WISATA
Dari Phonograph hingga Gamelan, Ada Banyak Cerita di Museum Musik Dunia Jatim Park 3
A. Firdaus
Selasa 15 September 2026 / 07:12
- Menjelajah Museum Musik Dunia di Jatim Park 3, dari seribuan koleksi alat musik, piano klasik, instrumen mekanis hingga gamelan dan rindik.
- Saat ini sekitar 300 hingga 400 koleksi ditampilkan kepada pengunjung.
- Museum ini juga memiliki koleksi patung lilin yang jumlahnya saat ini berada di kisaran 30–40-an.
Batu: Museum biasanya identik dengan suasana tenang, koleksi yang tersimpan rapi, lalu kamu berjalan perlahan dari satu etalase ke etalase lainnya. Namun, bayangan seperti itu sedikit berbeda ketika memasuki Museum Musik Dunia di Jatim Park 3.
Di tempat ini, musik tidak hanya dipajang sebagai benda koleksi. Sejumlah instrumen bahkan bisa dimainkan langsung. Kamu dapat menyentuh tuts piano, mencoba alat musik tradisional, hingga melihat lebih dekat berbagai instrumen yang mungkin selama ini hanya dikenal melalui foto atau cerita.
Pengalaman tersebut terasa saat media gathering Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Jatim Park 3, Senin, 14 September 2026. Berada di Museum Musik Dunia, perjalanan tidak sekadar mengajak kamu mengenal musik, tetapi juga menyusuri cerita panjang tentang bagaimana manusia menciptakan bunyi, mengembangkan instrumen, dan menjadikannya bagian dari kebudayaan.
Memasuki Museum Musik Dunia, kamu akan menemukan deretan alat musik dari berbagai periode dan belahan dunia. Salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah koleksi piano.
Ada baby piano hingga upright piano yang diproduksi pada era 1980-an. Sebagian instrumen masih dapat dimainkan sehingga kamu tidak hanya melihat bentuknya, tetapi juga bisa merasakan langsung sentuhan tuts dan mendengarkan karakter suaranya.
Pengalaman tersebut membuat kunjungan terasa berbeda. Alih-alih hanya membaca keterangan mengenai sebuah alat musik, kamu bisa mendapatkan gambaran mengenai instrumen tersebut melalui pengalaman langsung.

Salah seorang pengunjung di Museum Musik Dunia Jatim Park 3 yang mencoba bermain gamelan. (Dok. A. Firdaus/Medcom
Selain piano, terdapat pula sejumlah alat musik mekanis yang kini semakin jarang dijumpai, seperti Phonograph, Leludion Organ, dan Orgue de Barbarie.
Instrumen-instrumen tersebut menjadi semacam mesin waktu. Dari bentuknya saja, kamu dapat membayangkan bagaimana musik dan teknologi rekaman berkembang sebelum perangkat digital mengambil alih kehidupan sehari-hari.
Sonny, Educator Museum Musik Dunia di Jatim Park 3, mengatakan konsep interaktif memang menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan Museum Musik Dunia.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan pengunjung. Karena itu, beberapa koleksi di Museum Musik Dunia tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga dimainkan secara langsung. Harapannya, pengalaman tersebut dapat menumbuhkan ketertarikan masyarakat terhadap sejarah dan perkembangan alat musik dari berbagai belahan dunia,” ujar Sonny.
Konsep ini juga membuat museum terasa lebih ramah bagi anak-anak. Mereka tidak hanya diajak membaca informasi, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan bertanya mengenai benda yang ada di hadapannya.
Jika lantai tiga membawa pengunjung menyusuri perkembangan musik dan instrumen dari berbagai negara, Spot Indonesia memberikan pengalaman yang berbeda.
Di area ini, keberagaman musik Nusantara dikumpulkan dalam satu ruang. Ada rindik, gamelan, sapek, kecapi, seruling, hingga gula gending.
