional. Ada pekerjaan yang dimulai jauh sebelum sebuah koleksi tiba di pasar global, yaitu mengenali kekuatan sendiri, mengolahnya dengan baik, memahami pasar, dan memastikan identitas yang dibawa tetap memiliki akar.
Bagi Toja, mungkin inilah bagian penting dari perjalanan tersebut. Bukan mengubah apa yang berasal dari Indonesia agar terlihat seperti sesuatu yang sudah dikenal dunia, melainkan menunjukkan bahwa apa yang tumbuh dari negara ini juga memiliki tempat untuk 'berbicara' di dalamnya.
(TIN)