WISATA

Industri Travel Lagi Berubah Total, Indonesia Diminta Jangan Cuma Jual Pemandangan

A. Firdaus
Jumat 15 Mei 2026 / 17:17
Ringkasnya gini..
  • salah satu insight terbesar dari forum tersebut adalah perubahan arah persaingan industri pariwisata global.
  • Pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan.
  • 68,3 persen perjalanan wisata masuk pada 2025 diperkirakan berasal dari intra-regional travel.
Korea Selatan: Masa depan pariwisata di kawasan Asia Pasifik dinilai tak lagi ditentukan dari jumlah wisatawan yang datang, melainkan kemampuan sebuah destinasi memahami perubahan perilaku traveler global.

Hal tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam PATA Annual Summit 2026 yang digelar pada 11–13 Mei 2026 di Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan. Forum tahunan yang mengangkat tema 'Navigating Towards a Resilient Future' itu dihadiri lebih dari 550 delegasi dari lebih dari 35 destinasi Asia Pasifik, serta menghadirkan lebih dari 60 pembicara dari sektor pariwisata global, mulai dari regulator, tourism board, platform digital, hingga perusahaan teknologi perjalanan.

Delegasi PATA Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar, mengatakan salah satu insight terbesar dari forum tersebut adalah perubahan arah persaingan industri pariwisata global.
“Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan,” ujar Ardiyansyah.

Dalam forum tersebut, Pacific Asia Travel Association atau PATA memproyeksikan jumlah international visitor arrivals di kawasan Asia Pasifik akan mencapai 761,2 juta pada 2028. Sementara itu, sekitar 68,3 persen perjalanan wisata masuk pada 2025 diperkirakan berasal dari intra-regional travel atau perjalanan antarnegara di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Ardiyansyah, data tersebut menjadi sinyal bahwa persaingan antar destinasi ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan memahami kebutuhan wisatawan yang terus berubah.
 

AI dan digitalisasi ubah cara promosi destinasi


Salah satu sesi yang cukup mencuri perhatian datang dari Sojern. Perusahaan travel marketing technology itu memaparkan bahwa strategi destination marketing kini mengalami perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (AI) dan perilaku wisatawan yang semakin dinamis.


Delegasi PATA Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar. Dok. Ist

Wisatawan saat ini dinilai lebih personal dalam menentukan perjalanan. Mulai dari mencari inspirasi, membandingkan destinasi, hingga melakukan booking secara digital.

Dalam laporan State of Destination Marketing 2026, Sojern juga menyoroti semakin besarnya tekanan terhadap para destination marketer untuk mampu menghadirkan strategi promosi yang terukur dan berdampak nyata.
 

Indonesia dinilai punya modal besar


Bagi Indonesia, perubahan tren tersebut dianggap menjadi peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai destinasi wisata berbasis pengalaman, budaya, dan keberlanjutan.

Ardiyansyah menilai Indonesia telah memiliki fondasi pasar yang kuat dengan capaian 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025, ditambah 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara serta 1,09 juta kunjungan wisman pada Maret 2026.

“Tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi,” katanya.

Selain membahas transformasi industri pariwisata global, forum tersebut juga mengangkat berbagai isu strategis lain seperti sustainable tourism governance, digital tourism resilience, pengembangan AI di sektor travel, hingga penguatan talenta muda pariwisata di kawasan Asia Pasifik.

Ardiyansyah berharap ke depan semakin banyak pelaku industri pariwisata nasional, termasuk regulator seperti Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan InJourney, dapat terlibat aktif dalam forum internasional semacam ini.

“Momen seperti PATA Annual Summit menjadi penting tidak hanya bagi pelaku industri pariwisata, tetapi juga regulator dan pemangku kebijakan pariwisata di Indonesia,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH