GADGET TALK

Serangan Siber Makin Ganas, Ini Skill yang Wajib Dimiliki Anak Muda Sekarang

A. Firdaus
Senin 29 Juni 2026 / 16:35
Ringkasnya gini..
  • Sepanjang 2025 Indonesia mengalami sekitar 5,5 miliar serangan siber dan anomali trafik.
  • Berbagai industri mulai mencari tenaga yang mampu melindungi sistem dan data dari ancaman siber.
  • Ada beberapa kemampuan dasar yang bisa mulai dipelajari sejak dini.
Jakarta: Ancaman siber di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah semakin masifnya penggunaan layanan digital, kebutuhan akan talenta di bidang cyber security juga ikut melonjak.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan sepanjang 2025 Indonesia mengalami sekitar 5,5 miliar serangan siber dan anomali trafik. Jumlah tersebut meningkat hingga tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020–2024. Mayoritas serangan didominasi malware, disusul serangan DDoS yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu sumber serangan terbesar di dunia.

Kondisi tersebut membuat sektor perbankan, pemerintahan, hingga infrastruktur kritis menjadi target utama pelaku kejahatan siber.
 

Melihat tren tersebut, kemampuan di bidang keamanan digital kini tidak lagi menjadi keahlian yang hanya dibutuhkan perusahaan teknologi. Berbagai industri mulai mencari tenaga yang mampu melindungi sistem dan data dari ancaman siber.
 

Cyber security kini jadi peluang karier


Menjawab kebutuhan tersebut, Digital Solusi Grup (DSG) menggelar kompetisi keamanan siber bertajuk Zero Day. Ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga wadah untuk menemukan sekaligus mengembangkan talenta digital di bidang cyber security.

CEO dan Founder Digital Solusi Grup, Dean Diyantha Putrandi, mengatakan kebutuhan tenaga ahli keamanan siber terus meningkat sehingga kolaborasi antara industri dan dunia pendidikan menjadi penting.

"Sinergi antara industri dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan talenta cyber security yang siap menghadapi tantangan nyata di masa depan," ujar Dean.

Berbeda dari anggapan umum bahwa hacker identik dengan aktivitas ilegal, Zero Day justru mengusung konsep white hat hacker atau hacker etis, yakni individu yang menggunakan kemampuan teknisnya untuk melindungi sistem dan data.

Komitmen tersebut bahkan ditegaskan melalui penandatanganan kesepakatan bersama antara penyelenggara, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta seluruh peserta bahwa kemampuan hacking harus dimanfaatkan untuk menjaga keamanan digital, bukan merusak sistem.
 

Skill yang mulai dilatih sejak sekolah


Salah satu hal menarik dari Zero Day adalah keterlibatan pelajar dan mahasiswa melalui kategori Scholar Battle. Peserta diperkenalkan dengan berbagai tantangan seperti crypto puzzle, web security, hingga Open Source Intelligence (OSINT) untuk melatih kemampuan analisis dan pemecahan masalah.

Di sisi lain, peserta profesional menghadapi simulasi yang lebih kompleks, mulai dari menemukan celah keamanan hingga menyusun strategi perlindungan sistem perusahaan.

Menurut Dean, pendekatan tersebut dilakukan agar proses pencarian talenta tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap masuk ke industri.

"Peserta menyelesaikan berbagai challenge sebagai proses kurasi kemampuan teknis. Jadi bukan sekadar lomba, tetapi juga menjadi bagian dari proses menemukan talenta terbaik," jelasnya.
 

Tips memulai belajar cyber security


Bagi yang tertarik berkarier di bidang keamanan siber, ada beberapa kemampuan dasar yang bisa mulai dipelajari sejak dini, antara lain:

- Memahami dasar jaringan komputer dan sistem operasi.
- Belajar konsep enkripsi serta keamanan data.
- Mengenal web security dan cara kerja celah keamanan.
- Mempelajari Open Source Intelligence (OSINT) untuk analisis informasi digital.
- Mengikuti kompetisi atau Capture The Flag (CTF) agar terbiasa menyelesaikan simulasi kasus nyata.
- Menjunjung etika digital dengan menggunakan kemampuan hacking hanya untuk tujuan perlindungan sistem.
 

Profesi yang semakin dibutuhkan


Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Ir. Tri Astoto Kurniawan, mengatakan transformasi digital menghadirkan tantangan baru dalam menjaga keamanan data. Karena itu, kebutuhan tenaga ahli cyber security diperkirakan akan terus meningkat.

Menurutnya, kegiatan seperti Zero Day menjadi wadah yang tepat bagi pelajar, mahasiswa, maupun profesional untuk mengasah kemampuan dalam lingkungan yang aman dan terarah.

Melalui kolaborasi antara industri, akademisi, komunitas, dan pemerintah, pengembangan talenta cyber security diharapkan mampu melahirkan lebih banyak cyber guardian, yakni generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga menjunjung tinggi etika dalam menjaga keamanan data di era digital.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH