WISATA
Libur Panjang Berdampak Manis, Okupansi Hotel dan Kunjungan Wisata Sama-sama Naik
A. Firdaus
Jumat 10 Juli 2026 / 08:10
- Kemenpar menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pariwisata nasional tetap tangguh di tengah dinamika geopolitik global.
- Pada Mei 2026, tercatat 106,16 juta perjalanan wisata domestik, meningkat 8,69 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya.
- Jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri justru mengalami penurunan
Jakarta: Momentum libur nasional dan cuti bersama sepanjang awal 2026 memberikan angin segar bagi sektor pariwisata Indonesia. Hingga Mei 2026, jumlah perjalanan wisatawan domestik meningkat, kunjungan wisatawan mancanegara terus bertambah, dan tingkat hunian hotel menunjukkan tren pemulihan yang semakin stabil.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pariwisata nasional tetap tangguh di tengah dinamika geopolitik global sekaligus terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, wisatawan nusantara masih menjadi penopang utama pergerakan pariwisata di dalam negeri.
"Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting," ujarnya saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Sepanjang Mei 2026, Indonesia menerima 1,38 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) atau naik 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman pada Januari hingga Mei 2026 mencapai 6,07 juta kunjungan, meningkat 7,68 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Menurut Widiyanti, capaian Mei menjadi angka kunjungan tertinggi sejak awal tahun dan menunjukkan bahwa daya tarik Indonesia di mata wisatawan internasional masih sangat kuat.
Pertumbuhan terbesar datang dari pasar Asia Tenggara yang naik lebih dari 11 persen. Selain itu, peningkatan juga tercatat dari kawasan Timur Tengah, Asia lainnya, Oseania, Afrika, hingga Amerika. Sementara pasar Eropa mengalami perlambatan akibat kondisi geopolitik global.
Tak hanya wisatawan asing, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga menunjukkan tren positif. Pada Mei 2026, tercatat 106,16 juta perjalanan wisata domestik, meningkat 8,69 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya.
Kementerian Pariwisata menilai kenaikan ini dipengaruhi oleh momentum libur nasional dan cuti bersama yang dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata di berbagai destinasi dalam negeri.
Secara keseluruhan, selama Januari hingga Mei 2026 jumlah perjalanan wisnus mencapai 523,22 juta perjalanan, naik 2,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri justru mengalami penurunan. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menjelaskan, pada Mei 2026 terdapat 550.382 perjalanan wisata ke luar negeri, turun sekitar 6 persen dibandingkan Mei 2025.
Secara kumulatif, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri selama Januari hingga Mei 2026 juga turun menjadi 3,69 juta perjalanan.
Menurut Ni Luh, kondisi tersebut menunjukkan destinasi wisata dalam negeri masih menjadi pilihan utama masyarakat.
"Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia," katanya.
Kondisi tersebut juga membuat Indonesia mencatatkan surplus kunjungan wisatawan. Selama Januari hingga Mei 2026, jumlah wisatawan mancanegara yang datang lebih tinggi dibandingkan warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri, dengan surplus mencapai 2,37 juta kunjungan.
Pemulihan sektor pariwisata juga terlihat dari meningkatnya tingkat hunian hotel berbintang.
Pada Mei 2026, tingkat okupansi hotel mencapai 50,76 persen, naik sekitar 2,5 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, rata-rata okupansi hotel berbintang sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 46,99 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Menurut Ni Luh Puspa, peningkatan okupansi hotel menjadi indikator penting karena berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi di destinasi wisata.
Dengan tren kunjungan wisatawan yang terus tumbuh dan meningkatnya minat masyarakat untuk berlibur di dalam negeri, Kementerian Pariwisata optimistis sektor pariwisata akan terus menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata yang kompetitif di kawasan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pariwisata nasional tetap tangguh di tengah dinamika geopolitik global sekaligus terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, wisatawan nusantara masih menjadi penopang utama pergerakan pariwisata di dalam negeri.
"Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting," ujarnya saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Kunjungan wisatawan asing terus meningkat
Sepanjang Mei 2026, Indonesia menerima 1,38 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) atau naik 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman pada Januari hingga Mei 2026 mencapai 6,07 juta kunjungan, meningkat 7,68 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Menurut Widiyanti, capaian Mei menjadi angka kunjungan tertinggi sejak awal tahun dan menunjukkan bahwa daya tarik Indonesia di mata wisatawan internasional masih sangat kuat.
Pertumbuhan terbesar datang dari pasar Asia Tenggara yang naik lebih dari 11 persen. Selain itu, peningkatan juga tercatat dari kawasan Timur Tengah, Asia lainnya, Oseania, Afrika, hingga Amerika. Sementara pasar Eropa mengalami perlambatan akibat kondisi geopolitik global.
Wisatawan domestik masih jadi tulang punggung
Tak hanya wisatawan asing, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga menunjukkan tren positif. Pada Mei 2026, tercatat 106,16 juta perjalanan wisata domestik, meningkat 8,69 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya.
Kementerian Pariwisata menilai kenaikan ini dipengaruhi oleh momentum libur nasional dan cuti bersama yang dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata di berbagai destinasi dalam negeri.
Secara keseluruhan, selama Januari hingga Mei 2026 jumlah perjalanan wisnus mencapai 523,22 juta perjalanan, naik 2,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Minat liburan ke luar negeri menurun
Di sisi lain, jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri justru mengalami penurunan. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menjelaskan, pada Mei 2026 terdapat 550.382 perjalanan wisata ke luar negeri, turun sekitar 6 persen dibandingkan Mei 2025.
Secara kumulatif, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri selama Januari hingga Mei 2026 juga turun menjadi 3,69 juta perjalanan.
Menurut Ni Luh, kondisi tersebut menunjukkan destinasi wisata dalam negeri masih menjadi pilihan utama masyarakat.
"Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia," katanya.
Kondisi tersebut juga membuat Indonesia mencatatkan surplus kunjungan wisatawan. Selama Januari hingga Mei 2026, jumlah wisatawan mancanegara yang datang lebih tinggi dibandingkan warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri, dengan surplus mencapai 2,37 juta kunjungan.
Okupansi hotel ikut membaik
Pemulihan sektor pariwisata juga terlihat dari meningkatnya tingkat hunian hotel berbintang.
Pada Mei 2026, tingkat okupansi hotel mencapai 50,76 persen, naik sekitar 2,5 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, rata-rata okupansi hotel berbintang sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 46,99 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Menurut Ni Luh Puspa, peningkatan okupansi hotel menjadi indikator penting karena berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi di destinasi wisata.
Dengan tren kunjungan wisatawan yang terus tumbuh dan meningkatnya minat masyarakat untuk berlibur di dalam negeri, Kementerian Pariwisata optimistis sektor pariwisata akan terus menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata yang kompetitif di kawasan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)