FITNESS & HEALTH
Biar Gak Ketipu di Pasar! Ini Cara Bedain Beras Fortifikasi VS Biasa
Aulia Putriningtias
Senin 21 September 2026 / 12:28
- Beras merupakan salah satu bahan pangan pokok yang dikonsumsi sehari-hari.
- Beras yang beredar di pasaran tidak semuanya memiliki karakteristik yang sama.
- Sebelum kamu membeli beras, penting untuk tahu yang mana fortifikasi dan biasa.
Jakarta: Beras merupakan salah satu bahan pangan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Sebelum kamu membeli beras, penting untuk tahu yang mana fortifikasi dan biasa.
Beras yang beredar di pasaran tidak semuanya memiliki karakteristik yang sama. Selain beras biasa, ada pula beras fortifikasi yang mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses khusus.
Belakangan, beras fortifikasi menjadi perhatian setelah ditemukan produk yang menggunakan klaim fortifikasi tetapi kandungan gizinya disebut tidak sesuai dengan informasi pada kemasan. Kondisi ini membuat konsumen perlu lebih memahami perbedaan antara beras biasa dan beras fortifikasi.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan beras fortifikasi dengan beras biasa dan bagaimana cara mengenalinya? Inilah beberapa perbedaannya, antara lain:
Beras fortifikasi memiliki persyaratan kandungan zat gizi tertentu. Berdasarkan SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi, zat gizi yang menjadi bagian dari fortifikasi meliputi vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng.
Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi, vitamin B1 ditetapkan minimal 0,25 miligram. Asam folat berada pada kisaran 0,25–0,38 miligram, vitamin B12 sebesar 1–1,5 mikrogram, zat besi 3,50–5,25 miligram, serta seng 3–4,5 miligram.
Artinya, beras fortifikasi bukan sekadar beras yang diberi label "bergizi". Ada jenis dan jumlah zat gizi tertentu yang menjadi bagian dari standar.
Beras fortifikasi harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Salah satunya adalah SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi. Selain itu, terdapat SNI 9314:2024 yang mengatur kernel beras fortifikan, yaitu bagian yang digunakan dalam proses fortifikasi beras.
Karena itu, beras fortifikasi tidak hanya dinilai dari tampilan akhirnya. Namun, juga dari proses, bahan yang digunakan, kandungan zat gizi, mutu, keamanan, dan informasi pada label.
Beras fortifikasi merupakan beras yang mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses fortifikasi. Pada proses tersebut, beras dicampurkan dengan kernel beras fortifikan yang bentuknya dibuat menyerupai butiran beras dan telah diperkaya dengan vitamin serta mineral.
Kernel tersebut kemudian dicampurkan dengan beras sosoh dalam proporsi tertentu. Proses pencampuran dilakukan agar zat gizi tambahan dapat tersebar dalam produk.
Dengan demikian, perbedaan utama beras biasa dan beras fortifikasi bukan sekadar tampilan setelah dimasak, tetapi adanya tambahan vitamin dan mineral yang ditetapkan dalam standar beras fortifikasi.
Secara sederhana, beras biasa merupakan beras yang dikonsumsi sebagai pangan pokok tanpa proses penambahan zat gizi tertentu dengan tujuan fortifikasi.
Meski tidak difortifikasi, bukan berarti beras biasa tidak memiliki kandungan gizi. Kandungan zat gizinya tetap berasal dari beras itu sendiri dan dapat dipengaruhi oleh jenis, varietas, tingkat penggilingan, serta proses pengolahannya.
Jadi, istilah "beras biasa" tidak berarti beras tersebut tidak bergizi. Perbedaannya dengan beras fortifikasi terletak pada ada atau tidaknya penambahan zat gizi melalui proses fortifikasi.
Itulah beberapa perbedaan yang paling mendasar dari beras fortifikasi dan biasa.
Perbedaan utamanya bukan pada warna, bentuk, rasa, atau harga. Konsumen sebaiknya melihat adanya tambahan zat gizi, kandungan yang tercantum pada label, standar yang harus dipenuhi, serta kesesuaian informasi tersebut dengan produk sebenarnya.
(TIN)
Beras yang beredar di pasaran tidak semuanya memiliki karakteristik yang sama. Selain beras biasa, ada pula beras fortifikasi yang mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses khusus.
Belakangan, beras fortifikasi menjadi perhatian setelah ditemukan produk yang menggunakan klaim fortifikasi tetapi kandungan gizinya disebut tidak sesuai dengan informasi pada kemasan. Kondisi ini membuat konsumen perlu lebih memahami perbedaan antara beras biasa dan beras fortifikasi.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan beras fortifikasi dengan beras biasa dan bagaimana cara mengenalinya? Inilah beberapa perbedaannya, antara lain:
1. Zat gizi yang ditentukan
Beras fortifikasi memiliki persyaratan kandungan zat gizi tertentu. Berdasarkan SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi, zat gizi yang menjadi bagian dari fortifikasi meliputi vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng.
Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi, vitamin B1 ditetapkan minimal 0,25 miligram. Asam folat berada pada kisaran 0,25–0,38 miligram, vitamin B12 sebesar 1–1,5 mikrogram, zat besi 3,50–5,25 miligram, serta seng 3–4,5 miligram.
Artinya, beras fortifikasi bukan sekadar beras yang diberi label "bergizi". Ada jenis dan jumlah zat gizi tertentu yang menjadi bagian dari standar.
2. Ada standar khusus
Beras fortifikasi harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Salah satunya adalah SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi. Selain itu, terdapat SNI 9314:2024 yang mengatur kernel beras fortifikan, yaitu bagian yang digunakan dalam proses fortifikasi beras.
Karena itu, beras fortifikasi tidak hanya dinilai dari tampilan akhirnya. Namun, juga dari proses, bahan yang digunakan, kandungan zat gizi, mutu, keamanan, dan informasi pada label.
3. Ada tambahan vitamin dan mineral
Beras fortifikasi merupakan beras yang mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses fortifikasi. Pada proses tersebut, beras dicampurkan dengan kernel beras fortifikan yang bentuknya dibuat menyerupai butiran beras dan telah diperkaya dengan vitamin serta mineral.
Kernel tersebut kemudian dicampurkan dengan beras sosoh dalam proporsi tertentu. Proses pencampuran dilakukan agar zat gizi tambahan dapat tersebar dalam produk.
Dengan demikian, perbedaan utama beras biasa dan beras fortifikasi bukan sekadar tampilan setelah dimasak, tetapi adanya tambahan vitamin dan mineral yang ditetapkan dalam standar beras fortifikasi.
4. Beras biasa tak lewati fortifikasi
Secara sederhana, beras biasa merupakan beras yang dikonsumsi sebagai pangan pokok tanpa proses penambahan zat gizi tertentu dengan tujuan fortifikasi.
Meski tidak difortifikasi, bukan berarti beras biasa tidak memiliki kandungan gizi. Kandungan zat gizinya tetap berasal dari beras itu sendiri dan dapat dipengaruhi oleh jenis, varietas, tingkat penggilingan, serta proses pengolahannya.
Jadi, istilah "beras biasa" tidak berarti beras tersebut tidak bergizi. Perbedaannya dengan beras fortifikasi terletak pada ada atau tidaknya penambahan zat gizi melalui proses fortifikasi.
Itulah beberapa perbedaan yang paling mendasar dari beras fortifikasi dan biasa.
Perbedaan utamanya bukan pada warna, bentuk, rasa, atau harga. Konsumen sebaiknya melihat adanya tambahan zat gizi, kandungan yang tercantum pada label, standar yang harus dipenuhi, serta kesesuaian informasi tersebut dengan produk sebenarnya.
(TIN)