FAMILY

Skin-to-Skin Magic: Rahasia Bayi NICU Cepat Pulih

Aulia Putriningtias
Minggu 10 Mei 2026 / 13:05
Ringkasnya gini..
  • Bagi banyak orang, NICU mungkin terasa seperti ruang perjuangan yang menegangkan.
  • Melalui komunikasi yang hangat dan empatik, orang tua tidak hanya mendapatkan pemahaman, tetapi juga kekuatan emosional.
  • Orang tua tidak lagi diposisikan sebagai pengamat, melainkan sebagai bagian integral dari proses perawatan.
Jakarta: Menyambut International Nurses Day tanggal 12 Mei ini, ada satu cerita hangat dari ruang NICU tentang metode Kangaroo Mother Care (KMC). Bagi banyak orang, NICU mungkin terasa seperti ruang perjuangan yang menegangkan. 

Tapi di RSIA Bunda, sudut pandangnya beda: ini adalah titik awal untuk membangun kualitas hidup yang luar biasa bagi si kecil.

Lewat pendekatan Family Integrated Care (FICare), dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A, Subsp. Neo (K) menjelaskan kalau sistem ini membawa perubahan besar. Bukan cuma soal medis, tapi soal gimana keluarga dilibatkan penuh dalam proses pemulihan bayi.
 
Orang tua tidak lagi diposisikan sebagai pengamat, melainkan sebagai bagian integral dari proses perawatan. Mereka dilibatkan sejak dini, diberikan edukasi, serta didampingi secara intensif agar mampu berperan aktif dalam merawat bayinya.

"Bagi kami, NICU bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya," kata dr. Adhi yang ditemui di RSIA Bunda, Sabtu, 9 Mei 2026.

Penerapan FICare di RSIA Bunda sendiri diinisiasi oleh dr. I. G. A. N. Partiwi, Sp.A, MARS atau dr. Tiwi, selaku Chairman Pediatric Bunda Group. Selama bertahun-tahun, ia mendorong pentingnya keterlibatan keluarga dalam proses perawatan bayi di NICU.


(Melalui edukasi, pendampingan emosional, serta keterlibatan intensif sehari-hari, tim perawat membantu membangun kepercayaan diri orang tua sejak awal perjalanan perawatan bayi di NICU. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)

Keberhasilan ini didukung oleh penerapan metode Kangaroo Mother Care (KMC) sedini mungkin. Pendekatan ini melibatkan tidak hanya ibu, tetapi juga ayah dan keluarga.

Melalui dukungan para perawat, praktik KMC ini yang pada dasarnya sederhana, dapat dijalankan secara konsisten dan bermakna. 

Dalam pendekatan ini, perawat tidak hanya menjalankan fungsi klinis, tetapi juga berperan sebagai pendamping dan pembimbing orang tua dalam merawat bayi secara langsung.

Dr. Tiwi menjelaskan bahwa untuk saat ini, tidak semua rumah sakit mengizinkan orang tua memasuki ruangan NICU. Hal ini karena perihal sterilisasi yang dikhawatirkan membuat bayi semakin di dalam keadaan bahaya.

"Namun, kita melihat peran orang tua yang lebih dekat, melakukan sentuhan, semakin membuat bayi lebih ada kemajuan. Orang tua juga bisa melihat perawat melakukan apapun pada anak mereka," jelas dr. Tiwi.
 
Dr. Tiwi juga menjelaskan bahwa sterilisasi tetap menjadi kunci utama sebelum masuk ke ruangan NICU. Orang tua akan diminta untuk membersihkan diri sebelum benar-benar menyentuh bayi mereka. Jadi, sterilisasi tetap terjaga.

Melalui edukasi, pendampingan emosional, serta keterlibatan intensif sehari-hari, tim perawat membantu membangun kepercayaan diri orang tua sejak awal perjalanan perawatan bayi di NICU.

Hubungan yang erat antara tim medis dan orang tua menjadi kunci utama. Melalui komunikasi yang hangat dan empatik, orang tua tidak hanya mendapatkan pemahaman, tetapi juga kekuatan emosional untuk mendampingi perjalanan anak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH