KULINER
Kuliner Halal Korea Jadi Primadona Baru di Indonesia
Elang Riki Yanuar
Jumat 13 Februari 2026 / 19:00
- Bandung jadi panggung tren pangan halal Korea di BIFHEX 2026, nilai bisnis tembus USD 20,77 juta.
- Paviliun Korea di BIFHEX 2026 tarik ritel dan F&B; snack hingga mi halal diminati Muslim urban.
- aT dorong ekspansi produk halal Korea di Bandung, bidik generasi muda dan pasar ritel modern.
Jakarta: Bandung kembali membuktikan diri sebagai barometer tren gaya hidup dan kuliner di Indonesia. Kota Kembang menjadi panggung bagi gelombang produk pangan pertanian halal asal Korea yang kian digemari, terutama di kalangan generasi muda Muslim urban.
Momentum tersebut terlihat dalam ajang 2026 Bandung International Food and HoReCa Expo atau BIFHEX yang digelar pada 10 hingga 12 Februari di Bandung, Jawa Barat. Melalui Paviliun Korea, produk pangan halal Korea sukses mencuri perhatian pelaku industri makanan, ritel, hingga komunitas kuliner lokal.
Partisipasi ini digagas oleh Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan Republik Korea bersama Korea Agro-Fisheries & Food Trade Corporation atau aT. Hasilnya melampaui ekspektasi. Nilai konsultasi bisnis mencapai USD 20,77 juta atau lebih dari dua kali lipat target awal sebesar USD 10 juta.
Dalam konteks gaya hidup, kehadiran produk pangan halal Korea bukan sekadar urusan transaksi bisnis. Produk seperti makanan ringan, minuman kekinian, hingga mi instan halal menjadi bagian dari gaya hidup generasi Muslim Indonesia yang gemar mengeksplorasi rasa global tanpa meninggalkan prinsip kehalalan.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh regulasi wajib sertifikasi halal di Indonesia yang kini ditunda hingga Oktober 2026. Momentum tersebut dimanfaatkan pelaku industri Korea untuk memperluas distribusi dan memperkenalkan produk yang telah memenuhi standar halal kepada distributor dan vendor di Bandung serta kota besar lainnya.
"Sekitar 88% konsumen di Jawa Barat merupakan konsumen Muslim, sehingga status sertifikasi halal menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam pembelian produk pangan. Lebih banyak produk pangan halal Korea baru yang diimpor dibandingkan perkiraan, sehingga kami mempertimbangkan perluasan kerja sama dan penambahan produk di jaringan kami," kata Perwakilan dari Yogya Group, Agung.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tren kuliner halal Korea tidak lagi terbatas pada restoran atau makanan siap saji. Produk kemasan kini menjadi bagian dari rak ritel modern dan berpotensi masuk ke dapur rumah tangga masyarakat urban.
Direktur Ekspor Produk Pangan aT, Jeon Gi-chan, melihat perkembangan ini sebagai peluang strategis jangka panjang.
“Belakangan ini, minat dan konsumsi terhadap produk pangan pertanian halal Korea di kalangan generasi Muslim Indonesia berkembang pesat hingga ke daerah-daerah," katanya.
"Kami akan terus mendorong berbagai kegiatan pemasaran yang disesuaikan dengan pasar lokal, termasuk acara pengalaman konsumen, tidak hanya sebatas partisipasi dalam pameran, guna memperluas basis pasar dan memperkuat fondasi konsumsi yang berpusat pada kota-kota besar daerah," lanjutnya.
Bandung sendiri dikenal sebagai kota kreatif dengan ekosistem kuliner yang dinamis. Kehadiran produk halal Korea memperkaya pilihan bagi pelaku usaha kafe, restoran, hingga hotel yang ingin menghadirkan menu fusion atau varian snack internasional yang aman bagi konsumen Muslim.
Ke depan, kolaborasi antara distributor lokal dan produsen Korea diprediksi akan semakin intensif. Tidak hanya sebatas impor produk, tetapi juga potensi pengembangan menu kreatif dan kampanye pengalaman kuliner yang menyasar komunitas muda.
Gelombang produk pangan halal Korea di Bandung menjadi cerminan bagaimana industri makanan global kini semakin adaptif terhadap nilai lokal. Di tengah meningkatnya kesadaran halal dan gaya hidup modern, kuliner lintas negara dapat diterima luas selama selaras dengan kebutuhan konsumen Muslim Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Momentum tersebut terlihat dalam ajang 2026 Bandung International Food and HoReCa Expo atau BIFHEX yang digelar pada 10 hingga 12 Februari di Bandung, Jawa Barat. Melalui Paviliun Korea, produk pangan halal Korea sukses mencuri perhatian pelaku industri makanan, ritel, hingga komunitas kuliner lokal.
Partisipasi ini digagas oleh Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan Republik Korea bersama Korea Agro-Fisheries & Food Trade Corporation atau aT. Hasilnya melampaui ekspektasi. Nilai konsultasi bisnis mencapai USD 20,77 juta atau lebih dari dua kali lipat target awal sebesar USD 10 juta.
Dalam konteks gaya hidup, kehadiran produk pangan halal Korea bukan sekadar urusan transaksi bisnis. Produk seperti makanan ringan, minuman kekinian, hingga mi instan halal menjadi bagian dari gaya hidup generasi Muslim Indonesia yang gemar mengeksplorasi rasa global tanpa meninggalkan prinsip kehalalan.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh regulasi wajib sertifikasi halal di Indonesia yang kini ditunda hingga Oktober 2026. Momentum tersebut dimanfaatkan pelaku industri Korea untuk memperluas distribusi dan memperkenalkan produk yang telah memenuhi standar halal kepada distributor dan vendor di Bandung serta kota besar lainnya.
"Sekitar 88% konsumen di Jawa Barat merupakan konsumen Muslim, sehingga status sertifikasi halal menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam pembelian produk pangan. Lebih banyak produk pangan halal Korea baru yang diimpor dibandingkan perkiraan, sehingga kami mempertimbangkan perluasan kerja sama dan penambahan produk di jaringan kami," kata Perwakilan dari Yogya Group, Agung.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tren kuliner halal Korea tidak lagi terbatas pada restoran atau makanan siap saji. Produk kemasan kini menjadi bagian dari rak ritel modern dan berpotensi masuk ke dapur rumah tangga masyarakat urban.
Direktur Ekspor Produk Pangan aT, Jeon Gi-chan, melihat perkembangan ini sebagai peluang strategis jangka panjang.
“Belakangan ini, minat dan konsumsi terhadap produk pangan pertanian halal Korea di kalangan generasi Muslim Indonesia berkembang pesat hingga ke daerah-daerah," katanya.
"Kami akan terus mendorong berbagai kegiatan pemasaran yang disesuaikan dengan pasar lokal, termasuk acara pengalaman konsumen, tidak hanya sebatas partisipasi dalam pameran, guna memperluas basis pasar dan memperkuat fondasi konsumsi yang berpusat pada kota-kota besar daerah," lanjutnya.
Bandung sendiri dikenal sebagai kota kreatif dengan ekosistem kuliner yang dinamis. Kehadiran produk halal Korea memperkaya pilihan bagi pelaku usaha kafe, restoran, hingga hotel yang ingin menghadirkan menu fusion atau varian snack internasional yang aman bagi konsumen Muslim.
Ke depan, kolaborasi antara distributor lokal dan produsen Korea diprediksi akan semakin intensif. Tidak hanya sebatas impor produk, tetapi juga potensi pengembangan menu kreatif dan kampanye pengalaman kuliner yang menyasar komunitas muda.
Gelombang produk pangan halal Korea di Bandung menjadi cerminan bagaimana industri makanan global kini semakin adaptif terhadap nilai lokal. Di tengah meningkatnya kesadaran halal dan gaya hidup modern, kuliner lintas negara dapat diterima luas selama selaras dengan kebutuhan konsumen Muslim Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)