WISATA

Bromo Sempat Tutup karena Karhutla, Persepsi Aman Jadi Kunci

A. Firdaus
Rabu 16 September 2026 / 12:05
Ringkasnya gini..
  • Kemenpar menilai persepsi aman menjadi kunci minat wisatawan.
  • Persepsi mengenai keamanan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keberlanjutan sebuah destinasi wisata.
  • Jika muncul informasi negatif, tim kemudian menyiapkan langkah penanganan dan memberikan respons.
Batu: Gunung Bromo sempat harus ditutup akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, penutupan tersebut disebut tidak serta-merta menghilangkan minat wisatawan untuk kembali berkunjung.

Staf Ahli Bidang Manajemen, khususnya Manajemen Krisis Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Fadjar Hutomo, mengatakan persepsi mengenai keamanan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keberlanjutan sebuah destinasi wisata.

“Pariwisata itu adalah tentang persepsi. Ketika sebuah destinasi wisata alam dipersepsikan aman untuk dikunjungi, minat wisatawan untuk datang kembali akan tinggi,” ujar Fadjar dalam forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Wisata Party, Jatim Park 3, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).
 

Menurut Fadjar, kondisi berbeda dapat terjadi ketika sebuah destinasi dipersepsikan tidak aman karena bencana alam tidak tertangani dengan baik, sering terjadi kecelakaan, atau terdapat persoalan kriminalitas.

“Sebaliknya, ketika sebuah destinasi dipersepsikan tidak aman karena bencana alam tidak tertangani dengan baik, sering terjadi kecelakaan, atau kriminalitas, ini menjadi barrier bagi pariwisata berkelanjutan,” katanya.
 

Bromo dan Persepsi Aman Wisatawan


Fadjar mencontohkan Taman Nasional Gunung Bromo di Jawa Timur yang sempat ditutup akibat karhutla.

Meski sempat mengalami kebakaran, ia mengatakan minat wisatawan terhadap Bromo tidak otomatis menurun. Salah satu alasannya adalah tingginya kesadaran wisatawan terhadap kelestarian kawasan tersebut dan persepsi bahwa Bromo masih aman untuk dikunjungi setelah kondisi memungkinkan.

“Awareness wisatawan terhadap kelestarian Bromo tinggi. Meski mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), wisatawan mempersepsikan Bromo aman untuk dikunjungi,” ujarnya.

Bagi Kemenpar, pengalaman Bromo menunjukkan bahwa penanganan risiko dan komunikasi kepada wisatawan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan terhadap sebuah destinasi.

Fadjar mengatakan aspek keselamatan kini menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan pariwisata.

“Aspek safety menjadi sangat penting. Ibu Menteri Pariwisata menetapkan keselamatan pariwisata menjadi salah satu program prioritas. Intinya, tourism is not only about beauty, but also safety,” kata Fadjar.

Ia menambahkan keamanan, kenyamanan dan pelestarian alam perlu menjadi perhatian dalam pengembangan pariwisata alam agar kualitas destinasi tetap terjaga dan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
 

Faktor Manusia hingga Cuaca Ekstrem


Dalam kasus kebakaran di kawasan wisata alam, risiko tidak selalu datang dari faktor alam. Kemenpar juga menyoroti perilaku manusia yang dapat memicu kebakaran.

Fadjar menyebut penggunaan flare untuk kebutuhan foto prewedding, membuang puntung rokok sembarangan di area savana hingga lupa mematikan sisa api unggun sebagai sejumlah perilaku yang berpotensi memicu kebakaran.

Di sisi lain, kondisi alam pada musim kemarau juga dapat meningkatkan risiko. Suhu panas ekstrem yang disertai angin kencang membuat percikan api kecil dapat dengan cepat merambat dan membesar, terutama ketika vegetasi di kawasan savana dalam kondisi kering.

Karena itu, Kemenpar mendorong seluruh pihak terkait meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan, termasuk memastikan penerapan standar operasional prosedur (SOP) bagi masyarakat maupun wisatawan.

“Kemenpar berkolaborasi dengan media mengedukasi wisatawan agar tercipta persepsi positif terhadap destinasi wisata,” ujar Fadjar.

Jatim Park Gabungkan Rekreasi dan Edukasi

Pembahasan mengenai safety tourism juga menjadi bagian dari pengembangan Jawa Timur Park Group.

Direktur Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sendjojo, mengatakan Jatim Park Group terus mengembangkan konsep destinasi yang memadukan edukasi, hiburan, rekreasi dan konservasi.

Setelah mengembangkan Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan Jatim Park 3, pada September 2026 Jatim Park Group kembali menghadirkan destinasi edukasi melalui Mega Science Center dan Budaya.

“Daya tarik obyek wisata ini adalah sebagai ruang pembelajaran anak sekolah untuk belajar tentang sains; kimia, fisika, biologi, matematika, dan budaya, yang dilengkapi dengan area untuk robot yang bisa perform dan bertingkah seperti manusia,” kata Rio.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan destinasi wisata bukan hanya tempat untuk bersenang-senang, tetapi juga ruang bagi wisatawan untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.
 

Simulasi Kebencanaan Jadi Bagian SOP


Sementara itu, Direktur Jawa Timur Park 3, Suryo Widodo, mengatakan aspek keselamatan menjadi bagian dari operasional destinasi.

Kota Batu berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah pegunungan, termasuk Gunung Bromo, Gunung Arjuna dan Gunung Welirang. Menurut Suryo, secara historis kawasan Kota Batu relatif aman dari dampak erupsi gunung berapi maupun banjir bandang.

Meski demikian, kesiapsiagaan tetap menjadi perhatian.

“Namun demikian, sesuai SOP dan standar Disnaker, Jatim Park secara periodik senantiasa melakukan simulasi kebencanaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan para petugas,” ujar Suryo.

Simulasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk memastikan petugas memiliki kesiapan ketika menghadapi kondisi darurat di kawasan destinasi.
 

Satu Postingan Bisa Membentuk Persepsi


Selain kesiapan menghadapi risiko di lapangan, pengelola destinasi juga harus berhadapan dengan tantangan di ruang digital.

Manager Marketing & PR Jawa Timur Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan membangun persepsi positif di media sosial membutuhkan kerja yang sistematis.

Jatim Park Group memiliki tim yang bekerja selama 24 jam untuk memantau berbagai unggahan masyarakat, mulai dari keluhan dan saran hingga informasi yang dinilai tidak benar.

“Krisis komunikasi di sosial media sangat luar biasa. Saya punya tim yang harus bekerja keras memantau setiap komentar dan postingan melalui early warning system dalam 24 jam,” kata Titik.

Jika muncul informasi negatif, tim kemudian menyiapkan langkah penanganan dan memberikan respons.

“Kalau ada informasi negatif, kita langsung buat rencana dan mengambil tindakan segera atau take action,” lanjutnya.

Bagi pengelola destinasi, kecepatan merespons menjadi bagian dari upaya menjaga komunikasi dengan wisatawan sekaligus membangun kepercayaan publik.

Pada akhirnya, pengalaman Bromo maupun pengelolaan destinasi seperti Jatim Park menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya membutuhkan daya tarik. Keamanan, kesiapan menghadapi risiko, edukasi wisatawan dan komunikasi yang cepat juga menjadi bagian penting dalam membangun destinasi yang dipercaya dan berkelanjutan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH