FITNESS & HEALTH
Erupsi Gunung Anak Krakatau Bikin Pejuang Autoimun 'Ketar-ketir', Waspada Flare-up!
Mia Vale
Senin 07 September 2026 / 16:13
- Baru-baru ini, erupsi Gunung Anak Krakatau bikin heboh karena sebaran abunya meluas ke mana-mana.
- Buat orang biasa, abu vulkanik mungkin cuma bikin batuk atau mata perih. Tapi, buat para pejuang autoimun bisa memicu flare-up alias kambuh parah!
- Berikut adalah beberapa jenis penyakit autoimun yang paling gampang kena flare-up akibat paparan abu vulkanik.
Jakarta: Baru-baru ini, erupsi Gunung Anak Krakatau bikin heboh karena sebaran abunya meluas ke mana-mana, mulai dari Banten, Lampung, Jabodetabek, sampai Bandung.
Buat orang biasa, abu vulkanik mungkin cuma bikin batuk atau mata perih. Tapi, buat para pejuang autoimun, fenomena ini bener-bener jadi mimpi buruk yang bisa memicu flare-up alias kambuh parah!
Kenapa abu vulkanik ini serem banget buat autoimun? Menurut penjelasan dr. Adi Kurniawan, Sp.PD, K-AI, FINASIM, DABRM, abu vulkanik itu bukan debu biasa.
Isinya ada partikel kaca silika tajam dan gas korosif. Begitu terhirup, partikel mikro silika (PM2.5) ini nyampe ke alveolus paru-paru, bikin tubuh panik, memicu stres oksidatif, dan bikin sistem imun yang tadinya santai jadi 'salah arah dan brutal' menyerang jaringan tubuh sendiri.
Nah, berikut adalah beberapa jenis penyakit autoimun yang paling gampang kena flare-up akibat paparan abu vulkanik:
Odapus paling sensitif sama perubahan ekstrem. Paparan debu ini bisa bikin ruam kemerahan (butterfly rash) di kulit karena sifat abunya yang tajam.
Selain itu, lonjakan interferon-alpha (IFN alpha) bikin peradangan nyebar ke seluruh tubuh, micu nyeri sendi hebat, dan bikin badan gampang capek banget.
.jpg)
(Sistem imun tubuh penderita RA bakal menganggap partikel abu yang tajam sebagai ancaman besar. Respons imun yang overactive ini akhirnya bikin peradangan sendi makin 'menggila'. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Polusi udara dan PM2.5 dari abu vulkanik bikin peradangan di paru-paru yang nyebar lewat aliran darah. Akibatnya, sendi-sendi langsung ngadat, bengkak, kaku, dan nyeri parah karena lonjakan sitokin pro-inflamasi.
Abu vulkanik yang kaya mineral dan partikel kaca bisa bikin saluran napas iritasi parah, batuk-batuk, sampai memicu perburukan bagi yang punya riwayat asma atau PPOK.
PPOK adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis, yaitu kondisi peradangan jangka panjang pada paru-paru yang menyebabkan hambatan atau penyempitan aliran udara di saluran pernapasan.
Abu yang asam dan korosif bakal ngerusak skin barrier kulitmu. Efeknya bisa muncul fenomena Koebner, di mana lesi atau plak autoimun baru gampang banget nongol di area kulit yang iritasi.
Karena abu vulkanik sifatnya kering, kondisi ini bikin kelenjar air mata dan ludah makin menderita. Mata jadi merah, perih, berpasir parah, dan hidung serta tenggorokan kering kerontang karena kelembapan tersisa terserap habis.
- Sesak napas, batuk kering gak berhenti-berhenti, dan dada rasanya berat banget.
- Sendi mendadak kaku, nyeri, dan badan berasa linu parah.
- Demam ringan, brain fog (kepala rasanya lemot), sampai kelelahan ekstrem (extreme fatigue).
- Mata makin perih dan ruam di kulit makin meradang.
Melihat ancaman di atas, penting banget buat lebih aware dan ekstra jaga diri, ya, Bestie. Kalau gak penting-penting amat, mending kurangi aktivitas di luar ruangan demi kesehatan kita semua!
(TIN)
Buat orang biasa, abu vulkanik mungkin cuma bikin batuk atau mata perih. Tapi, buat para pejuang autoimun, fenomena ini bener-bener jadi mimpi buruk yang bisa memicu flare-up alias kambuh parah!
Kenapa abu vulkanik ini serem banget buat autoimun? Menurut penjelasan dr. Adi Kurniawan, Sp.PD, K-AI, FINASIM, DABRM, abu vulkanik itu bukan debu biasa.
Isinya ada partikel kaca silika tajam dan gas korosif. Begitu terhirup, partikel mikro silika (PM2.5) ini nyampe ke alveolus paru-paru, bikin tubuh panik, memicu stres oksidatif, dan bikin sistem imun yang tadinya santai jadi 'salah arah dan brutal' menyerang jaringan tubuh sendiri.
Nah, berikut adalah beberapa jenis penyakit autoimun yang paling gampang kena flare-up akibat paparan abu vulkanik:
1. Lupus (Systemic Lupus Erythematosus - SLE)
Odapus paling sensitif sama perubahan ekstrem. Paparan debu ini bisa bikin ruam kemerahan (butterfly rash) di kulit karena sifat abunya yang tajam.
Selain itu, lonjakan interferon-alpha (IFN alpha) bikin peradangan nyebar ke seluruh tubuh, micu nyeri sendi hebat, dan bikin badan gampang capek banget.
2. Rheumatoid arthritis (RA)
.jpg)
(Sistem imun tubuh penderita RA bakal menganggap partikel abu yang tajam sebagai ancaman besar. Respons imun yang overactive ini akhirnya bikin peradangan sendi makin 'menggila'. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Polusi udara dan PM2.5 dari abu vulkanik bikin peradangan di paru-paru yang nyebar lewat aliran darah. Akibatnya, sendi-sendi langsung ngadat, bengkak, kaku, dan nyeri parah karena lonjakan sitokin pro-inflamasi.
3. Interstitial lung disease (ILD)
Abu vulkanik yang kaya mineral dan partikel kaca bisa bikin saluran napas iritasi parah, batuk-batuk, sampai memicu perburukan bagi yang punya riwayat asma atau PPOK.
PPOK adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis, yaitu kondisi peradangan jangka panjang pada paru-paru yang menyebabkan hambatan atau penyempitan aliran udara di saluran pernapasan.
4. Psoriasis dan dermatomiositis
Abu yang asam dan korosif bakal ngerusak skin barrier kulitmu. Efeknya bisa muncul fenomena Koebner, di mana lesi atau plak autoimun baru gampang banget nongol di area kulit yang iritasi.
5. Sindrom sjogren (Sjogren's syndrome)
Karena abu vulkanik sifatnya kering, kondisi ini bikin kelenjar air mata dan ludah makin menderita. Mata jadi merah, perih, berpasir parah, dan hidung serta tenggorokan kering kerontang karena kelembapan tersisa terserap habis.
Tanda-tanda kalau tubuhmu mulai ngamuk (flare-up)
- Sesak napas, batuk kering gak berhenti-berhenti, dan dada rasanya berat banget.
- Sendi mendadak kaku, nyeri, dan badan berasa linu parah.
- Demam ringan, brain fog (kepala rasanya lemot), sampai kelelahan ekstrem (extreme fatigue).
- Mata makin perih dan ruam di kulit makin meradang.
Melihat ancaman di atas, penting banget buat lebih aware dan ekstra jaga diri, ya, Bestie. Kalau gak penting-penting amat, mending kurangi aktivitas di luar ruangan demi kesehatan kita semua!
(TIN)