KULINER
Sebelum Jadi Telur di Meja Makan, Ada Cerita Panjang di Baliknya
A. Firdaus
Sabtu 29 Agustus 2026 / 09:11
- Pameran Beyond the Cage di Jakarta mengajak publik melihat perjalanan telur dari peternakan ke meja makan, termasuk isu kesejahteraan ayam dan keamanan pangan.
- Ruang yang tersedia bagi setiap ayam dalam sistem tersebut sekitar 450 sentimeter persegi.
- cage-free merupakan sistem pemeliharaan ayam petelur tanpa menggunakan kandang baterai.
Jakarta: Telur menjadi salah satu bahan makanan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari sarapan, kue, mi, hingga berbagai menu di restoran, telur bisa dengan mudah ditemukan.
Namun, pernahkah terpikir bagaimana perjalanan telur sebelum akhirnya sampai ke meja makan?
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama Beyond the Cage, sebuah pameran imersif yang digelar Act For Farmed Animals (AFFA) pada 5-7 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Lewat seni, cerita, dan pengalaman imersif, pameran ini mengajak masyarakat melihat sisi lain dari produksi telur yang selama ini mungkin jarang terlihat konsumen.
Bukan hanya soal telur sebagai bahan pangan, tetapi juga tentang bagaimana ayam petelur dipelihara, kesejahteraan hewan, keamanan pangan, hingga peran perusahaan dalam menentukan seperti apa sistem produksi pangan di masa depan.
Salah satu isu yang diangkat adalah penggunaan kandang baterai, yakni sistem pemeliharaan ayam petelur dalam kandang kawat selama masa produksi.
Menurut materi AFFA, ruang yang tersedia bagi setiap ayam dalam sistem tersebut sekitar 450 sentimeter persegi. Luas ini bahkan lebih kecil dibandingkan selembar kertas A4.
Ruang yang terbatas membuat ayam kesulitan melakukan sejumlah perilaku alaminya, seperti mengepakkan sayap secara penuh, bertengger, mandi debu, membuat sarang, bergerak, hingga bersosialisasi.
Hal serupa juga dicatat Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA), yang menyebut sistem kandang dapat membatasi ayam petelur dalam melakukan perilaku alami seperti bersarang, bertengger, mencari pakan, dan mandi debu.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan AFFA mendorong peralihan dari sistem kandang baterai menuju sistem cage-free.
Pembahasan mengenai sistem pemeliharaan ayam ternyata juga berkaitan dengan isu keamanan pangan.
Sejumlah penelitian melihat hubungan antara sistem pemeliharaan ayam petelur dengan keberadaan bakteri Salmonella. Kajian European Food Safety Authority (EFSA) pada 2019 menemukan bahwa meskipun hasil berbagai penelitian tidak sepenuhnya konsisten, secara keseluruhan bukti mengarah pada kejadian Salmonella yang lebih rendah pada sistem non-kandang dibandingkan sistem kandang.
Namun, EFSA juga menegaskan bahwa perbedaan tersebut belum bisa dipastikan hanya disebabkan oleh jenis sistem pemeliharaan.
Di Indonesia, penelitian Universitas Gadjah Mada terhadap telur yang dikumpulkan dari gerai ritel dan peternakan ayam petelur di Yogyakarta juga menemukan isolat Salmonella yang resisten terhadap antibiotik. Sebagian isolat bahkan menunjukkan resistensi terhadap lebih dari satu jenis antibiotik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keamanan telur tidak bisa dilihat dari satu aspek saja. Praktik pengelolaan peternakan, kebersihan, distribusi, hingga penggunaan antibiotik turut menjadi bagian dari rantai keamanan pangan.
Sederhananya, cage-free merupakan sistem pemeliharaan ayam petelur tanpa menggunakan kandang baterai.
Dalam sistem tersebut, ayam memiliki kesempatan lebih besar untuk bergerak, mengepakkan sayap, bertengger, menggunakan area sarang, serta melakukan sejumlah perilaku alami lainnya.
Namun, peralihan menuju sistem cage-free tentu tidak hanya bergantung pada peternak.