Melihat berbagai instrumen tersebut secara berdampingan memberikan gambaran sederhana mengenai betapa luasnya kekayaan budaya Indonesia.
Rindik, misalnya, memiliki bentuk khas dan lekat dengan tradisi musik Bali. Gamelan dikenal sebagai salah satu perangkat musik tradisional yang memiliki hubungan kuat dengan kebudayaan Jawa dan Bali. Sementara sapek merupakan alat musik petik yang lekat dengan tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan.
Kecapi dan seruling pun hadir dalam beragam bentuk serta tradisi musik di berbagai wilayah Nusantara.
Yang menarik, pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Rindik dan gamelan dapat dicoba secara langsung sehingga pengalaman mengenal musik tradisional menjadi lebih interaktif.
Bagi anak-anak, aktivitas sederhana seperti memukul bilah gamelan atau mencoba memainkan rindik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya Indonesia. Mereka mungkin belum hafal nama daerah atau sejarah panjang sebuah alat musik, tetapi bisa mulai dari rasa penasaran: bagaimana bunyinya dan dari mana alat musik tersebut berasal?
Dari pertanyaan sederhana itulah pembelajaran budaya bisa dimulai.
Di balik ratusan instrumen yang saat ini terlihat, Museum Musik Dunia sebenarnya memiliki koleksi jauh lebih banyak.
Menurut Sonny, total koleksi alat musik yang dimiliki mencapai lebih dari seribu instrumen. Namun, tidak semuanya dapat dipajang dalam waktu bersamaan.
Saat ini sekitar 300 hingga 400 koleksi ditampilkan kepada pengunjung. Koleksi tersebut juga tidak selalu berada dalam posisi yang sama karena pengelola melakukan pergantian atau rolling secara berkala, umumnya sekitar tiga bulan sekali.

Pengunjung memandangi koleksi piringan emas. Dok. A. Firdaus/Medcom
Koleksi yang telah dipamerkan kemudian mendapatkan perawatan sebelum digantikan dengan instrumen lainnya.
Cara tersebut membuat pengalaman berkunjung tidak selalu sama. Kamu yang datang kembali beberapa bulan kemudian berpotensi menemukan instrumen berbeda dari kunjungan sebelumnya.
“Yang sudah kami beli, kami kasih perawatan lagi. Dan kami ganti yang mirip satu sama lain,” jelasnya.
Jumlah koleksi yang masih tersimpan juga menunjukkan bahwa Museum Musik Dunia bukan sekadar ruang pamer, tetapi memiliki pekerjaan panjang di belakang layar untuk merawat dan mengelola instrumen-instrumen tersebut.
Mengumpulkan alat musik dari berbagai negara tentu bukan perkara mudah. Salah satu yang disebut menjadi tantangan adalah mendapatkan alat musik tradisional dari Afrika.
Masih terdapat sejumlah instrumen dari kawasan tersebut yang belum melengkapi koleksi Museum Musik Dunia. Sebagian koleksi bahkan masih dalam proses pengiriman setelah dipesan.
Tantangan itu memperlihatkan bahwa membangun sebuah museum musik dengan koleksi lintas negara bukan pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Koleksi terus berkembang seiring proses pencarian, pembelian, pengiriman, hingga perawatan.

Patung God Bless menjadi salah satu koleksi yang dimiliki Museum Musik Dunia. Dok. A. Firdaus/Medcom
Tidak hanya instrumen, museum ini juga memiliki koleksi patung lilin yang jumlahnya saat ini berada di kisaran 30–40-an, termasuk koleksi berbahan silikon.
Ada pula koleksi yang berkaitan dengan musisi Indonesia. Ketika ditanya mengenai keberadaan koleksi milik atau terkait Rhoma Irama, Sonny membenarkan bahwa koleksi tersebut juga tersedia.
Pada akhirnya, kekuatan Museum Musik Dunia bukan hanya terletak pada jumlah koleksinya.
Setiap alat musik membawa cerita tentang manusia. Bentuknya dipengaruhi bahan yang tersedia, lingkungan tempat masyarakat hidup, teknologi yang mereka kenal, hingga tradisi yang diwariskan.
Itulah yang membuat pengalaman di museum ini terasa seperti perjalanan lintas waktu dan tempat.
Di satu sudut, kamu dapat berhadapan dengan piano yang menjadi bagian dari perkembangan musik modern. Tidak jauh dari sana, ada alat musik mekanis yang mengingatkan pada teknologi masa lalu. Beranjak ke Spot Indonesia, kamu kembali diperkenalkan pada gamelan, rindik, sapek, dan berbagai instrumen tradisional yang lahir dari kekayaan budaya Nusantara.
Bagi keluarga, perjalanan tersebut dapat menjadi wisata edukasi dengan cara yang lebih santai. Anak tidak harus duduk di ruang kelas untuk belajar sejarah. Mereka bisa berjalan mengelilingi museum, mengamati bentuk alat musik, mendengarkan bunyinya, bertanya, lalu mencoba memainkannya.
Dalam momentum kemerdekaan, pengalaman tersebut juga bisa dimaknai lebih jauh.
Indonesia tidak dibangun dari satu budaya. Ada begitu banyak tradisi, bahasa, kesenian, dan musik yang tumbuh di berbagai wilayah. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan kekayaan yang membentuk identitas Indonesia.
Gamelan, rindik, sapek, kecapi, seruling hingga gula gending mungkin memiliki bentuk dan bunyi yang berbeda. Namun, semuanya berada dalam satu ruang sebagai bagian dari cerita besar tentang Indonesia.
Museum Musik Dunia di Jatim Park 3 pada akhirnya menawarkan cara lain untuk mengenal musik dan budaya. Bukan hanya dengan melihat koleksi dari balik kaca, tetapi dengan mendekat, mendengarkan, mencoba, dan membiarkan rasa penasaran membawa pengunjung pada cerita berikutnya.
Sebab, terkadang cara paling menyenangkan untuk mengenal sejarah bukan dengan menghafalnya, melainkan dengan mengalaminya secara langsung.
(FIR)
Di tempat ini, musik tidak hanya dipajang sebagai benda koleksi. Sejumlah instrumen bahkan bisa dimainkan langsung. Kamu dapat menyentuh tuts piano, mencoba alat musik tradisional, hingga melihat lebih dekat berbagai instrumen yang mungkin selama ini hanya dikenal melalui foto atau cerita.
Pengalaman tersebut terasa saat media gathering Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Jatim Park 3, Senin, 14 September 2026. Berada di Museum Musik Dunia, perjalanan tidak sekadar mengajak kamu mengenal musik, tetapi juga menyusuri cerita panjang tentang bagaimana manusia menciptakan bunyi, mengembangkan instrumen, dan menjadikannya bagian dari kebudayaan.
Ketika Koleksi Museum Bisa Dimainkan
Memasuki Museum Musik Dunia, kamu akan menemukan deretan alat musik dari berbagai periode dan belahan dunia. Salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah koleksi piano.
Ada baby piano hingga upright piano yang diproduksi pada era 1980-an. Sebagian instrumen masih dapat dimainkan sehingga kamu tidak hanya melihat bentuknya, tetapi juga bisa merasakan langsung sentuhan tuts dan mendengarkan karakter suaranya.
Pengalaman tersebut membuat kunjungan terasa berbeda. Alih-alih hanya membaca keterangan mengenai sebuah alat musik, kamu bisa mendapatkan gambaran mengenai instrumen tersebut melalui pengalaman langsung.

