WISATA
Keamanan Destinasi Ikut Menentukan Kepercayaan Wisatawan
A. Firdaus
Rabu 16 September 2026 / 07:02
- Safety tourism makin penting dalam pariwisata.
- Jatim Park Group dan Kemenpar mendorong wisata aman, edukatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
- Jatim Park Group juga berupaya menjaga lingkungan, salah satunya dengan menghindari penebangan pohon.
Batu: Liburan biasanya identik dengan pemandangan cantik, wahana seru, kuliner enak sampai berburu foto yang Instagramable. Tapi ada satu hal yang sering kali baru terasa penting ketika sudah berada di destinasi, yakni rasa aman.
Bayangkan sudah jauh-jauh datang untuk liburan, tetapi mendengar destinasi tersebut punya reputasi kurang aman. Bisa jadi rencana perjalanan langsung berubah. Sebab, sebagus apa pun sebuah destinasi, wisatawan tetap ingin pulang membawa cerita menyenangkan, bukan pengalaman yang bikin waswas.
Karena itu, konsep safety tourism atau pariwisata yang mengutamakan keamanan dan keselamatan kini semakin penting. Bukan hanya untuk melindungi wisatawan, tetapi juga menjaga kepercayaan sekaligus keberlanjutan sebuah destinasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Ngoprek (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bersama Jawa Timur Park Group di Batu, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026). Diskusi tersebut mengangkat tema “Safety Tourism, Sustainable Future: Membangun Wisata Aman, Edukatif dan Berkelanjutan.”
Staf Ahli Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Fadjar Hutomo, mengatakan persepsi wisatawan terhadap keamanan sebuah destinasi bisa ikut menentukan masa depan pariwisata daerah tersebut.
“Pariwisata itu tentang persepsi sebuah destinasi. Sebuah daerah yang dipersepsikan tidak aman bisa menjadi barrier bagi wisatawan,” kata Fadjar.
Fadjar berpendapat, risiko dalam pariwisata bisa datang dari berbagai arah, baik faktor alam maupun non-alam. Seperti gempa bumi, erupsi gunung api, kecelakaan kapal hingga persoalan keamanan menjadi hal yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kepercayaan wisatawan.

Staf Ahli Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Fadjar Hutomo. Dok. Forwaparekraf
Karena itu, aspek keamanan dan keselamatan menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan pariwisata.
Namun, urusan keselamatan bukan hanya pekerjaan pengelola destinasi. Fadjar menilai safety tourism harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak.
Mulai dari regulasi, sumber daya manusia, pelaku usaha, wisatawan, infrastruktur hingga fasilitas keselamatan. “Banyak terjadi kasus karena ketidakpatuhan dan keras kepala wisatawan,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, media juga memiliki peran untuk membantu mengedukasi masyarakat mengenai perilaku aman ketika berwisata.
Pemerintah juga menyiapkan instrumen pengawasan dan sanksi administratif bagi pelaku usaha yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan. Sanksinya bisa dimulai dari surat peringatan hingga pencabutan izin usaha.
Di sisi lain, kompetensi sumber daya manusia terus diperkuat melalui berbagai pelatihan keselamatan, termasuk bagi para pemandu wisata.
Direktur Jatim Park 3, Suryo Widodo, mengatakan aspek keselamatan sudah menjadi bagian dari operasional destinasi.
Pelatihan karyawan, sertifikasi, pemeriksaan kelayakan lokasi, pengaturan antrean hingga penerapan K3 dilakukan untuk memastikan wisatawan bisa menikmati berbagai atraksi dengan aman.
Namun, konsep yang dibangun Jatim Park tidak berhenti pada keselamatan. Edukasi dan konservasi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Direktur Jatim Park 3, Suryo Widodo (tengah) menganggap aspek keselamatan sudah menjadi bagian dari operasional destinasi. Dok. Forwaparekraf
Di Jatim Park 2 dan Jatim Park 3, misalnya, wisatawan bisa bermain sekaligus mendapatkan pengetahuan melalui Museum Satwa, Dino Park hingga Museum Musik.
“Banyak hewan dari ciptaan Tuhan yang belum kita lihat. Konservasi juga menjadi bagian penting,” katanya.
Untuk menjaga aspek keberlanjutan, Jatim Park Group juga berupaya menjaga lingkungan, salah satunya dengan menghindari penebangan pohon.
Kolaborasi dengan masyarakat sekitar, komunitas dan media juga dinilai penting agar perkembangan pariwisata tidak berjalan sendiri, tetapi bisa tumbuh bersama lingkungan dan masyarakat.
Di era media sosial, menjaga keamanan destinasi juga berarti siap menghadapi persoalan komunikasi. Satu unggahan wisatawan bisa menyebar dengan cepat dan membentuk persepsi publik.
Manager Marketing dan PR Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan pihaknya memiliki tim khusus yang setiap hari memantau percakapan dan komentar di media sosial.
“Krisis komunikasi di media sosial sangat luar biasa. Setiap hari saya punya tim khusus memperhatikan komentar. Kami membuat rencana dan melakukan tindakan,” jelasnya.
Ia mencontohkan kasus ketika seorang siswa SMP jatuh dari salah satu wahana. Penanganan dan komunikasi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam.

Di era media sosial, menjaga keamanan destinasi juga berarti siap menghadapi persoalan komunikasi. Dok. Forwaparekaf
Kasus lainnya terjadi ketika beredar unggahan yang menyebut seekor singa di Jatim Park 2 dalam kondisi kurus dan tidak dirawat. Tim kemudian memberikan penjelasan sekaligus merespons persoalan tersebut.
Menurut Titik, respons yang cepat dan komunikasi yang tepat menjadi bagian penting dalam menangani persoalan di era digital.
Edukasi mengenai keselamatan bahkan dimulai sejak wisatawan membeli tiket. Pengunjung diberikan informasi mengenai aturan dan larangan yang berlaku, ditambah berbagai konten edukasi mengenai safety.
Saat ini, Jatim Park Group memiliki 17 destinasi wisata di Kota Batu dengan keunikan dan target pasar masing-masing.
Jatim Park 2 juga dinilai memiliki potensi untuk semakin menarik wisatawan internasional dan telah memperoleh penghargaan di tingkat Asia untuk kebun binatangnya.
Untuk mendorong kunjungan wisatawan mancanegara, Jatim Park Group turut memberikan diskon 20 persen bagi wisatawan asing.
(FIR)
Bayangkan sudah jauh-jauh datang untuk liburan, tetapi mendengar destinasi tersebut punya reputasi kurang aman. Bisa jadi rencana perjalanan langsung berubah. Sebab, sebagus apa pun sebuah destinasi, wisatawan tetap ingin pulang membawa cerita menyenangkan, bukan pengalaman yang bikin waswas.
Karena itu, konsep safety tourism atau pariwisata yang mengutamakan keamanan dan keselamatan kini semakin penting. Bukan hanya untuk melindungi wisatawan, tetapi juga menjaga kepercayaan sekaligus keberlanjutan sebuah destinasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Ngoprek (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bersama Jawa Timur Park Group di Batu, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026). Diskusi tersebut mengangkat tema “Safety Tourism, Sustainable Future: Membangun Wisata Aman, Edukatif dan Berkelanjutan.”
Keamanan Ikut Menentukan Pilihan Wisatawan
Staf Ahli Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Fadjar Hutomo, mengatakan persepsi wisatawan terhadap keamanan sebuah destinasi bisa ikut menentukan masa depan pariwisata daerah tersebut.
“Pariwisata itu tentang persepsi sebuah destinasi. Sebuah daerah yang dipersepsikan tidak aman bisa menjadi barrier bagi wisatawan,” kata Fadjar.
Fadjar berpendapat, risiko dalam pariwisata bisa datang dari berbagai arah, baik faktor alam maupun non-alam. Seperti gempa bumi, erupsi gunung api, kecelakaan kapal hingga persoalan keamanan menjadi hal yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kepercayaan wisatawan.

Staf Ahli Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Fadjar Hutomo. Dok. Forwaparekraf
Karena itu, aspek keamanan dan keselamatan menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan pariwisata.
Namun, urusan keselamatan bukan hanya pekerjaan pengelola destinasi. Fadjar menilai safety tourism harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak.
Mulai dari regulasi, sumber daya manusia, pelaku usaha, wisatawan, infrastruktur hingga fasilitas keselamatan. “Banyak terjadi kasus karena ketidakpatuhan dan keras kepala wisatawan,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, media juga memiliki peran untuk membantu mengedukasi masyarakat mengenai perilaku aman ketika berwisata.
Pemerintah juga menyiapkan instrumen pengawasan dan sanksi administratif bagi pelaku usaha yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan. Sanksinya bisa dimulai dari surat peringatan hingga pencabutan izin usaha.
Di sisi lain, kompetensi sumber daya manusia terus diperkuat melalui berbagai pelatihan keselamatan, termasuk bagi para pemandu wisata.
Bukan Sekadar Pasang Aturan Keselamatan
Direktur Jatim Park 3, Suryo Widodo, mengatakan aspek keselamatan sudah menjadi bagian dari operasional destinasi.
Pelatihan karyawan, sertifikasi, pemeriksaan kelayakan lokasi, pengaturan antrean hingga penerapan K3 dilakukan untuk memastikan wisatawan bisa menikmati berbagai atraksi dengan aman.
Namun, konsep yang dibangun Jatim Park tidak berhenti pada keselamatan. Edukasi dan konservasi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Direktur Jatim Park 3, Suryo Widodo (tengah) menganggap aspek keselamatan sudah menjadi bagian dari operasional destinasi. Dok. Forwaparekraf
Di Jatim Park 2 dan Jatim Park 3, misalnya, wisatawan bisa bermain sekaligus mendapatkan pengetahuan melalui Museum Satwa, Dino Park hingga Museum Musik.
“Banyak hewan dari ciptaan Tuhan yang belum kita lihat. Konservasi juga menjadi bagian penting,” katanya.
Untuk menjaga aspek keberlanjutan, Jatim Park Group juga berupaya menjaga lingkungan, salah satunya dengan menghindari penebangan pohon.
Kolaborasi dengan masyarakat sekitar, komunitas dan media juga dinilai penting agar perkembangan pariwisata tidak berjalan sendiri, tetapi bisa tumbuh bersama lingkungan dan masyarakat.
Satu Unggahan Bisa Jadi Krisis
Di era media sosial, menjaga keamanan destinasi juga berarti siap menghadapi persoalan komunikasi. Satu unggahan wisatawan bisa menyebar dengan cepat dan membentuk persepsi publik.
Manager Marketing dan PR Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan pihaknya memiliki tim khusus yang setiap hari memantau percakapan dan komentar di media sosial.
“Krisis komunikasi di media sosial sangat luar biasa. Setiap hari saya punya tim khusus memperhatikan komentar. Kami membuat rencana dan melakukan tindakan,” jelasnya.
Ia mencontohkan kasus ketika seorang siswa SMP jatuh dari salah satu wahana. Penanganan dan komunikasi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam.
Di era media sosial, menjaga keamanan destinasi juga berarti siap menghadapi persoalan komunikasi. Dok. Forwaparekaf
Kasus lainnya terjadi ketika beredar unggahan yang menyebut seekor singa di Jatim Park 2 dalam kondisi kurus dan tidak dirawat. Tim kemudian memberikan penjelasan sekaligus merespons persoalan tersebut.
Menurut Titik, respons yang cepat dan komunikasi yang tepat menjadi bagian penting dalam menangani persoalan di era digital.
Edukasi mengenai keselamatan bahkan dimulai sejak wisatawan membeli tiket. Pengunjung diberikan informasi mengenai aturan dan larangan yang berlaku, ditambah berbagai konten edukasi mengenai safety.
Saat ini, Jatim Park Group memiliki 17 destinasi wisata di Kota Batu dengan keunikan dan target pasar masing-masing.
Jatim Park 2 juga dinilai memiliki potensi untuk semakin menarik wisatawan internasional dan telah memperoleh penghargaan di tingkat Asia untuk kebun binatangnya.
Untuk mendorong kunjungan wisatawan mancanegara, Jatim Park Group turut memberikan diskon 20 persen bagi wisatawan asing.
(FIR)