Beras menjadi salah satu bahan pangan pokok yang dapat difortifikasi dengan tambahan zat gizi tertentu. Foto: Pexels
Beras menjadi salah satu bahan pangan pokok yang dapat difortifikasi dengan tambahan zat gizi tertentu. Foto: Pexels

Beras Fortifikasi dan Beras Biasa, Apa Bedanya?

Muhammad Syahrul Ramadhan • 16 September 2026 14:09
Ringkasnya gini..
  • Beras fortifikasi merupakan beras yang mendapat tambahan zat gizi tertentu melalui proses fortifikasi.
  • Berbeda dengan beras biasa, beras fortifikasi memiliki kandungan gizi dari beras sekaligus zat gizi yang ditambahkan selama proses fortifikasi.
  • Beras fortifikasi dapat membantu meningkatkan asupan zat gizi tertentu, tetapi tetap perlu dikonsumsi bersama makanan beragam dan bergizi seimbang.
Jakarta: Beras merupakan salah satu bahan pangan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Selain beras yang umum ditemukan di pasaran, saat ini terdapat pula produk yang dikenal sebagai beras fortifikasi.

Sekilas keduanya terlihat sama. Namun, terdapat perbedaan pada proses dan kandungan gizinya.

Melansir dari laman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), fortifikasi pangan merupakan proses penambahan satu atau lebih zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral, ke dalam pangan. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai gizi pangan dan membantu memenuhi kebutuhan zat gizi masyarakat.

Lantas, apa perbedaan beras fortifikasi dengan beras biasa?

Apa Itu Beras Fortifikasi?

Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses fortifikasi.

Penambahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kandungan zat gizi pada beras. Jenis zat gizi yang ditambahkan dapat berbeda sesuai dengan standar dan tujuan fortifikasi pada produk tersebut.

Dengan demikian, kandungan gizi beras fortifikasi tidak hanya berasal dari beras itu sendiri, tetapi juga dari zat gizi yang ditambahkan selama proses fortifikasi.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, fortifikasi pangan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro di masyarakat.

Beras menjadi salah satu bahan pangan yang dapat dipilih sebagai media fortifikasi karena dikonsumsi secara luas dan menjadi bagian dari makanan sehari-hari.

Bagaimana dengan Beras Biasa?

Berbeda dengan beras fortifikasi, beras biasa tidak mendapatkan tambahan vitamin atau mineral melalui proses fortifikasi.

Kandungan gizinya berasal dari beras itu sendiri. Nilai gizi tersebut dapat berbeda tergantung varietas beras, tingkat pengolahan, serta jenis produk beras yang dikonsumsi.

Beras putih, misalnya, terutama dikenal sebagai sumber karbohidrat. Selain karbohidrat, beras juga memiliki kandungan zat gizi lain dalam jumlah tertentu.

Jadi, istilah “beras biasa” dalam konteks ini merujuk pada beras yang tidak mendapatkan penambahan zat gizi melalui proses fortifikasi.

Apa Perbedaan Keduanya?

Perbedaan paling mudah dilihat dari adanya tambahan zat gizi.

Beras fortifikasi mendapatkan tambahan vitamin atau mineral tertentu untuk meningkatkan kandungan gizinya. Sementara itu, beras biasa tidak mendapatkan tambahan tersebut melalui proses fortifikasi.

Meski begitu, beras fortifikasi bukan berarti dapat memenuhi seluruh kebutuhan vitamin dan mineral tubuh. Konsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang tetap diperlukan.

Karena itu, masyarakat dapat memperhatikan informasi komposisi dan nilai gizi pada kemasan ketika memilih produk beras. Dengan begitu, konsumen dapat mengetahui apakah produk yang dibeli merupakan beras yang telah difortifikasi atau tidak.

Pada akhirnya, perbedaan utama keduanya terletak pada proses fortifikasi. Beras fortifikasi mendapatkan tambahan zat gizi tertentu, sedangkan beras biasa tidak melalui proses penambahan zat gizi tersebut.
(Ellen Octovia Suherman)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>