Salah seorang pengunjung di Museum Musik Dunia Jatim Park 3 yang mencoba bermain gamelan. (Dok. A. Firdaus/Medcom
Selain piano, terdapat pula sejumlah alat musik mekanis yang kini semakin jarang dijumpai, seperti Phonograph, Leludion Organ, dan Orgue de Barbarie.
Instrumen-instrumen tersebut menjadi semacam mesin waktu. Dari bentuknya saja, kamu dapat membayangkan bagaimana musik dan teknologi rekaman berkembang sebelum perangkat digital mengambil alih kehidupan sehari-hari.
Sonny, Educator Museum Musik Dunia di Jatim Park 3, mengatakan konsep interaktif memang menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan Museum Musik Dunia.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan pengunjung. Karena itu, beberapa koleksi di Museum Musik Dunia tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga dimainkan secara langsung. Harapannya, pengalaman tersebut dapat menumbuhkan ketertarikan masyarakat terhadap sejarah dan perkembangan alat musik dari berbagai belahan dunia,” ujar Sonny.
Konsep ini juga membuat museum terasa lebih ramah bagi anak-anak. Mereka tidak hanya diajak membaca informasi, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan bertanya mengenai benda yang ada di hadapannya.
Dari Gamelan sampai Sapek
Jika lantai tiga membawa pengunjung menyusuri perkembangan musik dan instrumen dari berbagai negara, Spot Indonesia memberikan pengalaman yang berbeda.
Di area ini, keberagaman musik Nusantara dikumpulkan dalam satu ruang. Ada rindik, gamelan, sapek, kecapi, seruling, hingga gula gending.
Melihat berbagai instrumen tersebut secara berdampingan memberikan gambaran sederhana mengenai betapa luasnya kekayaan budaya Indonesia.
Rindik, misalnya, memiliki bentuk khas dan lekat dengan tradisi musik Bali. Gamelan dikenal sebagai salah satu perangkat musik tradisional yang memiliki hubungan kuat dengan kebudayaan Jawa dan Bali. Sementara sapek merupakan alat musik petik yang lekat dengan tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan.
Kecapi dan seruling pun hadir dalam beragam bentuk serta tradisi musik di berbagai wilayah Nusantara.
Yang menarik, pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Rindik dan gamelan dapat dicoba secara langsung sehingga pengalaman mengenal musik tradisional menjadi lebih interaktif.
Bagi anak-anak, aktivitas sederhana seperti memukul bilah gamelan atau mencoba memainkan rindik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya Indonesia. Mereka mungkin belum hafal nama daerah atau sejarah panjang sebuah alat musik, tetapi bisa mulai dari rasa penasaran: bagaimana bunyinya dan dari mana alat musik tersebut berasal?
Dari pertanyaan sederhana itulah pembelajaran budaya bisa dimulai.
Koleksinya Ternyata Ribuan
Di balik ratusan instrumen yang saat ini terlihat, Museum Musik Dunia sebenarnya memiliki koleksi jauh lebih banyak.
Menurut Sonny, total koleksi alat musik yang dimiliki mencapai lebih dari seribu instrumen. Namun, tidak semuanya dapat dipajang dalam waktu bersamaan.
Saat ini sekitar 300 hingga 400 koleksi ditampilkan kepada pengunjung. Koleksi tersebut juga tidak selalu berada dalam posisi yang sama karena pengelola melakukan pergantian atau rolling secara berkala, umumnya sekitar tiga bulan sekali.

Pengunjung memandangi koleksi piringan emas. Dok. A. Firdaus/Medcom
Koleksi yang telah dipamerkan kemudian mendapatkan perawatan sebelum digantikan dengan instrumen lainnya.
Cara tersebut membuat pengalaman berkunjung tidak selalu sama. Kamu yang datang kembali beberapa bulan kemudian berpotensi menemukan instrumen berbeda dari kunjungan sebelumnya.
“Yang sudah kami beli, kami kasih perawatan lagi. Dan kami ganti yang mirip satu sama lain,” jelasnya.
Jumlah koleksi yang masih tersimpan juga menunjukkan bahwa Museum Musik Dunia bukan sekadar ruang pamer, tetapi memiliki pekerjaan panjang di belakang layar untuk merawat dan mengelola instrumen-instrumen tersebut.
Koleksi Tradisional Jadi Tantangan
Mengumpulkan alat musik dari berbagai negara tentu bukan perkara mudah. Salah satu yang disebut menjadi tantangan adalah mendapatkan alat musik tradisional dari Afrika.
Masih terdapat sejumlah instrumen dari kawasan tersebut yang belum melengkapi koleksi Museum Musik Dunia. Sebagian koleksi bahkan masih dalam proses pengiriman setelah dipesan.
Tantangan itu memperlihatkan bahwa membangun sebuah museum musik dengan koleksi lintas negara bukan pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Koleksi terus berkembang seiring proses pencarian, pembelian, pengiriman, hingga perawatan.

Patung God Bless menjadi salah satu koleksi yang dimiliki Museum Musik Dunia. Dok. A. Firdaus/Medcom
Tidak hanya instrumen, museum ini juga memiliki koleksi patung lilin yang jumlahnya saat ini berada di kisaran 30–40-an, termasuk koleksi berbahan silikon.
Ada pula koleksi yang berkaitan dengan musisi Indonesia. Ketika ditanya mengenai keberadaan koleksi milik atau terkait Rhoma Irama, Sonny membenarkan bahwa koleksi tersebut juga tersedia.
Musik sebagai Cerita tentang Manusia
Pada akhirnya, kekuatan Museum Musik Dunia bukan hanya terletak pada jumlah koleksinya.
Setiap alat musik membawa cerita tentang manusia. Bentuknya dipengaruhi bahan yang tersedia, lingkungan tempat masyarakat hidup, teknologi yang mereka kenal, hingga tradisi yang diwariskan.
Itulah yang membuat pengalaman di museum ini terasa seperti perjalanan lintas waktu dan tempat.
Di satu sudut, kamu dapat berhadapan dengan piano yang menjadi bagian dari perkembangan musik modern. Tidak jauh dari sana, ada alat musik mekanis yang mengingatkan pada teknologi masa lalu. Beranjak ke Spot Indonesia, kamu kembali diperkenalkan pada gamelan, rindik, sapek, dan berbagai instrumen tradisional yang lahir dari kekayaan budaya Nusantara.
Semua berada dalam satu tempat
Bagi keluarga, perjalanan tersebut dapat menjadi wisata edukasi dengan cara yang lebih santai. Anak tidak harus duduk di ruang kelas untuk belajar sejarah. Mereka bisa berjalan mengelilingi museum, mengamati bentuk alat musik, mendengarkan bunyinya, bertanya, lalu mencoba memainkannya.
Dalam momentum kemerdekaan, pengalaman tersebut juga bisa dimaknai lebih jauh.
Indonesia tidak dibangun dari satu budaya. Ada begitu banyak tradisi, bahasa, kesenian, dan musik yang tumbuh di berbagai wilayah. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan kekayaan yang membentuk identitas Indonesia.
Gamelan, rindik, sapek, kecapi, seruling hingga gula gending mungkin memiliki bentuk dan bunyi yang berbeda. Namun, semuanya berada dalam satu ruang sebagai bagian dari cerita besar tentang Indonesia.
Museum Musik Dunia di Jatim Park 3 pada akhirnya menawarkan cara lain untuk mengenal musik dan budaya. Bukan hanya dengan melihat koleksi dari balik kaca, tetapi dengan mendekat, mendengarkan, mencoba, dan membiarkan rasa penasaran membawa pengunjung pada cerita berikutnya.
Sebab, terkadang cara paling menyenangkan untuk mengenal sejarah bukan dengan menghafalnya, melainkan dengan mengalaminya secara langsung.
(FIR)