KULINER
Teh Indonesia Jadi Bintang di Tengah Tren Minuman Modern
Elang Riki Yanuar
Selasa 29 September 2026 / 17:15
- Teh melati Indonesia terus dikembangkan menjadi minuman modern dengan tetap mempertahankan karakter rasa dan aroma khasnya.
- Racikan teh dari Ciwidey dan Cirebon menunjukkan kekayaan bahan lokal yang dapat diolah menjadi sajian teh dengan cita rasa beragam.
- Eksplorasi teh lokal membuka ruang baru bagi kekayaan teh Indonesia sekaligus memperkenalkan peran petani dan komunitas di baliknya.
Jakarta: Indonesia dikenal memiliki kekayaan teh dengan karakter yang beragam. Salah satu yang sudah lama dekat dengan keseharian masyarakat adalah teh melati, yang memiliki aroma khas dan cita rasa yang kuat.
Potensi teh melati Indonesia kini tidak hanya hadir dalam sajian teh tradisional. Bahan lokal tersebut juga mulai dieksplorasi menjadi berbagai minuman dengan konsep yang lebih modern dan mengikuti perkembangan selera masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pendekatan yang diangkat GAGA melalui JAWARA Tea Series. Merek teh dari Minor Food Group Indonesia itu menggunakan teh melati yang bersumber dari wilayah Jawa sebagai bahan utama dalam rangkaian minuman barunya.
Dalam pengembangannya, GAGA menggandeng ahli teh sekaligus tea sommelier Ratna Soemantri. Racikan tersebut memadukan teh sangrai dari Perkebunan Teh Dewata di Ciwidey, Jawa Barat, dengan teh melati dari Cirebon dan aroma gardenia.
Perpaduan tersebut menghasilkan karakter rasa yang memadukan nuansa sangrai dengan aroma floral. Cita rasa khas teh melati tetap menjadi bagian utama dari racikan yang kemudian diolah menjadi sejumlah pilihan minuman.
"Kami melihat peluang untuk mengangkat sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, yaitu teh melati, dan mengemasnya dalam sebuah ekspresi baru melalui GAGA. JAWARA dibuat dengan 100% teh melati Indonesia yang bersumber dari Jawa," ujar Cristina Hernandez, Country Director, Minor Food Group Indonesia.
Pemanfaatan teh dari Jawa juga memperlihatkan bagaimana bahan baku lokal dapat dikembangkan untuk menjangkau pengalaman menikmati teh yang lebih beragam. Ciwidey dan Cirebon menjadi dua wilayah yang disebut dalam proses pengembangan racikan.
Kehadiran teh melati dalam minuman modern turut memperlihatkan luasnya kemungkinan pengolahan teh Indonesia. Bahan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari tradisi minum teh dapat dipadukan dengan bahan lain tanpa menghilangkan karakter aslinya.
JAWARA Tea Series sendiri terdiri dari empat varian, yakni JAWARA Pure Tea, JAWARA Milk Tea, JAWARA Gula Aren, dan JAWARA Ube. Masing-masing menawarkan perpaduan rasa berbeda dengan teh melati sebagai salah satu unsur utamanya.
Menurut Cristina, pengembangan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karakter teh melati kepada konsumen melalui cara yang berbeda. Eksplorasi dilakukan bersama tea sommelier untuk melihat beragam profil rasa yang dapat dihasilkan dari teh Indonesia.
"Kami ingin JAWARA menunjukkan betapa beragamnya karakter teh melati Indonesia. Bersama tea sommelier, kami mengeksplorasi berbagai profil rasa dan menciptakan varian yang relevan dengan cara konsumen menikmati minuman saat ini," kata Cristina.
Selain soal cita rasa, pemanfaatan teh lokal juga berkaitan dengan keberadaan petani dan komunitas yang berada di balik proses produksi. Hal tersebut menjadi bagian dari rantai panjang yang membuat teh dapat hadir sebagai bahan minuman yang dinikmati masyarakat.
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengembangan komoditas teh. Sejumlah daerah di Pulau Jawa dikenal sebagai wilayah penghasil teh, dengan karakter tanaman dan hasil olahan yang berbeda-beda.
Perkembangan minuman teh modern kemudian membuka ruang bagi kekayaan tersebut untuk diperkenalkan dalam bentuk yang lebih beragam. Teh tidak hanya diposisikan sebagai minuman tradisional, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk berbagai kreasi baru.
(ELG)
Potensi teh melati Indonesia kini tidak hanya hadir dalam sajian teh tradisional. Bahan lokal tersebut juga mulai dieksplorasi menjadi berbagai minuman dengan konsep yang lebih modern dan mengikuti perkembangan selera masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pendekatan yang diangkat GAGA melalui JAWARA Tea Series. Merek teh dari Minor Food Group Indonesia itu menggunakan teh melati yang bersumber dari wilayah Jawa sebagai bahan utama dalam rangkaian minuman barunya.
Dalam pengembangannya, GAGA menggandeng ahli teh sekaligus tea sommelier Ratna Soemantri. Racikan tersebut memadukan teh sangrai dari Perkebunan Teh Dewata di Ciwidey, Jawa Barat, dengan teh melati dari Cirebon dan aroma gardenia.
Perpaduan tersebut menghasilkan karakter rasa yang memadukan nuansa sangrai dengan aroma floral. Cita rasa khas teh melati tetap menjadi bagian utama dari racikan yang kemudian diolah menjadi sejumlah pilihan minuman.
"Kami melihat peluang untuk mengangkat sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, yaitu teh melati, dan mengemasnya dalam sebuah ekspresi baru melalui GAGA. JAWARA dibuat dengan 100% teh melati Indonesia yang bersumber dari Jawa," ujar Cristina Hernandez, Country Director, Minor Food Group Indonesia.
Pemanfaatan teh dari Jawa juga memperlihatkan bagaimana bahan baku lokal dapat dikembangkan untuk menjangkau pengalaman menikmati teh yang lebih beragam. Ciwidey dan Cirebon menjadi dua wilayah yang disebut dalam proses pengembangan racikan.
Kehadiran teh melati dalam minuman modern turut memperlihatkan luasnya kemungkinan pengolahan teh Indonesia. Bahan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari tradisi minum teh dapat dipadukan dengan bahan lain tanpa menghilangkan karakter aslinya.
JAWARA Tea Series sendiri terdiri dari empat varian, yakni JAWARA Pure Tea, JAWARA Milk Tea, JAWARA Gula Aren, dan JAWARA Ube. Masing-masing menawarkan perpaduan rasa berbeda dengan teh melati sebagai salah satu unsur utamanya.
Menurut Cristina, pengembangan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karakter teh melati kepada konsumen melalui cara yang berbeda. Eksplorasi dilakukan bersama tea sommelier untuk melihat beragam profil rasa yang dapat dihasilkan dari teh Indonesia.
"Kami ingin JAWARA menunjukkan betapa beragamnya karakter teh melati Indonesia. Bersama tea sommelier, kami mengeksplorasi berbagai profil rasa dan menciptakan varian yang relevan dengan cara konsumen menikmati minuman saat ini," kata Cristina.

Selain soal cita rasa, pemanfaatan teh lokal juga berkaitan dengan keberadaan petani dan komunitas yang berada di balik proses produksi. Hal tersebut menjadi bagian dari rantai panjang yang membuat teh dapat hadir sebagai bahan minuman yang dinikmati masyarakat.
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengembangan komoditas teh. Sejumlah daerah di Pulau Jawa dikenal sebagai wilayah penghasil teh, dengan karakter tanaman dan hasil olahan yang berbeda-beda.
Perkembangan minuman teh modern kemudian membuka ruang bagi kekayaan tersebut untuk diperkenalkan dalam bentuk yang lebih beragam. Teh tidak hanya diposisikan sebagai minuman tradisional, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk berbagai kreasi baru.
(ELG)