KULINER
Dikira Asli Indonesia, Ternyata 4 Makanan Ini Punya Jejak Kuliner Belanda
Yatin Suleha
Rabu 01 Juli 2026 / 15:26
- Seiring berjalannya waktu, resep-resep dari Eropa mengalami penyesuaian dengan bahan lokal, bumbu khas Indonesia, dan selera masyarakat setempat.
- Hasilnya adalah hidangan baru yang memiliki jejak kuliner Belanda, tetapi hadir dengan cita rasa Nusantara yang lebih kaya rempah dan mudah diterima.
- Perpaduan inilah yang membuat sejumlah makanan tersebut, menjadi bagian dari warisan kuliner Indonesia.
Jakarta: Banyak makanan khas Indonesia yang sudah begitu akrab di lidah masyarakat, hingga dianggap sebagai kuliner asli Nusantara. Padahal, beberapa di antaranya memiliki sejarah panjang, yang berkaitan dengan masa kolonial Belanda.
Seiring berjalannya waktu, resep-resep dari Eropa mengalami banyak penyesuaian dengan bahan lokal, bumbu khas Indonesia, serta selera masyarakat setempat.
Hasilnya adalah hidangan baru yang tetap memiliki jejak kuliner Belanda, tetapi hadir dengan cita rasa Nusantara yang lebih kaya rempah, dan mudah diterima hingga sekarang.
Perpaduan inilah yang membuat sejumlah makanan tersebut, menjadi bagian dari warisan kuliner Indonesia.

(Perkedel, Foto: Dok. Royco)
Perkedel merupakan hasil adaptasi dari hidangan Belanda bernama frikadeller. Nama "perkedel" muncul, karena masyarakat Indonesia pada masa itu kesulitan mengucapkan kata frikadeller, sehingga pelafalannya berubah seiring waktu.
Di Belanda, frikadeller dibuat dari daging cincang yang dibentuk lalu digoreng. Namun di Indonesia, bahan tersebut dimodifikasi menjadi kentang tumbuk, yang dicampur sedikit daging cincang, karena daging lebih sulit diperoleh pada masa itu.

(Semur, Foto: Dok. Kecap Bango)
Semur berasal dari kata smoor dalam bahasa Belanda yang berarti teknik memasak daging, dengan cara direbus perlahan bersama tomat dan bawang.
Saat diadaptasi di Indonesia, resep tersebut mengalami perubahan dengan tambahan kecap manis, serta berbagai rempah lokal seperti cengkih dan pala.
Jika versi Belanda lebih menonjolkan rasa gurih, semur Indonesia justru dikenal dengan cita rasa manis, yang kaya akan rempah-rempah.

(Lapis Legit, Foto: Dok. The Golden Bites)
Lapis Legit merupakan hasil akulturasi antara teknik membuat kue ala Belanda, dengan kekayaan rempah Indonesia. Kue ini terinspirasi dari Spekkoek, yang berarti "kue daging asap" karena tampilannya yang berlapis-lapis menyerupai lemak babi, meski sebenarnya tidak menggunakan bahan babi sama sekali.
Orang Belanda mempertahankan bahan dasar kue khas Eropa, seperti mentega dan telur, kemudian memadukannya dengan rempah Nusantara, seperti kayu manis, cengkeh, dan pala, sehingga menghasilkan aroma yang khas.

(Selat Solo, Dok. Unilever Food Solution)
Selat Solo menjadi salah satu contoh perpaduan budaya kuliner Belanda dan Jawa, yang masih populer hingga sekarang. Hidangan ini terinspirasi dari biefstuk (bistik daging) dan slachtje (salad sayur), yang biasa disantap masyarakat Belanda.
Dalam versi Indonesia, daging bistik dipadukan dengan kuah encer bercita rasa manis khas Jawa, yang menggunakan kecap manis.
Kuah tersebut juga diperkaya dengan rempah seperti pala dan bawang putih, sehingga menghasilkan rasa yang lebih sesuai dengan selera masyarakat Indonesia.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Seiring berjalannya waktu, resep-resep dari Eropa mengalami banyak penyesuaian dengan bahan lokal, bumbu khas Indonesia, serta selera masyarakat setempat.
Hasilnya adalah hidangan baru yang tetap memiliki jejak kuliner Belanda, tetapi hadir dengan cita rasa Nusantara yang lebih kaya rempah, dan mudah diterima hingga sekarang.
Perpaduan inilah yang membuat sejumlah makanan tersebut, menjadi bagian dari warisan kuliner Indonesia.
1. Perkedel
(Perkedel, Foto: Dok. Royco)
Perkedel merupakan hasil adaptasi dari hidangan Belanda bernama frikadeller. Nama "perkedel" muncul, karena masyarakat Indonesia pada masa itu kesulitan mengucapkan kata frikadeller, sehingga pelafalannya berubah seiring waktu.
Di Belanda, frikadeller dibuat dari daging cincang yang dibentuk lalu digoreng. Namun di Indonesia, bahan tersebut dimodifikasi menjadi kentang tumbuk, yang dicampur sedikit daging cincang, karena daging lebih sulit diperoleh pada masa itu.
2. Semur
(Semur, Foto: Dok. Kecap Bango)
Semur berasal dari kata smoor dalam bahasa Belanda yang berarti teknik memasak daging, dengan cara direbus perlahan bersama tomat dan bawang.
Saat diadaptasi di Indonesia, resep tersebut mengalami perubahan dengan tambahan kecap manis, serta berbagai rempah lokal seperti cengkih dan pala.
Jika versi Belanda lebih menonjolkan rasa gurih, semur Indonesia justru dikenal dengan cita rasa manis, yang kaya akan rempah-rempah.
3. Lapis legit
(Lapis Legit, Foto: Dok. The Golden Bites)
Lapis Legit merupakan hasil akulturasi antara teknik membuat kue ala Belanda, dengan kekayaan rempah Indonesia. Kue ini terinspirasi dari Spekkoek, yang berarti "kue daging asap" karena tampilannya yang berlapis-lapis menyerupai lemak babi, meski sebenarnya tidak menggunakan bahan babi sama sekali.
Orang Belanda mempertahankan bahan dasar kue khas Eropa, seperti mentega dan telur, kemudian memadukannya dengan rempah Nusantara, seperti kayu manis, cengkeh, dan pala, sehingga menghasilkan aroma yang khas.
4. Selat Solo
(Selat Solo, Dok. Unilever Food Solution)
Selat Solo menjadi salah satu contoh perpaduan budaya kuliner Belanda dan Jawa, yang masih populer hingga sekarang. Hidangan ini terinspirasi dari biefstuk (bistik daging) dan slachtje (salad sayur), yang biasa disantap masyarakat Belanda.
Dalam versi Indonesia, daging bistik dipadukan dengan kuah encer bercita rasa manis khas Jawa, yang menggunakan kecap manis.
Kuah tersebut juga diperkaya dengan rempah seperti pala dan bawang putih, sehingga menghasilkan rasa yang lebih sesuai dengan selera masyarakat Indonesia.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)