WISATA
Perjalanan 25 Tahun Jatim Park, Menyiapkan Masa Depan Wisata Batu yang Lebih Berkelanjutan
A. Firdaus
Rabu 16 September 2026 / 11:44
- Jatim Park Group terus mengembangkan konsep wisata aman, edukatif dan berkelanjutan untuk mendorong Kota Batu menjadi destinasi wisata nasional.
- Sejak awal Jatim Park memang tidak sekadar dibangun sebagai tempat rekreasi.
- Mega Science dan Budaya dibangun dengan nilai investasi mencapai Rp100 miliar.
Batu: Seperempat abad bukan waktu yang singkat bagi sebuah destinasi wisata. Dari awalnya menjadi tempat rekreasi keluarga, Jawa Timur Park Group kini berkembang dengan beragam destinasi yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membawa unsur edukasi, konservasi dan keselamatan.
Direktur Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sudjojo, mengatakan sejak awal Jatim Park memang tidak sekadar dibangun sebagai tempat rekreasi.
“Ada unsur pembelajaran dan edukasi yang ingin dibawa kepada keluarga. Dan, awalnya motto kami adalah aman, belajar, dan edukasi,” kata Rio dalam Ngoprek (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bersama Jawa Timur Park Group di Batu, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).
Memasuki usia 25 tahun, konsep tersebut terus dikembangkan. Jatim Park Group kini memiliki 17 destinasi wisata di Kota Batu dengan karakter dan target pengunjung yang berbeda.
Pengembangan destinasi pun masih berlanjut. Salah satunya melalui pembukaan Mega Science dan Budaya pada 16 September 2026.
Fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah. Pengunjung dapat mengenal berbagai pengetahuan, mulai dari kimia, fisika, matematika hingga bidang ilmu lainnya.
Mega Science dan Budaya dibangun dengan nilai investasi mencapai Rp100 miliar.
Tidak berhenti di sana, Jatim Park Group juga menyiapkan pengembangan akuarium bawah air yang ditargetkan dibuka pada 2028. Proyek tersebut memiliki nilai investasi Rp120 miliar.
“Jatim Park sudah menjadi destinasi yang lengkap. Mimpi kita adalah menjadikan Batu sebagai destinasi wisata nasional dan semakin banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Batu,” ujar Rio.
Bagi Jatim Park Group, perkembangan destinasi tidak hanya soal menambah wahana atau menghadirkan tempat baru. Aspek keamanan juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
Hal ini sejalan dengan pembahasan mengenai safety tourism yang menjadi tema dalam Ngoprek. Konsep tersebut menempatkan keamanan dan keselamatan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang melibatkan pengelola, sumber daya manusia, wisatawan, infrastruktur hingga masyarakat.
Di lingkungan Jatim Park, aspek keselamatan diterapkan melalui berbagai langkah, mulai dari pelatihan karyawan, sertifikasi, pemeriksaan kelayakan lokasi, pengaturan antrean hingga penerapan K3.
Namun, pengalaman wisata yang dibangun Jatim Park tidak berhenti pada aspek keamanan. Edukasi dan konservasi juga menjadi bagian dari perjalanan wisatawan.
Di Jatim Park 2 dan Jatim Park 3, misalnya, pengunjung dapat menikmati rekreasi sekaligus mendapatkan pengetahuan melalui Museum Satwa, Dino Park hingga Museum Musik.
“Banyak hewan dari ciptaan Tuhan yang belum kita lihat. Konservasi juga menjadi bagian penting,” kata Rio.
Upaya menjaga keberlanjutan juga dilakukan dengan memperhatikan lingkungan, salah satunya dengan menghindari penebangan pohon. Kolaborasi dengan masyarakat sekitar, komunitas dan media juga menjadi bagian yang dinilai penting dalam membangun pariwisata yang dapat tumbuh bersama lingkungan.
Di era digital, tantangan pengelolaan destinasi juga semakin kompleks. Pengalaman seorang wisatawan kini bisa langsung dibagikan melalui media sosial dan dalam waktu singkat menjangkau banyak orang.
Manager Marketing dan PR Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan pihaknya memiliki tim khusus yang setiap hari memantau percakapan dan komentar di media sosial.
“Krisis komunikasi di media sosial sangat luar biasa. Setiap hari saya punya tim khusus memperhatikan komentar. Kami membuat rencana dan melakukan tindakan,” jelas Titik.
Menurutnya, pemantauan tersebut penting karena persoalan kecil dapat berkembang menjadi perhatian publik jika tidak segera ditangani.
Ia mencontohkan ketika seorang siswa SMP jatuh dari salah satu wahana. Penanganan dan komunikasi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam.
Kasus lain terjadi ketika muncul unggahan yang menyebut seekor singa di Jatim Park 2 dalam kondisi kurus dan tidak dirawat. Tim kemudian memberikan penjelasan serta merespons persoalan tersebut.
Bagi Titik, kecepatan merespons menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi persoalan di ruang digital.
“Edukasi keselamatan juga dimulai sejak wisatawan membeli tiket,” ujarnya.
Pengunjung diberikan informasi mengenai aturan dan larangan yang berlaku. Selain itu, berbagai konten edukasi mengenai safety juga terus disampaikan kepada wisatawan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keselamatan saat berwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola destinasi, tetapi juga membutuhkan kepatuhan dari pengunjung.
Setelah 25 tahun perjalanan, Jatim Park Group kini membawa visi yang lebih besar untuk Kota Batu. Bukan sekadar menghadirkan semakin banyak tempat rekreasi, tetapi membangun destinasi yang mampu memadukan hiburan, edukasi, keselamatan dan keberlanjutan.
Potensi wisatawan mancanegara juga menjadi salah satu perhatian. Jatim Park 2 disebut memiliki peluang untuk semakin menarik pasar internasional dan telah memperoleh penghargaan di tingkat Asia untuk kebun binatangnya.
Untuk mendorong kunjungan wisatawan asing, Jatim Park Group juga memberikan diskon 20 persen bagi wisatawan mancanegara.
Bagi Rio, perjalanan selama seperempat abad menjadi pijakan untuk membawa Jatim Park dan Kota Batu ke tahap berikutnya.
Dari taman rekreasi keluarga, Jatim Park kini berkembang menjadi kawasan wisata dengan beragam pengalaman. Ada hiburan, ruang belajar, konservasi hingga perhatian terhadap keselamatan.
Mimpi berikutnya adalah membawa Kota Batu semakin dikenal sebagai destinasi wisata nasional sekaligus menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Sebab, masa depan pariwisata bukan hanya tentang seberapa menarik sebuah destinasi, tetapi juga seberapa aman, edukatif dan berkelanjutan pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan.
(FIR)
Direktur Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sudjojo, mengatakan sejak awal Jatim Park memang tidak sekadar dibangun sebagai tempat rekreasi.
“Ada unsur pembelajaran dan edukasi yang ingin dibawa kepada keluarga. Dan, awalnya motto kami adalah aman, belajar, dan edukasi,” kata Rio dalam Ngoprek (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bersama Jawa Timur Park Group di Batu, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).
Memasuki usia 25 tahun, konsep tersebut terus dikembangkan. Jatim Park Group kini memiliki 17 destinasi wisata di Kota Batu dengan karakter dan target pengunjung yang berbeda.
Pengembangan destinasi pun masih berlanjut. Salah satunya melalui pembukaan Mega Science dan Budaya pada 16 September 2026.
Fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah. Pengunjung dapat mengenal berbagai pengetahuan, mulai dari kimia, fisika, matematika hingga bidang ilmu lainnya.
Mega Science dan Budaya dibangun dengan nilai investasi mencapai Rp100 miliar.
Tidak berhenti di sana, Jatim Park Group juga menyiapkan pengembangan akuarium bawah air yang ditargetkan dibuka pada 2028. Proyek tersebut memiliki nilai investasi Rp120 miliar.
“Jatim Park sudah menjadi destinasi yang lengkap. Mimpi kita adalah menjadikan Batu sebagai destinasi wisata nasional dan semakin banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Batu,” ujar Rio.
Aman Jadi Bagian dari Pengalaman Wisata
Bagi Jatim Park Group, perkembangan destinasi tidak hanya soal menambah wahana atau menghadirkan tempat baru. Aspek keamanan juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
Hal ini sejalan dengan pembahasan mengenai safety tourism yang menjadi tema dalam Ngoprek. Konsep tersebut menempatkan keamanan dan keselamatan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang melibatkan pengelola, sumber daya manusia, wisatawan, infrastruktur hingga masyarakat.
