FEATURE

Hanbok Renaissance: Pesona Abadi Busana Korea dari Era Joseon ke Panggung Dunia

Yatin Suleha
Minggu 13 September 2026 / 23:27
Ringkasnya gini..
  • Hanbok—yang secara harfiah artinya "pakaian Korea"—bukan cuma sekadar kostum kuno, melainkan simbol identitas budaya.
  • Dari ribuan tahun lalu sampai era digital sekarang, pesonanya gak pernah luntur dan justru makin naik kelas di kancah internasional.
  • Bentuk hanbok yang paling dikenal modern sebagian besar berakar dari era Dinasti Joseon.
Jakarta: Kalau kamu meliat koleksi sejarah Hanbok seperti yang dipamerkan di museum kelas dunia Victoria and Albert (V&A), kamu bakal sadar kalau busana tradisional Korea ini punya perjalanan sejarah yang super panjang dan ikonik. 

Hanbok—yang secara harfiah artinya "pakaian Korea"—bukan cuma sekadar kostum kuno, melainkan simbol identitas budaya yang siluet utamanya sudah terbentuk sejak Era Tiga Kerajaan (57 SM – 668 M)-yang desain dasar hanbok-nya sudah terbentuk.

 

Dari ribuan tahun lalu sampai era digital sekarang, pesonanya gak pernah luntur dan justru makin naik kelas di kancah internasional.
 

Sejarah dan pengaruh


park bo gum hanbok
(Jika pernah melihat foto ini, yes ini adalah Park Bo Gum. Park Bo-gum jadi model pria pertama proyek promosi Hanbok Wave Modern. Foto: Dok. Instagram Bazaar)

Dalam tulisan "Hanbok – traditional Korean dress" oleh Jenny (Jon Young) Kim, Exhibition Research Assistant for Hallyu! The Korean Wave via Vam.ac.uk, ia menulis sejarah Hanbok berjalan seiringan dengan perjalanan peradaban manusia di Semenanjung Korea. 

Hanbok sebenarnya tidak merujuk pada (hanya) satu desain atau bentuk pakaian tertentu saja, melainkan menjadi istilah pengelompokan, jenis, ketegori, desain pakaian tradisional Korea. Ini mencakup perkembangan pakaian Korea selama ribuan tahun.

Biar lebih mudah, kita bagi 4 sejarah perkembangan hanbok dari masa ke masa ya:
 

1. Era Tiga Kerajaan (57 SM – 668 M)


jeogori (baju atas) - baji (celana panjang) dan chima (rok)
(Jeogori (baju atas), baji (celana panjang), dan chima (rok). Foto: Dok. Odynovotours)

Pada masa awal pembentukan Kerajaan Goguryeo, Baekje, dan Silla, desain dasar hanbok sudah terbentuk. Pakaian ini terdiri dari jeogori (baju atas), baji (celana panjang), dan chima (rok).

Pria dan wanita saat itu mengenakan baju sepinggang dengan celana ketat untuk memudahkan aktivitas berkuda dan memanah. Menjelang akhir periode ini, kaum bangsawan wanita mulai mengenakan rok panjang dan baju berikat pinggang. 

Pengaruh budaya Tiongkok (Dinasti Tang) juga mulai masuk pada masa Silla. 
 

2. Masa Dinasti Goryeo (918–1392)


Rok (chima) dibuat sedikit lebih pendek
(Rok (chima) dibuat sedikit lebih pendek. Foto: Dok. Pexels.com)

Setelah terjadi perjanjian damai dan pernikahan antara raja Goryeo dan bangsa Mongol (Dinasti Yuan), gaya busana Mongol ikut memengaruhi bentuk hanbok.

Rok (chima) dibuat sedikit lebih pendek, sementara bagian atas baju diikat menggunakan pita lebar di dada dengan desain yang lebih ramping. 
 

3. Masa Dinasti Joseon (1392–1897)


magoja - jaket
(Magoja (jaket bergaya Manchu) mulai diperkenalkan dan digemari. Foto: Dok. Insertlive)

Bentuk hanbok yang paling dikenal modern sebagian besar berakar dari era Dinasti Joseon. Pada abad ke-16, jeogori sempat dibuat agak panjang hingga melewati pinggang, namun menjelang akhir abad ke-19, ukurannya berubah menjadi sangat pendek dan ketat, sementara rok (chima) dibuat sangat panjang. 

Pada masa ini pula, pakaian tambahan seperti magoja (jaket bergaya Manchu) mulai diperkenalkan dan digemari. Dahulu, warna dan corak hanbok menunjukkan status sosial. 

Kaum bangsawan mengenakan hanbok berwarna cerah dengan berbagai motif, sedangkan rakyat biasa dibatasi hanya boleh mengenakan pakaian berwarna putih atau polos. 
 

4. Era Modern


hanbok moren
(Desain hanbok modern. Foto: Dok. Pinterest)

Di zaman sekarang, hanbok tidak lagi dipakai sebagai pakaian sehari-hari, melainkan disimpan untuk acara-acara khusus seperti pernikahan, hari raya tradisional (Seollal dan Chuseok), atau perayaan penting lainnya. 

Desain hanbok modern juga telah disesuaikan agar lebih nyaman, praktis, dan sering dipadupadankan dengan fesyen kontemporer, menjadikannya simbol kebanggaan budaya Korea yang mendunia. 
 

Beda warna Hanbok tentukan status sosial si pemakainya


hanbok raja oleh Lee Chae Min
(Bordir naga pada Hanbok raja—yang secara spesifik disebut Gonryongpo (jubah naga)—bukan sekadar hiasan biasa, melainkan simbol kekuasaan tertinggi, otoritas mutlak, dan martabat seorang penguasa. Naga melambangkan kebijaksanaan, kekuatan, dan keberuntungan yang luar biasa. Foto: Diperagakan oleh aktor Lee Chae Min. Dok. Instagram Lee Chae Min/@l.c.m____)

Struktur sosial masyarakat Korea yang makin ketat di era Dinasti Goryeo dan mencapai puncaknya di Dinasti Joseon mengubah Hanbok menjadi alat penanda kelas sosial yang legal. 

Pemerintah bahkan mengeluarkan hukum adat (Gyeongguk Daejeon) yang mengatur jenis kain dan warna yang boleh dipakai oleh setiap kasta.

Dalam banyak ulasan dipaparkan bahwa di masa lalu, warna Hanbok bukan sekadar pilihan mode, melainkan simbol status sosial, usia, kepangkatan, dan status pernikahan seseorang.

Mau tau warna apa aja dan bagaimana status sosial pemakainya? Yuk, simak:
 

Beda warna beda arti


bts pakai hanbok
(Grup K-Pop BTS menerima penghargaan dari pemerintah karena Berhasil mempromosikan busana tradisional Hanbok. Foto: Dok. Soompi)

Sistem warna Hanbok didasarkan pada teori filsafat Tiongkok kuno yang disebut Obangsaek (Kelima Warna Arah Tradisional). 

Lima warna ini mewakili elemen alam, yaitu:

1. Putih: Logam (Barat)
2. Hitam: Air (Utara)
3. Biru: Kayu (Timur)
4. Merah: Api (Selatan)
5. Kuning: Tanah (Pusat)

Dalam masyarakat Joseon yang sangat hierarkis, warna-warna ini dibagi secara ketat antara kaum bangsawan (yangban) dan rakyat jelata (cheonmin atau sangmin).
 

1. Hanbok rakyat jelata (warna putih dan alami)


hanbok warna putih
(Warga Korea mengenakan Hanbok putih, 1906/07, Korea. Foto: Dok. National Museum of Korea)

Warna putih atau off-white: Rakyat biasa diwajibkan memakai baju berwarna putih atau warna asli kain yang belum diwarnai (seperti warna rami abu-abu pucat). 

Karena itulah orang Korea sering dijuluki "masyarakat berpakaian putih" (baekui minjok). Putih melambangkan kesucian, kesederhanaan, dan kejujuran.

Warna pudar (arang, hijau muda, merah muda): Rakyat jelata hanya boleh memakai warna-warna ini pada hari-hari khusus atau festival, itu pun dengan bahan kain katun atau rami yang kasar. Mereka dilarang keras memakai warna cerah yang pekat.
 

2. Hanbok kaum bangsawan dan kelas atas (Yangban)


Reka ulang upacara istana oleh para penampil
(Reka ulang upacara istana oleh para penampil yang mengenakan seragam dengan warna khusus sesuai peran dan tingkatan pangkat mereka di lingkungan kerajaan, Korea Selatan, 2011. Foto: Dok. National Museum of Korea)

Bangsawan diperbolehkan memakai Hanbok dengan warna-warna cerah yang dihasilkan dari pewarna alami yang mahal. Warna ini menunjukkan kekayaan dan pengaruh politik mereka.

- Ungu tua dan biru tua: Sering dipakai oleh pejabat pemerintah tingkat tinggi atau sarjana terhormat.

- Hijau tua: Menunjukkan status kelas menengah ke atas atau dipakai oleh wanita bangsawan untuk pakaian sehari-hari.
 

3. Hanbok keluarga kerajaan


Keluarga kerajaan memonopoli warna-warna yang paling agung dan suci berdasarkan teori Obangsaek, yaitu:

- Kuning/emas: Warna ini melambangkan pusat alam semesta dan bumi. Warna kuning emas hanya boleh dipakai oleh Kaisar atau Permaisuri. Rakyat biasa atau bahkan pejabat yang nekat memakainya bisa dihukum mati karena dianggap memberontak.

- Merah: Melambangkan energi yang kuat dan matahari. Warna merah cerah digunakan oleh Raja Joseon untuk pakaian dinas harian (Gollyongpo) dan pakaian resmi Ratu.

- Biru/masyarakat istana: Biru tua atau indigo sering digunakan untuk pakaian putra mahkota, melambangkan timur, fajar, dan masa depan yang bertumbuh.

 

Arti warna berdasarkan status pernikahan dan usia


hanbook nuansa biru
(Hanbok bernuansa biru. Foto: Dok. Joteta)

Ada lagi nih, selain info yang di atas udah kamu baca, buat si pemakainya juga menandakan status lho. Bagi wanita, warna Hanbok juga berfungsi sebagai kartu identitas yang menunjukkan fase kehidupan mereka, yaitu:

- Kuning (atasan) dan merah (rok): Dipakai oleh gadis remaja atau wanita yang belum menikah. Warna cerah ini melambangkan masa muda dan kesuburan.

- Hijau (atasan) dan merah (rok): Kombinasi ini khusus untuk pengantin baru. Setelah menikah, wanita akan mengganti atasan kuning mereka dengan warna hijau (saedasaek).

- Biru/navy (atasan) dan rok pudar: Dipakai oleh wanita yang sudah memiliki anak laki-laki (dalam budaya Konfusianisme, memiliki anak laki-laki meningkatkan status sosial wanita tersebut).

- Ungu pada kerah (goreum): Jika seorang wanita memakai Hanbok dengan pita kerah berwarna ungu, itu menandakan bahwa suaminya masih hidup.
 

Hanbok di era modern


hanbok modern 3
(Hanbok di era modern dapat bervariasi. Foto: Dok. Pinterest)

Setelah runtuhnya Dinasti Joseon dan terjadinya modernisasi pada abad ke-20, aturan hukum kasta ini dihapus. Saat ini, siapa saja bebas memakai Hanbok dengan warna apa pun.

Meskipun fungsi pembeda status sosialnya telah hilang, tradisi warna ini masih sedikit tersisa pada acara pernikahan modern di Korea. 

Contohnya, ibu dari pengantin pria biasanya memakai Hanbok bernuansa biru, sedangkan ibu dari pengantin wanita memakai warna merah muda atau ungu, sebagai bentuk penghormatan pada tradisi masa lalu.


(Hanbok Traditional Korean Clothes. Video: Dok. YouTube Pusat Pengembangan Hanbok)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH