WISATA

Enggak Cuma Buat Pajangan, Galeri Budaya Bakal Jadi Wadah Biar Skill Kreatif Kita Makin Diakui Dunia!

Yatin Suleha
Minggu 25 Januari 2026 / 18:05
Jakarta: Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya, menghadiri pembukaan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia di kawasan Pantjoran PIK, Jakarta, Jumat (23/1/2026). 

Galeri ini dihadirkan sebagai ruang edukasi dan interaksi publik yang merekam perjalanan sejarah, ketangguhan, serta kontribusi masyarakat Tionghoa sebagai bagian penting dari kebudayaan Indonesia.

Menteri Ekraf menegaskan bahwa nilai budaya tidak hanya menggambarkan warisan masa lalu, tetapi juga menjadi modal strategis pembangunan ekonomi kreatif.
 
“Budaya adalah modal masa depan. Sejarah, seni, tradisi, dan cerita hidup yang diolah secara kreatif mampu melahirkan nilai tambah ekonomi, membuka ruang inovasi, serta memperkuat daya saing pegiat kreatif,” ujar Teuku Riefky.

Galeri Budaya Tionghoa Indonesia menampilkan ruang-ruang tematik yang menggambarkan dinamika komunitas Tionghoa, mulai dari proses kedatangan, pengalaman lintas generasi, hingga praktik akulturasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. 

Pendekatan kuratorial tersebut memperkuat pesan kebersamaan sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap keberagaman.

Menteri Ekraf menambahkan bahwa galeri budaya memiliki peran strategis sebagai simpul penting dalam membangun ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.



(Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Foto: Dok. Birkom Kemenekraf)

“Nilai akulturasi, kebersamaan, dan keberagaman yang ditampilkan di ruang seperti ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan bangsa sekaligus memperkaya industri kreatif,” lanjutnya.

Kehadiran Galeri Budaya Tionghoa Indonesia juga membuka peluang kolaborasi lintas komunitas, pendidikan, dan industri kreatif, sekaligus mendorong lahirnya produk kreatif berbasis narasi budaya, desain, seni pertunjukan, hingga konten edukatif. 

Galeri ini diharapkan menjadi platform dialog antargenerasi yang relevan dengan konteks kekinian.

CEO of Amantara Agung Sedayu Group Natalia Kusumo mengatakan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia hadir sebagai ruang edukasi sejarah yang ditampilkan secara inovatif, sehingga informasi mudah dipahami.

"Di dalam ada animasi, ada foto-foto, ada bacaan-bacaan dan juga experience yang paling penting merasakan suasana ketika leluhur dari warga Indonesia yang berasal dari Tionghoa," ujarnya.

Kementerian Ekraf mendorong pemanfaatan ruang budaya sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai subsektor kreatif berbasis kekayaan intelektual, pengalaman pengunjung, serta inovasi kuratorial. 

Integrasi antara budaya dan kreativitas diyakini mampu memperluas pasar, meningkatkan kualitas karya, serta memperkuat identitas nasional di tingkat global.

 

Pembukaan galeri ini turut dihadiri CEO Agung Sedayu Group Ellen Kusumo, CFO Agung Sedayu Group Linda Kusumo, Edith Emeralda dan team kuratorial GBTI,Kepala Riset dan Konten Pameran di GBTI Lilawati Kurnia (UI - JCCS), Seniman partisipan di pameran GBTI FX. Harsono serta Para tokoh budaya, seniman, akademisi, komunitas.

Menteri Ekraf turut didampingi oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu dan Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH