FITNESS & HEALTH
Waspada, Kebisingan Sehari-hari Bisa Sebabkan Gangguan Pendengaran Permanen
Elang Riki Yanuar
Jumat 24 April 2026 / 19:00
- Paparan kebisingan dari jalan raya hingga earphone bisa merusak pendengaran permanen jika terjadi terus-menerus.
- IHC mengingatkan gangguan pendengaran sering tak disadari karena gejalanya muncul perlahan dan sulit dipulihkan.
- Dokter menyarankan aturan 60/60 dan menghindari cotton bud untuk menjaga kesehatan telinga jangka panjang.
Jakarta: Kehidupan urban yang semakin dinamis membawa konsekuensi yang jarang disadari oleh banyak orang, yaitu paparan kebisingan yang terus-menerus dan berpotensi merusak kesehatan pendengaran secara permanen.
Suara kendaraan yang memadati jalan raya, gemuruh pusat hiburan malam, hingga kebiasaan memakai earphone dalam durasi panjang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian jutaan warga kota. Ironisnya, ancaman tersebut kerap tidak disadari hingga kerusakan sudah terjadi dan tidak dapat dipulihkan.
Menjelang peringatan International Noise Awareness Day 2026 yang jatuh pada 29 April, PT Pertamina Bina Medika IHC atau yang dikenal sebagai Holding RS BUMN menggelar kegiatan edukasi kesehatan pendengaran yang melibatkan para jurnalis secara langsung.
Bertempat di IHC RS PELNI pada Jumat, 24 April 2026, para jurnalis diajak menjalani pemeriksaan audiometri sekaligus berdiskusi secara terbuka bersama dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorok (THT). Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak sekadar mendapat informasi, tetapi benar-benar merasakan sendiri bagaimana kondisi pendengaran mereka.
Corporate Secretary IHC, Sari Narulita, menyampaikan bahwa isu kesehatan pendengaran masih sering terlewat karena gejalanya berkembang secara bertahap.
“Banyak orang tidak menyadari penurunan pendengaran sejak awal karena prosesnya berlangsung perlahan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong kesadaran bahwa menjaga pendengaran sama pentingnya dengan menjaga kesehatan secara keseluruhan,” ujar Sari.
Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, dokter spesialis THT menjelaskan bahwa dampak kebisingan tidak hanya berkaitan dengan fungsi pendengaran. Paparan suara berlebih dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tidur, meningkatkan respons stres, hingga menurunkan konsentrasi dan performa sehari-hari.
Secara global, gangguan pendengaran juga menunjukkan tren peningkatan, termasuk pada kelompok usia muda. Kebiasaan mendengar yang tidak aman, seperti penggunaan earphone dengan volume tinggi atau terlalu lama berada di lingkungan bising, menjadi faktor yang sering diabaikan, padahal sebagian besar kasus dapat dicegah.
Dokter Spesialis THT IHC RS PELNI, dr. Elisabeth Artha Uli Sirait, Sp.THT-KL, menjelaskan bahwa risiko gangguan pendengaran sangat dipengaruhi oleh tingkat kebisingan dan durasi paparan.
“Banyak aktivitas harian yang memiliki tingkat kebisingan cukup tinggi tanpa disadari. Bukan hanya soal seberapa keras suara, tetapi juga seberapa lama kita terpapar. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berdampak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ia menambahkan, suasana jalan besar atau restoran ramai dapat mendekati ambang batas risiko 85 desibel (dB) yang hanya aman didengar selama 8 jam per hari. Sementara itu, konser musik maupun penggunaan earphone dengan volume tinggi bisa melampaui batas aman dengan mencapai 110 dB.
Level kebisingan digital dari earphone yang maksimal ini setara dengan suara pesawat atau petir yang dapat merusak pendengaran dalam hitungan menit. Karena itu, konsep safe listening menjadi semakin relevan, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.
"Gangguan pendengaran akibat kebisingan bersifat permanen karena sel-sel rambut pada koklea yang rusak tidak dapat beregenerasi kembali secara alami," tambah dr. Elisabeth.
Namun, langkah pencegahannya relatif sederhana melalui penerapan Aturan 60/60, yaitu membatasi penggunaan perangkat audio maksimal 60 menit dengan volume tidak melebihi 60 persen.
Selain faktor bising, dr. Elisabeth juga mengingatkan pentingnya menjaga higiene telinga dengan cara yang benar. Telinga memiliki mekanisme pembersihan mandiri melalui gerakan rahang, sehingga masyarakat dilarang keras menggunakan cotton bud yang justru berisiko mendorong kotoran lebih dalam atau merobek gendang telinga.
Ia juga memberikan peringatan bagi para pelancong agar tidak melakukan penerbangan atau menyelam saat sedang pilek karena risiko barotrauma atau pecahnya gendang telinga akibat gangguan pada Tuba Eustachius.
Melalui kegiatan ini, IHC juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda awal gangguan pendengaran, seperti telinga berdenging, kesulitan memahami percakapan di tempat ramai, atau kebiasaan menaikkan volume perangkat. Pemeriksaan secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas pendengaran dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Suara kendaraan yang memadati jalan raya, gemuruh pusat hiburan malam, hingga kebiasaan memakai earphone dalam durasi panjang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian jutaan warga kota. Ironisnya, ancaman tersebut kerap tidak disadari hingga kerusakan sudah terjadi dan tidak dapat dipulihkan.
Menjelang peringatan International Noise Awareness Day 2026 yang jatuh pada 29 April, PT Pertamina Bina Medika IHC atau yang dikenal sebagai Holding RS BUMN menggelar kegiatan edukasi kesehatan pendengaran yang melibatkan para jurnalis secara langsung.
Bertempat di IHC RS PELNI pada Jumat, 24 April 2026, para jurnalis diajak menjalani pemeriksaan audiometri sekaligus berdiskusi secara terbuka bersama dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorok (THT). Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak sekadar mendapat informasi, tetapi benar-benar merasakan sendiri bagaimana kondisi pendengaran mereka.
Corporate Secretary IHC, Sari Narulita, menyampaikan bahwa isu kesehatan pendengaran masih sering terlewat karena gejalanya berkembang secara bertahap.
“Banyak orang tidak menyadari penurunan pendengaran sejak awal karena prosesnya berlangsung perlahan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong kesadaran bahwa menjaga pendengaran sama pentingnya dengan menjaga kesehatan secara keseluruhan,” ujar Sari.
Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, dokter spesialis THT menjelaskan bahwa dampak kebisingan tidak hanya berkaitan dengan fungsi pendengaran. Paparan suara berlebih dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tidur, meningkatkan respons stres, hingga menurunkan konsentrasi dan performa sehari-hari.
Secara global, gangguan pendengaran juga menunjukkan tren peningkatan, termasuk pada kelompok usia muda. Kebiasaan mendengar yang tidak aman, seperti penggunaan earphone dengan volume tinggi atau terlalu lama berada di lingkungan bising, menjadi faktor yang sering diabaikan, padahal sebagian besar kasus dapat dicegah.
Dokter Spesialis THT IHC RS PELNI, dr. Elisabeth Artha Uli Sirait, Sp.THT-KL, menjelaskan bahwa risiko gangguan pendengaran sangat dipengaruhi oleh tingkat kebisingan dan durasi paparan.
“Banyak aktivitas harian yang memiliki tingkat kebisingan cukup tinggi tanpa disadari. Bukan hanya soal seberapa keras suara, tetapi juga seberapa lama kita terpapar. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berdampak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ia menambahkan, suasana jalan besar atau restoran ramai dapat mendekati ambang batas risiko 85 desibel (dB) yang hanya aman didengar selama 8 jam per hari. Sementara itu, konser musik maupun penggunaan earphone dengan volume tinggi bisa melampaui batas aman dengan mencapai 110 dB.
Level kebisingan digital dari earphone yang maksimal ini setara dengan suara pesawat atau petir yang dapat merusak pendengaran dalam hitungan menit. Karena itu, konsep safe listening menjadi semakin relevan, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.
"Gangguan pendengaran akibat kebisingan bersifat permanen karena sel-sel rambut pada koklea yang rusak tidak dapat beregenerasi kembali secara alami," tambah dr. Elisabeth.
Namun, langkah pencegahannya relatif sederhana melalui penerapan Aturan 60/60, yaitu membatasi penggunaan perangkat audio maksimal 60 menit dengan volume tidak melebihi 60 persen.
Selain faktor bising, dr. Elisabeth juga mengingatkan pentingnya menjaga higiene telinga dengan cara yang benar. Telinga memiliki mekanisme pembersihan mandiri melalui gerakan rahang, sehingga masyarakat dilarang keras menggunakan cotton bud yang justru berisiko mendorong kotoran lebih dalam atau merobek gendang telinga.
Ia juga memberikan peringatan bagi para pelancong agar tidak melakukan penerbangan atau menyelam saat sedang pilek karena risiko barotrauma atau pecahnya gendang telinga akibat gangguan pada Tuba Eustachius.
Melalui kegiatan ini, IHC juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda awal gangguan pendengaran, seperti telinga berdenging, kesulitan memahami percakapan di tempat ramai, atau kebiasaan menaikkan volume perangkat. Pemeriksaan secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas pendengaran dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)