Di lingkungan Jatim Park, aspek keselamatan diterapkan melalui berbagai langkah, mulai dari pelatihan karyawan, sertifikasi, pemeriksaan kelayakan lokasi, pengaturan antrean hingga penerapan K3.
Namun, pengalaman wisata yang dibangun Jatim Park tidak berhenti pada aspek keamanan. Edukasi dan konservasi juga menjadi bagian dari perjalanan wisatawan.
Di Jatim Park 2 dan Jatim Park 3, misalnya, pengunjung dapat menikmati rekreasi sekaligus mendapatkan pengetahuan melalui Museum Satwa, Dino Park hingga Museum Musik.
“Banyak hewan dari ciptaan Tuhan yang belum kita lihat. Konservasi juga menjadi bagian penting,” kata Rio.
Upaya menjaga keberlanjutan juga dilakukan dengan memperhatikan lingkungan, salah satunya dengan menghindari penebangan pohon. Kolaborasi dengan masyarakat sekitar, komunitas dan media juga menjadi bagian yang dinilai penting dalam membangun pariwisata yang dapat tumbuh bersama lingkungan.
Ketika Media Sosial Ikut Menentukan Persepsi
Di era digital, tantangan pengelolaan destinasi juga semakin kompleks. Pengalaman seorang wisatawan kini bisa langsung dibagikan melalui media sosial dan dalam waktu singkat menjangkau banyak orang.
Manager Marketing dan PR Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan pihaknya memiliki tim khusus yang setiap hari memantau percakapan dan komentar di media sosial.
“Krisis komunikasi di media sosial sangat luar biasa. Setiap hari saya punya tim khusus memperhatikan komentar. Kami membuat rencana dan melakukan tindakan,” jelas Titik.
Menurutnya, pemantauan tersebut penting karena persoalan kecil dapat berkembang menjadi perhatian publik jika tidak segera ditangani.
Ia mencontohkan ketika seorang siswa SMP jatuh dari salah satu wahana. Penanganan dan komunikasi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam.
Kasus lain terjadi ketika muncul unggahan yang menyebut seekor singa di Jatim Park 2 dalam kondisi kurus dan tidak dirawat. Tim kemudian memberikan penjelasan serta merespons persoalan tersebut.
Bagi Titik, kecepatan merespons menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi persoalan di ruang digital.
“Edukasi keselamatan juga dimulai sejak wisatawan membeli tiket,” ujarnya.
Pengunjung diberikan informasi mengenai aturan dan larangan yang berlaku. Selain itu, berbagai konten edukasi mengenai safety juga terus disampaikan kepada wisatawan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keselamatan saat berwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola destinasi, tetapi juga membutuhkan kepatuhan dari pengunjung.
Membawa Batu Naik Kelas
Setelah 25 tahun perjalanan, Jatim Park Group kini membawa visi yang lebih besar untuk Kota Batu. Bukan sekadar menghadirkan semakin banyak tempat rekreasi, tetapi membangun destinasi yang mampu memadukan hiburan, edukasi, keselamatan dan keberlanjutan.
Potensi wisatawan mancanegara juga menjadi salah satu perhatian. Jatim Park 2 disebut memiliki peluang untuk semakin menarik pasar internasional dan telah memperoleh penghargaan di tingkat Asia untuk kebun binatangnya.
Untuk mendorong kunjungan wisatawan asing, Jatim Park Group juga memberikan diskon 20 persen bagi wisatawan mancanegara.
Bagi Rio, perjalanan selama seperempat abad menjadi pijakan untuk membawa Jatim Park dan Kota Batu ke tahap berikutnya.
Dari taman rekreasi keluarga, Jatim Park kini berkembang menjadi kawasan wisata dengan beragam pengalaman. Ada hiburan, ruang belajar, konservasi hingga perhatian terhadap keselamatan.
Mimpi berikutnya adalah membawa Kota Batu semakin dikenal sebagai destinasi wisata nasional sekaligus menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Sebab, masa depan pariwisata bukan hanya tentang seberapa menarik sebuah destinasi, tetapi juga seberapa aman, edukatif dan berkelanjutan pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan.
(FIR)