FITNESS & HEALTH
Bukan Sekadar Sopan, Ini Alasan Orang Sering Minta Maaf Padahal Tidak Salah
Fatha Annisa
Rabu 28 Oktober 2026 / 20:34
- Kebiasaan minta maaf berlebihan tidak selalu berkaitan dengan sopan santun.
- Minta maaf terus-menerus saat tidak melakukan kesalahan justru bisa berakar pada pengalaman masa lalu dan cara seseorang menghadapi konflik.
- Untuk mengubah kebiasaan ini, seseorang perlu belajar menyampaikan kebutuhan dan pendapat tanpa terus-menerus merasa bersalah.
Jakarta: Kebiasaan meminta maaf berlebihan kerap dianggap sebagai bentuk kesopanan. Padahal, perilaku ini dapat berakar pada pengalaman masa lalu yang membentuk cara seseorang menghadapi konflik dan penolakan.
Kecenderungan untuk meminta maaf secara berlebihan bukanlah sesuatu yang langka atau tidak normal. Sebaliknya, perilaku ini cukup umum ditemukan.
Seorang psikoterapis, Dr. Chandni Tugnait, menjelaskan meminta maaf secara berlebihan bukan lah persoalan tata krama. Perilaku ini mungkin membuat kamu tampak empati dan peduli, ia menepis anggapan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan kesopanan.
“Hal itu (minta maaf secara berlebihan) biasanya berkaitan dengan sesuatu yang terjadi jauh sebelumnya, serta pola perilaku yang tertanam dalam diri orang tersebut,” jelas Dr. Chandni Tugnait, dikutip dari Hindustan Times, Rabu, 28 Oktober 2026.
Lantas, apa alasan seseorang terbiasa meminta maaf secara berlebihan? Berikut penjekasan dari Dr. Chandni Tugnait:
Contohnya dalam keluarga yang kerap mengalami konflik tidak terduga, perubahan suasana hati orang tua yang sulit diprediksi, atau lingkungan ketika kasih sayang terasa bergantung pada kepatuhan, meminta maaf dengan cepat dapat menjadi cara untuk mencegah situasi memburuk.
Strategi tersebut mungkin berhasil. Masalahnya, sistem saraf tidak selalu secara otomatis menyesuaikan respons tersebut ketika seseorang sudah berada di lingkungan yang berbeda. Akibatnya, kebiasaan meminta maaf dapat terus terbawa hingga dewasa, bahkan saat situasi sebenarnya tidak membutuhkan permintaan maaf.
Orang seperti ini biasanya meminta maaf ketika mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, atau meminta bantuan, meskipun sebenarnya tidak melakukan kesalahan dan tidak perlu mengucapkan kata maaf.
Keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain (people-pleasing) akhirnya membuat seseorang merasa harus meminta maaf setiap kali berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, meskipun hal tersebut merupakan bagian wajar dari interaksi sehari-hari.
Permintaan maaf bagi mereka merupakan cara untuk memperhalus pernyataan agar tidak memicu reaksi negatif dari orang lain. Bahkan dalam beberapa kasus, ketakutan tersebut membuat seseorang memilih tidak menyampaikan batasannya sama sekali.
Padahal, menetapkan batasan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Seseorang berhak menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanannya tanpa harus merasa bersalah.
Dr. Chandni Tugnait menegaskan bahwa menghilangkan kebiasaan meminta maaf secara berlebihan bukan berarti seseorang harus menjadi kurang perhatian atau tidak peduli terhadap perasaan orang lain.
Sebaliknya, proses tersebut berkaitan dengan membangun keyakinan bahwa keberadaan diri sendiri tidak perlu terus-menerus disertai permintaan maaf dan kamu berhak hadir, punya kebutuhan, menyampaikan pendapat, serta meminta sesuatu tanpa harus merasa bersalah.
(PRI)
Kecenderungan untuk meminta maaf secara berlebihan bukanlah sesuatu yang langka atau tidak normal. Sebaliknya, perilaku ini cukup umum ditemukan.
Seorang psikoterapis, Dr. Chandni Tugnait, menjelaskan meminta maaf secara berlebihan bukan lah persoalan tata krama. Perilaku ini mungkin membuat kamu tampak empati dan peduli, ia menepis anggapan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan kesopanan.
“Hal itu (minta maaf secara berlebihan) biasanya berkaitan dengan sesuatu yang terjadi jauh sebelumnya, serta pola perilaku yang tertanam dalam diri orang tersebut,” jelas Dr. Chandni Tugnait, dikutip dari Hindustan Times, Rabu, 28 Oktober 2026.
Lantas, apa alasan seseorang terbiasa meminta maaf secara berlebihan? Berikut penjekasan dari Dr. Chandni Tugnait:
1. Terbiasa Menghindari Konflik
Bagi sebagian orang, meminta maaf lebih awal dan sesering mungkin menjadi cara yang efektif untuk menghindari masalah.Contohnya dalam keluarga yang kerap mengalami konflik tidak terduga, perubahan suasana hati orang tua yang sulit diprediksi, atau lingkungan ketika kasih sayang terasa bergantung pada kepatuhan, meminta maaf dengan cepat dapat menjadi cara untuk mencegah situasi memburuk.
Strategi tersebut mungkin berhasil. Masalahnya, sistem saraf tidak selalu secara otomatis menyesuaikan respons tersebut ketika seseorang sudah berada di lingkungan yang berbeda. Akibatnya, kebiasaan meminta maaf dapat terus terbawa hingga dewasa, bahkan saat situasi sebenarnya tidak membutuhkan permintaan maaf.
2. Merasa Menjadi Beban bagi Orang Lain
Orang yang terbiasa meminta maaf secara berlebihan mungkin merasa kebutuhan, pendapat, hingga keberadaan mereka sendiri merepotkan orang lain. Oleh karenanya, meminta maaf jadi cara untuk menghindari penolakan dan membuat diri mereka terasa lebih mudah diterima oleh lingkungan sekitar.Orang seperti ini biasanya meminta maaf ketika mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, atau meminta bantuan, meskipun sebenarnya tidak melakukan kesalahan dan tidak perlu mengucapkan kata maaf.
3. Menganggap Menyenangkan Orang Lain sebagai Bentuk Kebaikan
Sebagian orang menganggap bahwa meminta maaf dan menjaga kenyamanan orang lain merupakan bentuk perhatian atau kebaikan. Padahal, kebiasaan ini dapat membuat mereka terus-menerus mengesampingkan kebutuhan sendiri demi memenuhi harapan orang lain.Keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain (people-pleasing) akhirnya membuat seseorang merasa harus meminta maaf setiap kali berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, meskipun hal tersebut merupakan bagian wajar dari interaksi sehari-hari.
4. Takut Menetapkan Batasan
Pengalaman masa lalu juga dapat membuat seseorang mengaitkan penyampaian kebutuhan pribadi dengan konflik. Akibatnya, mereka cenderung minta maaf ketika mencoba menetapkan batasan atau menyampaikan sesuatu yang tidak mereka sukai.Permintaan maaf bagi mereka merupakan cara untuk memperhalus pernyataan agar tidak memicu reaksi negatif dari orang lain. Bahkan dalam beberapa kasus, ketakutan tersebut membuat seseorang memilih tidak menyampaikan batasannya sama sekali.
Padahal, menetapkan batasan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Seseorang berhak menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanannya tanpa harus merasa bersalah.
Dr. Chandni Tugnait menegaskan bahwa menghilangkan kebiasaan meminta maaf secara berlebihan bukan berarti seseorang harus menjadi kurang perhatian atau tidak peduli terhadap perasaan orang lain.
Sebaliknya, proses tersebut berkaitan dengan membangun keyakinan bahwa keberadaan diri sendiri tidak perlu terus-menerus disertai permintaan maaf dan kamu berhak hadir, punya kebutuhan, menyampaikan pendapat, serta meminta sesuatu tanpa harus merasa bersalah.
(PRI)