AFFA melihat perusahaan yang menggunakan telur dalam jumlah besar juga memiliki peran penting. Hotel, restoran, retail, produsen makanan, hingga bisnis hospitality dapat ikut mendorong perubahan melalui kebijakan pembelian bahan baku.
Ketika perusahaan mulai memilih telur cage-free, permintaan terhadap produk tersebut berpotensi meningkat. Kondisi ini kemudian dapat menjadi sinyal bagi produsen bahwa kebutuhan pasar mulai berubah.
Sepanjang 2019-2024, AFFA bersama relawan menyebut telah mendorong 15 perusahaan menerbitkan kebijakan cage-free.
"Telur sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi sistem di balik produksinya hampir tidak pernah terlihat oleh konsumen. Beyond the Cage ingin membawa persoalan itu ke ruang publik," ujar Elfha Shavira, Pemimpin Kampanye Act For Farmed Animals.
"Ketika masyarakat semakin memahami bagaimana telur diproduksi, kami berharap percakapan mengenai kesejahteraan ayam dan tanggung jawab perusahaan dalam rantai pasok juga semakin kuat," lanjutnya.
Alih-alih menghadirkan isu tersebut dalam bentuk laporan atau angka semata, Beyond the Cage dikemas sebagai pengalaman imersif.
Pameran ini dirancang dengan alur Learn → Feel → Hope → Act.
Pengunjung akan terlebih dahulu diperkenalkan dengan sistem kandang baterai dan kondisi ayam petelur. Setelah itu, pengalaman diarahkan untuk membangun empati, mengenalkan sistem cage-free, hingga melihat berbagai bentuk dukungan yang bisa dilakukan masyarakat.
Pendekatan seni dipilih agar persoalan yang biasanya terasa jauh dari kehidupan konsumen bisa dipahami dengan cara yang lebih dekat.
Pameran ini juga menghadirkan karya dari Inkomee dan mempertemukan publik, seniman, media, kelompok advokasi, serta pelaku usaha dalam satu ruang diskusi.
Pada akhirnya, telur yang terlihat sederhana di atas piring ternyata punya perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai ke sana.
Melalui Beyond the Cage, AFFA ingin mengajak masyarakat bukan hanya bertanya "telur ini dari mana?", tetapi juga melihat lebih jauh bagaimana pangan diproduksi dan bagaimana pilihan konsumen serta kebijakan perusahaan dapat ikut memengaruhi sistem tersebut.
(FIR)
Namun, pernahkah terpikir bagaimana perjalanan telur sebelum akhirnya sampai ke meja makan?
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama Beyond the Cage, sebuah pameran imersif yang digelar Act For Farmed Animals (AFFA) pada 5-7 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Lewat seni, cerita, dan pengalaman imersif, pameran ini mengajak masyarakat melihat sisi lain dari produksi telur yang selama ini mungkin jarang terlihat konsumen.
Bukan hanya soal telur sebagai bahan pangan, tetapi juga tentang bagaimana ayam petelur dipelihara, kesejahteraan hewan, keamanan pangan, hingga peran perusahaan dalam menentukan seperti apa sistem produksi pangan di masa depan.
Ketika Ayam Punya Ruang yang Sangat Terbatas
Salah satu isu yang diangkat adalah penggunaan kandang baterai, yakni sistem pemeliharaan ayam petelur dalam kandang kawat selama masa produksi.
Menurut materi AFFA, ruang yang tersedia bagi setiap ayam dalam sistem tersebut sekitar 450 sentimeter persegi. Luas ini bahkan lebih kecil dibandingkan selembar kertas A4.
Ruang yang terbatas membuat ayam kesulitan melakukan sejumlah perilaku alaminya, seperti mengepakkan sayap secara penuh, bertengger, mandi debu, membuat sarang, bergerak, hingga bersosialisasi.
Hal serupa juga dicatat Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA), yang menyebut sistem kandang dapat membatasi ayam petelur dalam melakukan perilaku alami seperti bersarang, bertengger, mencari pakan, dan mandi debu.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan AFFA mendorong peralihan dari sistem kandang baterai menuju sistem cage-free.
Bukan Cuma Soal Kesejahteraan Hewan
Pembahasan mengenai sistem pemeliharaan ayam ternyata juga berkaitan dengan isu keamanan pangan.
Sejumlah penelitian melihat hubungan antara sistem pemeliharaan ayam petelur dengan keberadaan bakteri Salmonella. Kajian European Food Safety Authority (EFSA) pada 2019 menemukan bahwa meskipun hasil berbagai penelitian tidak sepenuhnya konsisten, secara keseluruhan bukti mengarah pada kejadian Salmonella yang lebih rendah pada sistem non-kandang dibandingkan sistem kandang.
Namun, EFSA juga menegaskan bahwa perbedaan tersebut belum bisa dipastikan hanya disebabkan oleh jenis sistem pemeliharaan.
Di Indonesia, penelitian Universitas Gadjah Mada terhadap telur yang dikumpulkan dari gerai ritel dan peternakan ayam petelur di Yogyakarta juga menemukan isolat Salmonella yang resisten terhadap antibiotik. Sebagian isolat bahkan menunjukkan resistensi terhadap lebih dari satu jenis antibiotik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keamanan telur tidak bisa dilihat dari satu aspek saja. Praktik pengelolaan peternakan, kebersihan, distribusi, hingga penggunaan antibiotik turut menjadi bagian dari rantai keamanan pangan.
Apa Itu Sistem Cage-Free?
Sederhananya, cage-free merupakan sistem pemeliharaan ayam petelur tanpa menggunakan kandang baterai.
Dalam sistem tersebut, ayam memiliki kesempatan lebih besar untuk bergerak, mengepakkan sayap, bertengger, menggunakan area sarang, serta melakukan sejumlah perilaku alami lainnya.
Namun, peralihan menuju sistem cage-free tentu tidak hanya bergantung pada peternak.
AFFA melihat perusahaan yang menggunakan telur dalam jumlah besar juga memiliki peran penting. Hotel, restoran, retail, produsen makanan, hingga bisnis hospitality dapat ikut mendorong perubahan melalui kebijakan pembelian bahan baku.
Ketika perusahaan mulai memilih telur cage-free, permintaan terhadap produk tersebut berpotensi meningkat. Kondisi ini kemudian dapat menjadi sinyal bagi produsen bahwa kebutuhan pasar mulai berubah.
Sepanjang 2019-2024, AFFA bersama relawan menyebut telah mendorong 15 perusahaan menerbitkan kebijakan cage-free.
"Telur sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi sistem di balik produksinya hampir tidak pernah terlihat oleh konsumen. Beyond the Cage ingin membawa persoalan itu ke ruang publik," ujar Elfha Shavira, Pemimpin Kampanye Act For Farmed Animals.
"Ketika masyarakat semakin memahami bagaimana telur diproduksi, kami berharap percakapan mengenai kesejahteraan ayam dan tanggung jawab perusahaan dalam rantai pasok juga semakin kuat," lanjutnya.
Belajar, Merasakan, Lalu Bertindak
Alih-alih menghadirkan isu tersebut dalam bentuk laporan atau angka semata, Beyond the Cage dikemas sebagai pengalaman imersif.
Pameran ini dirancang dengan alur Learn → Feel → Hope → Act.
Pengunjung akan terlebih dahulu diperkenalkan dengan sistem kandang baterai dan kondisi ayam petelur. Setelah itu, pengalaman diarahkan untuk membangun empati, mengenalkan sistem cage-free, hingga melihat berbagai bentuk dukungan yang bisa dilakukan masyarakat.
Pendekatan seni dipilih agar persoalan yang biasanya terasa jauh dari kehidupan konsumen bisa dipahami dengan cara yang lebih dekat.
Pameran ini juga menghadirkan karya dari Inkomee dan mempertemukan publik, seniman, media, kelompok advokasi, serta pelaku usaha dalam satu ruang diskusi.
Pada akhirnya, telur yang terlihat sederhana di atas piring ternyata punya perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai ke sana.
Melalui Beyond the Cage, AFFA ingin mengajak masyarakat bukan hanya bertanya "telur ini dari mana?", tetapi juga melihat lebih jauh bagaimana pangan diproduksi dan bagaimana pilihan konsumen serta kebijakan perusahaan dapat ikut memengaruhi sistem tersebut.
(FIR)