FEATURE

500 Perempuan Menari Keroncong di Kota Tua, Bukan Sekadar Pecahkan Rekor

Yatin Suleha
Selasa 15 September 2026 / 19:22
Ringkasnya gini..
  • Sebanyak 500 peserta menampilkan Tari Keroncong Nusantara secara massal di Kota Tua Jakarta.
  • Tari Keroncong Nusantara dibuat agar musik keroncong nggak cuma didengar, tetapi juga bisa ditarikan.
  • LINI ingin gerakan ini terus berkembang dan membuat keroncong makin dikenal, terutama oleh generasi muda.

Jakarta: Ratusan perempuan memenuhi kawasan Kota Tua Jakarta, Selasa, 15 September 2026. Mereka menari bersama dalam pergelaran massal Tari Keroncong Nusantara yang melibatkan 500 peserta.

Kegiatan yang digelar Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) ini menjadi momentum pemecahan rekor.

Tapi, aksinya nggak cuma soal mengejar jumlah peserta. Ada misi yang lebih besar, yaitu membuat keroncong tetap hidup, berkembang, dan makin dekat dengan masyarakat.


 

 

Keroncong gak cuma untuk didengar


Ketua LINI Rudy Octave melihat pergelaran ini sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali musik keroncong yang punya sejarah panjang dan berakar di Batavia. Menurutnya, perkembangan sebuah irama juga nggak bisa dilepaskan dari gerak tari.

“Tapi sejarah mengajarkan kepada kita bahwa pengembangan sebuah irama musik tidak akan pernah utuh tanpa adanya dukungan pola gerak tari melalui gerak sebuah irama,” kata Rudy.

Dari situlah Tari Keroncong Nusantara dibuat. Lagu “Irama Senja (Tari Keroncong Nusantara)” diciptakan Rudy Octave, sementara gerakan dasarnya dikembangkan bersama seniman dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI), termasuk Agustina Rochyanti.

Agustina menjelaskan, konsep tersebut dibuat supaya keroncong nggak cuma menjadi musik latar.

“Tari keroncong Nusantara ini memang diciptakan karena sebuah irama itu tidak hanya menjadi latar. Tapi dia harus bisa bertransformasi menjadi gerak tari,” ujarnya.

Jadi, masyarakat nggak cuma mendengarkan alunan keroncong, tetapi juga bisa ikut bergerak dan menikmati musiknya dengan cara yang lebih aktif.


e2ada6ec-08bc-442c-971d-f6765a2b2368
(Peserta menampilkan Tari Keroncong Nusantara di Kota Tua Jakarta. Foto: Dok. Istimewa)

Dari 500 peserta menuju panggung global

 
 

Buat LINI, pergelaran 500 peserta di Kota Tua bukanlah akhir. Gerakan dasar Tari Keroncong Nusantara diharapkan terus berkembang, menyebar lewat media sosial, sampai bisa menjadi bagian dari pergaulan sehari-hari.

“Harapan kami gerak dasar ini tidak hanya berhenti di panggung pada hari ini, tapi terus berkembang, menjadi viral di media sosial dan menjadi acuan di pergaulan sehari-hari masyarakat,” tutur Rudy.

Targetnya bahkan lebih jauh. LINI ingin keroncong bisa berkembang menjadi identitas budaya Indonesia di tingkat global, seperti Tango dari Argentina dan Samba dari Brasil.

Tentu, gerakan ini nggak bisa jalan sendirian. Rudy menilai pelestarian keroncong perlu melibatkan pemerintah, komunitas budaya dan tari, kelompok lansia, sampai generasi muda dan pelajar.

 

Candra Darusman ikut beri dukungan

 
 
 

Musisi Candra Darusman juga hadir dalam pergelaran tersebut. Meski datang dari luar Jakarta, ia menyempatkan diri hadir untuk memberikan dukungan terhadap kegiatan yang membawa seni budaya Indonesia ke ruang publik.

“Saya dari luar kota, tepatnya Tangerang Selatan. Tapi karena acara ini luar biasa, saya menyempatkan hadir pada pagi hari ini,” kata Candra.

Kehadiran Candra ikut menambah dukungan dari para pelaku seni terhadap upaya memperkenalkan kembali keroncong kepada masyarakat luas.


 


 

Sundari Soekotjo berharap generasi muda ikut belajar

 

Pergelaran di Kota Tua makin meriah dengan kehadiran penyanyi keroncong Sundari Soekotjo. Ia memberikan kejutan dengan menyanyikan Tari Keroncong Nusantara secara langsung untuk mengiringi 500 peserta yang menari bersama.

Melihat antusiasme masyarakat, Sundari mengaku sangat bahagia. “Saya sangat puas dan sangat bahagia. Karena ternyata peminat daripada masyarakat terhadap seni budaya bangsa dan kebersamaan untuk melestarikan seni budaya bangsa, khususnya musik keroncong itu sangat mendapatkan perhatian daripada masyarakat,” katanya.

Ia berharap semangat tersebut bisa diteruskan generasi muda, terutama para pelajar yang ikut hadir.

“Paling tidak mereka bisa mengenal musik keroncong dulu dan diharapkan mau belajar dan bisa melestarikan,” ujarnya.

Buat Sundari, keroncong juga nggak harus selalu identik dengan musik yang pelan. “Karena lagu keroncong itu sebenarnya tidak terlalu slow, tapi bisa dibawa ke mana saja,” tuturnya.

Dari Kota Tua, keroncong menunjukkan kalau warisan budaya nggak harus cuma dikenang. Ia masih bisa bergerak, ditarikan, dan terus hidup di generasi sekarang. 



Desi Indasari



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH