Ilustrasi/Medcom
Ilustrasi/Medcom

80 Persen Penderita Autoimun Ternyata Wanita, Ini Penjelasan Pakar IPB

Citra Larasati • 03 Juli 2026 18:28
Ringkasnya gini..
  • Tren kasus autoimun global naik.
  • Di Asia Tenggara, 80 persen penderitanya adalah wanita karena faktor genetik dan hormon.
  • Kondisi ini terjadi karena imun serang sel sehat, stres, infeksi, hingga paparan UV bisa memicu gen autoimun jadi aktif.
Jakarta: Ancaman penyakit autoimun kini kian menjadi sorotan serius di dunia kesehatan global. Berdasarkan data The Lancet, tren penyakit seperti lupus, rheumatoid arthritis, hingga diabetes tipe 1 terus merangkak naik, menyerang sekitar 10 persen populasi dunia.
 
Namun yang mengejutkan, di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, prevalensi penderita autoimun mencapai 3 hingga 5 persen dari total penduduk. Dari angka tersebut, mayoritas atau sekitar 80 persen korbannya adalah wanita. Angka ini diprediksi akan terus membengkak seiring tingginya arus urbanisasi dan perubahan gaya hidup lingkungan.

Pengertian Autoimun 

Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menerangkan bahwa penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami "salah sasaran". Alih-alih melindungi, sistem imun justru memproduksi autoantibodi yang menyerang sel-sel sehat karena keliru mengenali antigen, yang berujung pada peradangan dan kerusakan organ vital.
 
“Secara umum, gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas,” jelas Ronny.

Hingga kini, tercatat lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang mengintai. Beberapa yang kerap ditemui antara lain rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, hingga vitiligo. Ada pula yang menyerang sistem pencernaan seperti crohn dan celiac, mengganggu hormon seperti diabetes tipe 1 dan graves, hingga merusak sistem saraf layaknya multiple sclerosis.

Mengapa Wanita Lebih Rentan?

Dominasi penderita wanita pada kasus autoimun bukanlah tanpa alasan. Kajian Ronny membeberkan bahwa wanita memiliki kerentanan lebih tinggi akibat kombinasi faktor genetik, hormon (estrogen dan progesteron), dan sistem imunologis itu sendiri. Kendati sistem imun yang tangguh mutlak diperlukan wanita untuk melindungi fase kehamilan, pedang bermata dua ini justru membuat tubuh mereka lebih rawan diserang dari dalam.
 
Terkait kekhawatiran apakah penyakit ini otomatis menurun ke anak, Ronny meluruskan miskonsepsi tersebut. “Autoimun tidak langsung diwariskan kepada anak, tetapi ada predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mereka, selain faktor lingkungan. Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan,” kata Ronny.
 
Genetik yang rentan pun tidak serta-merta selalu aktif. Ronny memaparkan ada peran besar lingkungan melalui mekanisme epigenetik, seperti proses metilasi DNA, yang bisa menekan tombol 'on' atau 'off' pada gen pembawa autoimun tersebut.
 
“Sebagai contoh, seseorang yang memiliki gen HLA tertentu mungkin tidak akan sakit tanpa adanya infeksi yang memicu. Begitu pula, wanita yang berpotensi terkena lupus bisa mengalami flare setelah terpapar sinar ultraviolet (UV) atau mengalami tekanan mental,” jelasnya.
 
Oleh karena itu, bagi mereka yang telah terdiagnosis autoimun, rutinitas berkonsultasi dengan dokter reumatologi dan imunologi adalah hal wajib. Terapi medis yang diberikan akan disesuaikan, mulai dari obat antiinflamasi non-steroid (NSAID), kortikosteroid, hingga suntikan insulin bagi penderita diabetes tipe 1. Namun, intervensi medis saja tidak cukup tanpa komitmen mengubah kebiasaan.
 
“Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Selain itu, Langkah kecil ini membantu merasa lebih baik tiap hari,” pungkas Ronny.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA